https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   09 March 2021 - 06:29 wib

Swiss Tidak Benci Sawit Indonesia, Ini Kata Dubes

berita-profile

Inilah

0

0

INILAHCOM, Jakarta - Kompetisi antara pendukung dan penentang perjanjian dagang IE-CEPA (Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreements), berakhir. Pemenangnya yang pro.  

Berdasarkan hasil referendum yang digelar 7 Maret 2021, sebagian besar masyarakat Swiss, mendukung kerja sama perdagangan IE-CEPA dengan Indonesia. Di mana, kemenangan tipis sekali, yakni 51,7% lawan 48,3%. Hasil, disambut gembira kalangan pelaku usaha termasuk Pemerintah Swiss.

Selisih yang tipis ini, menunjukkan betapa sukarnya merubah opini publik yang sudah terlanjur negatif terhadap  minyak kelapa sawit (palm oil) di Swiss dan Eropa pada umumnya. Namun demikian, pihak dunia usaha, Pemerintah Swiss dan pendukung lainnya memetik hasilnya setelah perjuangan berat selama berbulan-bulan berkampanye.

Wilayah atau kanton yang paling banyak memiliki pendukung IE CEPA adalah wilayah yang berbahasa Jerman dan Italia. Hal ini karena sebagian besar sentra industri Swiss berada di wilayah ini. Seperti diketahui dunia usaha dan sektor industri adalah pendukung IE CEPA.

Sedangkan wilayah penentang adalah yang berbahasa Perancis. Di mana, sebagian besar penduduk bergantung kepada hasil pertanian.

Dalam konperensi pers pengumuman hasil referendum, Presiden Swiss Guy Parmelin menyatakan, hal ini merupakan yang pertama kalinya bagi Swiss untuk memiliki kerja sama ekonomi terpadu yang berkomitment terhadap aspek sustainability. Di mana, Swiss menganggap telah mencapai kemajuan besar telah memasukan isu lingkungan dalam perjanjian bilateral.

Sedangkan, Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman D Hadad mengatakan, bahwa ini adalah awal dari sebuah perjalanan untuk memanfaatkan kesempatan besar dalam IE CEPA. “Kita harus dapat memanfaatkan perjanjian semaksimal mungkin untuk kepentingan nasional” ujar Muliaman.

Masuknya isu sustainability dalam IE CEPA, menurut Muliaman, bakal mendorong kemajuan penerapan aspek berkelanjutan di Indonesia, khususnya untuk minyak sawit. “Aspek sustainability harus menjadi perhatian dalam mengembangkan industri pertanian dan sektor lainnya guna menjaga kepercayaan publik internasional akan komitmen Indonesia di sektor ini” tambah Muliaman.

Informasi saja, Swiss mengimpor hanya 19 ribu ton minyak sawit pada 2020. Sebagian besar berasal dari Pantai Gading, Malaysia dan kepulauan Solomon. Sedangkan minyak sawit Indonesia yang dikirim ke Swiss hanya 124 ton pada 2020.

Dalam IE CEPA, Indonesia mendapat kuota untuk mengekspor 10 ribu ton minyak sawit ke Swiss, Dan, bisa meningkat setiap tahunnya. Swiss menyatakan akan membantu penguatan standar minyak sawit berkelanjutan Indonesia (ISPO) karena setelah IE CEPA berlaku maka minyak sawit yang bersertifikasi sustainability yang bisa masuk pasar Swiss.

Kemenangan IE CEPA ini akan membawa dampak positif pada perjuangan minyak sawit Indonesia di wilayah lain terutama Uni Eropa. Hasil referendum di Swiss ini akan mempengaruhi opini publik Eropa mengenai minyak sawit Indonesia.

"Citra baru untuk minyak sawit Indonesia yang sustainable harus dapat kita manfaatkan untuk menunjukkan berbagai perbaikan yang dilakukan dalam standar minyak sawit berkelanjutan di Indonesia,” papar Muliaman.

"Apa yang terjadi di Swiss hari ini dapat memberikan dampak positif dalam proses perundingan CEPA Indonesia dengan pihak lain," pungkas Muliaman.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan