https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   09 March 2021 - 20:13 wib

Non ASN Tak Daftar BPJS, Kepala Daerah Langgar UU

berita-profile

Inilah

0

0

INILAHCOM, Surabaya - Ombudsman RI meminta kepala daerah di Jawa Timur untuk segera mendaftarkan pegawai non-ASN (Aparatur Sipil Negara) ke BPJS Ketenagakerjaan. Karena itu perindah undang-undang.
 
Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan, hanya tiga dari total 38 pemkab/pemkot di Jawa Timur yang mendaftarkan seluruh pegawai non-ASN. Yakni, Pemkot Surabaya, Pemkab Sidoarjo, dan Pemkot Madiun.

"Mereka (kepala daerah) menyadari betapa pentingnya kepesertaan pegawai non-ASN di BPJS Ketenagakerjaan sehingga kalau misalnya terjadi kecelakaan kerja, peserta (pegawai non-ASN) dapat menikmati hak-haknya," kata Kepala Perwakilan Ombudsman RI Jawa Timur, Agus Muttaqin setelah menerima kunjungan pimpinan dan jajaran BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur di kantornya, kawasan Ngagel Timur, Surabaya, Selasa (9/3/2021).

Agus yang didampingi Kepala Keasistenan Pencegahan Maladministrasi, Muflihul Hadi, mebeberkan ilustrasi BPJS Ketenagakerjaan kepada Ombudsman Jawa Timur, bahwa pemda hanya perlu membayar sekitar Rp13 ribu per pegawai non-ASN per bulan, atau setara 0,54% dari total gaji.
Dan, apabila terjadi kecelakaan kerja, pegawai tersebut berhak atas jaminan minimal Rp42 juta.

Di Jawa Timur, total ada puluhan ribuan pegawai non-ASN. Di Pemprov Jatim saja, ada sebanyak 30.335 pegawai non-ASN yang terdiri dari pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), guru tidak tetap (GTT)/pegawai tidak tetap (PTT) di SMA-SMK, honorer K-2, dan pegawai badan layanan umum daerah (BLUD). Jumlah itu belum termasuk puluhan ribu pegawai non-ASN di kabupaten/kota.

Menurut Agus yang mantan wartawan senior sebuah koran ternama di Jawa Timur ini, pemda tidak perlu khawatir terhadap pengelolaan dana di BPJS Ketenagakerjaan. Karena BPJS Ketenagakerjaan berada langsung di bawah presiden sehingga akuntabilitas penggunaan anggaran dapat dipertanggungjawabkan.

"Dengan terdaftar sebagai peserta, BPJS Ketenagakerjaan akan menanggung hingga sembuh untuk pengobatan akibat kecelakaan kerja, tidak ada batas biaya lagi, hanya berdasarkan resume medik," kata Cak AGM, sapaan akrabnya.

Dia mengaku sangat miris jika mendapati pengaduan pegawai non ASN yang mengalami kecelakaan dalam bekerja, tapi membiayai sendiri untuk biaya pengobatannya hingga sembuh. Bahkan tidak ada santunan jika cacat dan lain-lainya.

Di tempat sama, Deputi Direktur Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur, Deny Yusyulian mengatakan, pemda wajib mendaftarkan kepesertaan setiap pegawai non-ASN dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan.

Hal itu sesuai amanat UU No 40 Tahun 2004 tentang Sisten Jaminan Sosial Nasional (SJSN), UU No 24 Tahun 2011 tentang BPJS, dan Peraturan Presiden (Perpres) No 109/2013 tentang Penahapan Kepesertaan Program Jaminan Sosial.

Kata Deny, sesuai pasal 5 ayat (3) Perpres No 109, penahapan dimulainya pendaftaran bagi pekerja yang bekerja pada pemberi kerja penyelenggara negara, dilakukan untuk program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) paling lambat 1 Juli 2015, termasuk bagi pegawai non-ASN.

Hanya saja, lanjut Deny, mayoritas kepala daerah mengabaikan ketentuan tersebut sehingga hanya beberapa pemda yang mendaftarkan kepesertaan pegawai non-ASN-nya. ‘’Padahal, kami sudah berkali-kali berkoordinasi dengan kepala daerah, termasuk melalui penandatanganan MoU,’’ jelas Deny. [ipe]

 

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Kanal

Kemnaker-BPJAMSOSTEK Sosialisasi Program bagi Pekerja Seni Debus Banten

Pemerintah terus menggencarkan sosialisasi program terutama kepada pekerja sektor informal atau peke
berita-headline

Viral

Rayakan Harpelnas, Direksi BPJAMSOSTEK Terjun Langsung Beri Pelayanan

Merayakan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) jajaran direksi dan