Meski Ada COVID-19, Kinerja Bank Mega Tetap Ciamik

IN
Oleh inilahcom
Rabu 17 Februari 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang 2020, PT Bank Mega Tbk (Bank Mega) mencatat laba setelah pajak sebesar Rp3,01 triliun. Laba tumbuh 50% dibandingkan 2019 yang mencapai Rp2 triliun.

Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib mengatakan, meski pandemi COVID-19, kinerja perseroan tetap mumpuni. "Hasilnya, Bank Mega tetap tumbuh secara signifikan dan berkesinambungan bahkan indikator utama keuangan berada di atas rata-rata industri," kata Kostaman, Jakarta, Rabu (17/2/2021).

Pertumbuhan laba diperoleh dari pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NIM) yang naik 9% menjadi Rp3,9 triliun dibandingkan 2019 yang mencapai Rp3,58 triliun. Selain itu, fee based income naik 26% menjadi Rp2,9 triliun, dari Rp2,3 triliun pada 2019.

Ia menambahkan, total aset Bank Mega mencapai Rp112,2 triliun atau naik 11 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp100,8 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) naik sembilan persen menjadi Rp79,19 triliun dari 2019 sebesar Rp72,8 triliun. "Dari sisi komposisi, deposito masih mendominasi Dana Pihak Ketiga yaitu sebesar 72 persen, disusul oleh tabungan sebesar 17 persen dan giro sebesar 11 persen," ungkapnya.

Menurut Kostaman, kelesuan ekonomi yang disebabkan pandemi COVID-19, mengakibatkan kredit kepada pihak ketiga, tumbuh minus 6% menjadi Rp48,5 triliun. Kredit korporasi masih tumbuh positif dibandingkan segmen lainnya, yaitu 55% menjadi Rp26,2 triliun.

Selanjutnya, bank kebanggaan Konglomerat Chairul Tanjung ini, berhasil mengendalikan beban operasional. Alhasil, tercipta perbaikan atas Rasio Beban Operasional dibandingkan Pendapatan Operasional (BOPO) menjadi 65,9% dibanding 2019 sebesar 74,10%. "Hal ini merupakan merupakan dampak dari inovasi digital dan otomasi yang telah diberlakukan sejak dua tahun terakhir, baik untuk back office maupun front office," jelas dia.

Untuk permodalan, Bank Mega mencatat rasio permodalan (CAR) sebesar 31,04 persen, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 23,68 persen. Menurutnya, rasio permodalan yang kuat merupakan hal penting untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. [tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA