https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   09 March 2021 - 16:54 wib

Polling: 85% Netizen Menunggu Aksi Kawal Demokrasi

berita-profile

Inilah

0

0

INILAHCOM, Jakarta - Netizen gerah melihat kesewenang-wenangan upaya merampas kepemimpinan Partai Demokrat yang dilakukan oleh pejabat negara dan pembiaran yang dilakukan pihak-pihak yang berwenang.

Kekesalan ini diekspresikan dalam polling Twitter yang dilakukan akun @info_jakarta, Senin (8/3/2021). Deputi Strategi dan Kebijakan Balitbang DPP Partai Demokrat, Yan Harahap mengungkapkan. polling tersebut diikuti hampir 60 ribu netizen. "Hasilnya, 85% netizen setuju rakyat bergerak selamatkan demokrasi," kata Yan.

Yan melihat, masyarakat sudah mulai jengah dengan pembiaran atas kesewenang-wenangan ini, meskipun Presiden Jokowi diberitakan (5/2/2021), menegur Kepala KSP Moeldoko atas ulahnya mencampuri urusan internal Partai Demokrat. "Entah teguran Presiden dianggap angin lalu, atau ada tendensi pembiaran, gerakan pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat berjalan terus," gugat Yan, "Ini memuncak pada tanggal 4 Maret, saat sekelompok mantan kader yang dipecat nekat menyelenggarakan Kongres Luar Biasa yang ilegal di Deli Serdang, Sumatera Utara. Mudah ditebak, Moeldoko dijadikan Ketua Umum meski tidak hadir saat penunjukkan."

KLB ini, diwarnai sedikit adu jotos ketika ratusan orang tak dikenal tiba-tiba menyerbu serta memukuli para kader Partai Demokrat yang memprotes penyelenggaraan KLB ilegal. Dan, Moeldoko baru datang pada malam harinya, mengenakan jaket Demokrat meski tidak punya KTA Demokrat.

Yan juga mengungkapkan dalam jajak pendapat lain yang juga diselenggarakan akun @info_jakarta (8/3), sebanyak 87% dari 60 ribu netizen yang memberi suara, berpendapat tidak setuju persoalan pencaplokan kepemimpinan ini merupakan masalah internal PD.

Ketika ditanya apakah mereka yakin Pemerintah akan bersikap adil, 86% netizen tidak percaya bahwa Pemerintah bisa adil dalam hal ini, apalagi mengingat Partai Demokrat tidak berada dalam koalisi pemerintahan.

Yan mengingatkan, pemerintah jangan sepele aspirasi yang menggambarkan kegelisahan publik ini. "Jangan-jangan situasinya seperti api dalam sekam. Di permukaan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tapi di bawah permukaan ada gejolak yang membara," pungkasnya.

Yan mengingatkan, pada September lalu ribuan masyarakat, termasuk anak-anak muda, turun ke jalan di Jakarta, Jogja, Makassar dan kota-kota lain memprotes RUU Ciptaker. Yang ditandai walk-outnya Fraksi Partai Demokrat sebagai tanda protes. Ini tercatat sebagai unjuk rasa terbesar sejak era reformasi. Pada 2019, revisi RUU KPK juga mengundang ribuan orang turun ke jalan di berbagai kota.

Yan berharap, pemerintah bisa bersikap adil dan rasional dalam memutuskan kasus KLB ilegal yang merupakan perampasan parpol yang sah. "Pemerintah harus menolak hasil KLB ilegal ini untuk menjaga kepastian hukum dan kestabilan politik keamanan," imbau Yan, "Lebih baik kita mengkonsentrasikan energi dan waktu bangsa untuk mengatasi krisis berganda kesehatan dan ekonomi yang sedang kita alami. Jangan sampai rakyat terdorong untuk turun ke jalan lagi ketika saluran-saluran aspirasi mereka macet."

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan