PGN Usulkan Insentif Pelanggan Gas Rumah Tangga

IN
Oleh inilahcom
Kamis 28 Januari 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mengusulkan adanya insentif untuk gas bumi bagi pelanggan golongan rumah tangga, sehingga bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Direktur Utama PGN, Suko Hartono mengatakan, insentif penurunan harga jual gas telah dirasakan konsumen industri, dengan menikmati harga gas bumi di bawah USD6 per MMBTU. "Penurunan harga gas di hulu. karena tadi di sektor industri tertentu aja USD 4 per MMBTU, " kata Suko, saat rapat dengan Komisi VII DPR, di Jakarta, Rabu (27/1/2021).

Menurut Suko, PGN juga ingin insentif penurunan harga gas bisa dirasakan pelanggan rumah tangga melalui program PGN Sayang Ibu. Saat ini harga jual gas dari hulu untuk pelanggan rumah tangga sebesar USD 4,27 per MMBTU, dia pun mengusulkan menjadi USD 2 per MMBTU. "Terakhir dukungan yang kami harapkan untuk PGN Sayang Ibu masalah rumah tangga gas hulunya USD 4,72 kami harapkan harganya jadi USD 2 karena ini bener-bener ke rakyat," tuturnya.

"Kalau melihat program Sayang Ibu, itu sangat menarik. Akan bisa menghemat dan dalam situasi ekonomi yang berat saat ini bisa meringankan bebarn. Jargas menjadi prioritas utama untuk masa yang akan datang," kata Sartono salah satu anggota Komisi VII DPR.

Untuk program jargas sampai tahun 2024, PGN menargetkan dapat membangun sekitar 1,2 juta sambungan rumah tangga. Di mana skema pendanaannya menggunakan dana APBN dan investasi mandiri PGN. Sumber gas LNG dan CNG akan diptimalkan agas dapat memenuhi kebutuhan gas di sektor rumah tangga, khususnya untuk skema jargas mandiri. "Tidak seluruh wilayah di Indonesia ini mendapatkan kesempatan menikmati jargas. Mari kita tingkatkan wilayah-wilayah untuk bisa menikmati jargas," kata Dyah Roro Esti, anggota Komisi VII DPR.

Menurutnya, jargas merupakan solusi tersendiri khususnya untuk mengganti LPG dan dalam rangka mengurangi impor gas. "Saya melihat PGN sebagai badan usaha harus mengambil terobosan yang tidak disubsidi, terutama jaringan gas di perumahan mewah. Kalau tidak, cash flow PGN akan susah," imbuh Ridwan Hisyam.

Terkait dengan program jaringan gas (jargas) harga rumah tangga, PGN menargetkan penambahan setiap tahunnya, pada 2021 ditargetkan mencapai 230.776 sabungan rumah tangga (SR), 2022 bertambah sebanyak 1,2 8 juta SR, 2023 bertambah sebanyak hingga 1,2 juta, dan pada 2024 bertambah sebanyak 1,2 juta SR.

kebijakan penetapan harga gas dengan pelanggan industri tertentu tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 8 Tahun 2020, Keputusan Menteri ESDM No.89K/10/MEM/2020, juga masih berlangsung. Realisasi penyerapan gas bumi hingga saat ini 240 BBTUD baru sekitar 64,14 persen dari total alokasi yang diberikan PGN.374 BBTUD.

PGN berharap industri melalui Kementerian Perindustrian dapat mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi sesuai alokasi. "Karena faktanya sampai hari ini temen-temen industri belum dimanfaatkan secara maksimal sesuai alokasi," ujar dia.

Suko juga meminta agar pemerintah dapat memberikan relaksasi berupa take or pay pasokan gas dari hulu. Hal ini mengingat terjadi penurunan demand produsen yang menggunakan sumber gas perusahaan.

Kemudian ia juga meminta pemberian kompensasi secara cash khususnya untuk BUMN penerima penugasan sebagaimana diatur dalam pasal 66 UU BUMN pasal 120 UU Cipta Kerja. "Sedang kami diskusikan dengan BUMN dan kementerian teknis," tutupnya dia.

Pimpinan rapat Wakil Ketua Komisi VII DPR, Eddy Soeparno meyakini, PGN telah memiliki rencana pengembangan bisnis, sehingga perlu melaporkan ke komisi."Sudah barang tentu PGN memiliki catatan berharga untuk strategi planing program kerja 2021, termasuk potensi, kendala, hambatan yang ada dan dukungan solusi yang diharapkan dari Komisi VII," ujarnya.

Dia menambahkan, pada 2020 merupakan tahun yang berat bagi pelaku industri termasuk industri migas, akibat pandemi Covid-19. "Tahun 2020 telah kita lalui dengan tekanan pandemi yang tidak ringan dampaknya dalam pengelolaan bisnis gas bumi," tutupnya. [tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA