2020 Sempat Babak Belur, 2021 Bos GAPKi Optimis

IN
Oleh inilahcom
Kamis 04 Februari 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Tahun ini, industri sawit yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) merasa lebih optimistis dengan situasi ekonomi. Ada tiga fokus utama yang bakal digarap.

Dalam pers conference secara virutal, Jakarta, Kamis (4/2/2021), Ketum Gapki, Joko Supriyono menyebut adanya tiga isu utama yang menjadi prioritas Gapki. Yakni, penerapan dan pengawalan Implementasi Undang-undang Cipta Kerja (UUCK) dan Peraturan Perundangan turunannya; penguatan penerapan sustainability, melalui percepatan dan penyelesaian sertifikat ISPO bagi anggota Gapki; dan penguatan Kemitraan untuk Peningkatan Percepatan Percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Dia bilang, pada 2020 muncul optimisme dari industri sawit karena pada Desember 2019 harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) cif Rotterdam, menclok di level US$787/ton. Padahal, pada Agustus 2019, harga CPO masih US$542/ton. Sepanjang Januari-Agustus 2019, harga rata-rata CPO menyentuh US$524/ton.

Selanjutnya periode Januari-Mei 2020, harga CPO menjadi US$526/ton. "Pemicunya, permintaan China mulai menurun karena pengaruh Covid-19. Terjadi tekanan pasokan kedelai ke China, karena perang dagang dengan AS. Ditambah musim panen kedelai di Brazil. Faktor lainnya adalah anjloknya harga minyak bumi hingga US$27 per barel," tutur Joko.

Pada Mei 2020, jelas pria yang hobi Wayang Kulit ini, permintaah China pulih. Sejak itu, impor China akan oilseed dan minyak nabati, naik signifikan. "Hal ini mendorong harga minyak nabati naik, termasuk CPO," paparnya.

Yang menggembirakan, kata dia, pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Agustus 2020 terkait komitmen Indonesia untuk terus melaksanakan program biodiesel dalam negeri ikut mempertahankan tren naik harga minyak nabati.

"Harga yang baik pada awal 2020, memungkinkan pekebun memupuk dan memulihkan kebunnya sehingga dengan didukung cuaca yang mendukung terjadi kenaikan produksi CPO & PKO rata-rata Januari-Juni 2020 sebesar 3.917 ribu ton," paparnya.

Selanjutnya terkerek menjadi 4.680 ribu ton untuk rata-rata Juli-Desember 2020. Bersamaan dengan kenaikan tersebut, harga CPO dan minyak nabati naik dari rata-rata US$646/ton di semester I-2020 menjadi US$775/ton pada semester II 2020.

Di dalam negeri, kebijakan pembatasan skala besar (PSBB) akibat Covid-19 menyebabkan penurunan konsumsi untuk pangan turun pada 2020 dari 801 ribu ton pada Januari menjadi 638 ribu ton pada Juni 2020.

Pelonggaran pembatasan menaikan kembali ke 723 ribu ton pada Desember 2020. Konsumsi untuk oleokimia naik terus karena meningkatnya konsumsi sabun dan bahan pembersih dari 89 ribu ton pada Januari menjadi 197 ribu ton pada Desember 2020.

Konsumsi untuk biodiesel naik dibandingkan 2019 karena perubahan kebijakan dari B20 menjadi B30. Secara total pada 2020, konsumsi produk minyak sawit dalam negeri 17,35 juta ton naik 3,6% dari tahun 2019 sebesar 16,75 juta ton.

Akibat dari situasi pandemi yang berdampak global, performa volume ekspor minyak sawit Indonesia pada 2020 dengan total ekspor 34,0 juta ton bergeser turun dibandingkan dengan performa 2019 dengan total ekspor sebesar 37,39 juta ton. Penurunan terbesar terjadi ke China (-1,96 juta ton), ke EU (-712,7 ribu ton), ke Bangladesh (-323,9 ribu ton), ke Timur Tengah (-280,7 ribu ton), dan ke Afrika (-249,2 ribu ton) sedangkan ke Pakistan naik (+275,7 ribu ton) dan ke India naik 111,7 ribu ton.

Meskipun terjadi penurunan volume ekspor, secara nilai, ekspor tahun 2020 yang mencapai US$22,97 miliar lebih tinggi sejak 2019 sebesar US$20,22 miliar. "Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa di masa pandemi, kontribusi minyak sawit terhadap devisa negara sangat signifikan dalam menjaga neraca perdagangan nasional tetap positif," pungkas Joko. [ipe]


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA