Fenomena Hujan Es di Bali, Ini Penjelasan BMKG

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 27 Februari 2021
share
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Denpasar - Warga ramai memperbincangkan soal adanya fenomena hujan es di Kelurahan Kubu, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.


Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar Iman Faturahman menjelaskan, fenomena hujan es itu disebabkan adanya dampak awan hitam (Cumulonimbus/CB).

"Memang benar salah satu dampak adanya awan CB adalah terbentuknya hujan es. Kalau kita lihat di peta ada awan yang warna merah di Bali bagian tengah (Bangli), dan data itu terjadi pukul 13.40 WITA," katanya saat dikonfirmasi di Denpasar, Bali, Jumat malam (26/2/2021).

Terjadinya hujan lebat atau es disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat, di mana satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah.

Kondisi udara yang terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (> 4.5Celcius) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60 persen).

Kemudian, mulai pukul 10.00 WITA terlihat tumbuh awan cumulus (awan putih berlapis - lapis), di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu - abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

Selanjutnya, awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu - abu / hitam yang dikenal dengan awan Cumulonimbus.

"Lalu, pohon-pohon di sekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat. Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba - tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita," katanya.

Jika dalam 1 - 3 hari berturut - turut tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/penghujan, kata Iman Faturahman, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.

Sedangkan, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangli I Ketut Agus Sutapa berujar, fenomena hujan es sudah tejadi sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2012, 2016 dan 2021 ini.

Awalnya ada muncul awan hitam agak pekat, kemudian turun hujan gerimis disertai angin. Setelah itu turun hujan deras disertai partikel yang mirip es.

"Tidak sampai mempengaruhi aktivitas karena kejadian cukup singkat. Ini masyarakat cukup heran terhadap fenomena ini," tutupnya. [wll]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA