Jelang Referendum IE-CEPA

Presiden Swiss Kampanye RI Mitra Penting di Asia

IN
Oleh inilahcom
Jumat 12 Februari 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Referendum nasional Swiss untuk Indonesia EFTA CEPA (IE CEPA) tinggal 25 hari lagi. Pihak penentang dan pendukung IE CEPA sibuk melakukan kampanye dalam berbagai bentuk.

Pergerakan kubu yang pro maupun kontra, cukup dinamis. Mereka aktif melakukan kampanye melalui tulisan di media, webinar, konferensi pers, pernyatan di medsos dan lainnya.

Dan, Presiden Swiss yang juga merangkap Menteri Ekonomi Swiss, Guy Parmelin memimpin langsung kegiatan kampanye yang mendukung IE CEPA. Dalam setiap kesempatan kampanye atau debat publik, dia menegaskan bahwa Indonesia adalah salah satu negara Asia yang memiliki potensi ekonomi besar dan mitra penting bagi Swiss.

Presiden Swiss ini juga mengatakan, Swiss memerlukan mitra ekonomi seperti Indonesia yang memiliki potensi dagang dan investasi yang sangat besar.

Di sisi lain, Kedutaan Besar RI (KBRI) Bern terus menerus melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak terkait, terutama Pemerintah Swiss serta asosiasi bisnis guna memberikan informasi lebih detil dan lengkap mengenai kemajuan aspek sustainability dalam pengelolaan sawit di Indonesia.

Dalam webinar terbaru yang diadakan KBRI Bern bersama Kadin Saint Gallen, kanton di wilayah timur Swiss. Kegiatan ini bekerja sama dengan Economiesuisse, asosiasi pengusaha terbesar di Swiss. Lebih dari 100 peserta sebagian besar pengusaha serta kalangan lain di Swiss ikut dalam diskusi tersebut.

Kesimpulan dari webinar ini, bahwa IE CEPA sangat penting bagi perekonomian Swiss dan Indonesia. Dalam masa krisis akibat pandemi COVID-19 ini, perlu ada terobosan baru untuk meningkatkan perdagangan dan investasi kedua negara. Dan, IE CEPA merupakan salah satu kesempatan yang harus dimanfaatkan.

Sebelumnya, KBRI Bern mengadakan kegiatan serupa bersama Kadin Jenewa, Swiss Asian Chamber of Commerce di Zurich; serta Kadin Basel di wilayah utara Swiss. Langkah ini untuk menggalang kekuatan yang mendukung IE CEPA.

Berbagai informasi dan data terkini, terkait pengelolaan sawit di Indonesia, telah disampaikan pihak KBRI Bern kepada berbagai pihak di Swiss.

Langkah ini untuk menepis segala rumors negatif yang selalu dikampanyekan kelompok penentang IE CEPA. Di mana, mereka terus menyerang minyak sawit Indonesia dengan isu-isu negatif.

Bahkan, KBRI Bern meluncurkan sebuah blog Palm Oil Indonesia berbahasa Inggris, Jerman dan Perancis, namanya indonesiainswiss.com. Blog ini telah tersebar ke berbagai kalangan di Swiss atas bantuan Economiesuisse dan SECO.

Para pendukung IE CEPA terus memberikan masukan guna memperbaiki konten blog tersebut. Selain itu, universitas terkemuka di Swiss yaitu ETH Zurich yang memiliki program palm oil Indonesia, memuat sejumlah artikel dan wawancara dengan media setempat.

Sejumlah peneliti dan guru besar di universitas ini, menyatakan bahwa program sustaimability di Indonesia harus didukung untuk memproduksi minyak sawit yang berkelanjutan. Di mana, kebutuhan minyak sawit yang merupakan bagian dari sebagian besar produk makanan, tidak bisa digantikan oleh minyak nabati lainnya.

Disamping kegiatan kampanye yang silih berganti dari kedua kubu, pihak media setempat juga sibuk mengadakan jajak pendapat publik atas IE CEPA. Dengan jumlah responden sekitar 15 ribu berdasarkan variabel demografi, geografi, and politik hasil sementara masih didominasi oleh pendukung IE CEPA, namun terdapat 13% responden yang belum bersikap dan akan menjadi swing voters dalam perkembangan nanti.

Duta Besar RI Bern, Muliaman D Hadad dalam beberapa pertemuan, menyatakan, IE CEPA akan membawa peluang besar untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua pihak. "Tanpa IE CEPA saja, Indonesia sudah surplus USD 2,2 milyar dalam perdagangan bilateral dengan Swiss tahun 2020" ujar Muliaman.

Jumlah ini diperkirakan akan melonjak apabila IE CEPA mulai diberlakukan. Di mana, lebih dari 90% tarif masuk untuk produk Indonesia ke Swiss, bakal dikurangi. Dan, Indonesia lebih dahulu menyelesaikan CEPA dengan Swiss dan negara anggota EFTA lainnya, dibandingkan Vietnam dan Malaysia yang masih dalam tahap negosiasi. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA