Jurus Pentahelix Demi Target Sejuta Barel di 2030

IN
Oleh inilahcom
Kamis 18 Maret 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Strategi kolaborasi lima pilar atau Pentahelix yakni pemerintah, kampus, komunitas, industri dan media, menjadi kunci tercapainya target produksi migas 1 juta barel per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari pada 2030.

"Dengan strategi pentahelix yang melibatkan kolaborasi Pemerintah baik Pemerintah Pusat di Kementrian atau Lembaga Negara, Pemerintah Daerah, kalangan akademisi, para pelaku usaha dan juga yang media maka kami optimis mampu mencapai target produksi 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari tahun 2030," ujar Bambang Dwi Djanuarto, Spesialis Pratama Dukungan Bisnis Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam Webinar Forum Jurnalis Jakarta, Kamis (18/3/2021).

SKK Migas dan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) telah membangun program kolaborasi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Dearah, menjalin kerjasama dengan Perguruan Tinggi, membangun hubungan baik dengan komunikas, berkomunikasi dan bekerja bersama pelaku usaha dan menjalin kerjasama baik dengan media dengan tujuan semua pihak memiliki visi yang sama dalam untuk mencapai target produksi 1 juta barel minyak dan produksi gas sebesar 12 miliar per hari kaki kubik tahun 2030. "Kami berharap semua pilar dalam strategi pentahelix tersebut akan saling berkolaborasi dengan tujuan yang sama," lanjutnya.

Ketua Forum Jurnalis Jakarta, Ahmad Yusrizal mendukung strategi pentahlix untuk mengawal target produksi minyak dan gas nasional tersebut, "kami mendukung kolaborasi multi stakeholders melalui penerapan pentahelix strategi untuk mengawal produksi 1 juta barel minyak dan 12 miliar kaki kubik gas per hari tahun 2030. Target tersebut sangat realistis dan dapat dicapai dengan kolaborasi berbagai pihak," ujarnya.

Selain itu, diharapkan tidak hanya produksi minyak dan gas bumi yang meningkat tapi juga energy alternative lain juga dapat meningkat untuk dapat memenuhi kebutuhan energi nasional kedepan. "Produksi minyak dan gas harus naik, produksi energy alternative seperti energy baru dan terbarukan juga harus naik jadi tidak ada yang perlu saling mengurangi produksi. Semua produksi migas dan energy baru terbarukan harus naik karena kita butuh banyak energy kedepan untuk menopang kebutuhan energy nasional sebagai Negara Maju tahun 2045," kata Ahmad Yusrizal.

Secara teknis prospek hulu migas Indonesia masih cukup baik, dimana saat ini terdapat 128 cekungan migas namun baru 20 cekungan yang berproduksi. Sisanya terdapat 27 cekungan yang telah dilakukan pemboran eksplorasi dan ditemukan cadangan tapi belum berproduksi, 13 cekungan belum ditemukan cadangan migas dan 68 cekungan belum dilakukan pemboran.

Peran Minyak dan Gas Bumi masih sangat dominan dalam menjaga Ketahanan Energi Nasional hingga tahun 2050 sehingga upaya peningkatan cadangan dan produksi minyak dan gas bumi nasional diharapkan mendapatkan dukungan dari semua pemangku kepentingan.

Berdasarkan Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2017 Tentang Rencana Umum Energi Nasional telah ditetapkan pada tahun 2050 bauran energi nasional masih di dominasi oleh Migas sebesar 44 persen, sementara batubara diproyeksikan 25 persen dan energi terbarukan sebesar 31 persen.
Dengan komposisi tersebut maka peran lembaga pengelola hulu Migas dimana saat ini diemban oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menjadi sangat penting dan kritikal dalam menyediakan kebutuhan energi khususnya minyak mentah dan gas bumi untuk menjaga Ketahanan Energi Nasional sesuai RUEN.

Sementara dalam memenuhi kebutuhan energi nasional saat ini, peran energi fosil juga masih sangat penting dalam memenuhi kebutuhan energi nasional agar tidak terjadi kekurangan pasokan energi yang dapat berdampak terhadap seluruh aspek kehidupan. [tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA