Terdakwa Ini Disebut Kabur Saat Akan Dieksekusi

IN
Oleh inilahcom
Rabu 31 Maret 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Kejaksaan Negeri Jakarta Utara belum berhasil mencari keberadaan Norman alias Ameng (Norman Ameng) yang sudah divonis Pengadilan bersalah dalam dugaan pidana memberikan keterangan palsu dalam akta otentik.

Padahal perkara sudah diputus MA, dan sudah didisposisi ke PN Jakarta Utara dan Kejaksaan Negeri Jakarta Utara untuk di lakukan eksekusi agar terdakwa Norman alias Ameng menjalankan tahanan sebagaimana vonis yang dijatuhkan hakim dalam amar putusan MA.

Sudah dua minggu tim Kejaksaan mencari Norman, namun tidak ada hasil karena terdakwa tidak lagi berada di tempat dan alamat yang tertera di berkas perkara.

Norman terjerat kasus hukum atas laporan dari korban Yusri, di mana Norman Ameng memasukkan keterangan palsu dalam akta otentik sehingga merugikan pelapor Yusri.

Atas dugaan tersebut Yusri melaporkan ke Polres Jakarta Utara yang memproses dan akhirnya bergulir ke meja pengadilan di mana Norman di putus hakim terbukti bersalah secara hukum dan harus di tahan.

Perkara bergulir hingga ke Makhamah Agung, dan MA pun tetap memutus Norman Ameng bersalah dan harus menjalani tahanan.

Advokat Jaka Maulana dari LQ Indonesia Lawfirm menyatakan, tidak mampu-nya aparat kejaksaan dalam melakukan eksekusi sangat mencoreng muka pengadilan dan reputasi institusi Kejaksaan.


"Lalu apa gunanya proses panjang dari kepolisian, kejaksaan dan Pengadilan Negeri dan Makhamah Agung, jika pada akhirnya putusan pengadilan tidak bisa dijalankan karena ketidakmampuan aparat Kejaksaan," kata Jaka, Rabu (31/3/2021).

Sesuai prosedur apabila Terdakwa yang mau dieksekusi tidak diketahui keberadaan semestinya Kejari Jakut segera mengeluarkan surat Daftar Pencarian Orang (DPO) agar lekas bisa ditemukan keberadaan Norman tersebut, bukannya dibiarkan sudah 2 minggu tanpa kejelasan.

Sementara itu, Advokat Leo Detri, selaku Ketua LQ Indonesia Lawfirm cabang Jakarta Pusat, menanggapi bahwa kejaksaan itu memiliki bagian intel yang seharusnya mampu melacak, di mana kasiintel ini memiliki peralatan lacak dan personel yang mampu mencari buronan dan orang yang butuh ditangkap.

"Sangat janggal apabila ketika akan di eksekusi lalu Norman bisa kabur, diduga oknum Kejaksaan terlibat membocorkan informasi akan dilakukan eksekusi sehingga memberikan kesempatan untuk Norman untuk menghilang. Selaku aparat penegak hukum, kami lawyer dari LQ Indonesia Lawfirm, meminta agar kejagung memperhatikan masalah ini," katanya.

Diduga ada oknum Kejari Jakut melindungi Terdakwa dari eksekusi. Rasanya tidak mungkin seorang Terdakwa Norman bisa tiba-tiba menghilang ketika akan dieksekusi tanpa perlindungan oknum kejaksaan.

"Kejaksaan Agung harus bertindak tegas, jangan sampai wibawa Korps Adhiyaksa hancur karena banyaknya oknum yang bermain kasus dengan pihak berperkara sehingga tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya, " tutur Leo.

Advokat Jaka Maulana, menambahkan bahwa selaku kuasa hukum dari Pelapor tentunya ia kecewa upaya penegakkan hukum yang dilakukan bertahun-tahun tidak ada gunanya dan hukum tidak lagi menjadi panglima apabila nyatanya hanya karena oknum jaksa, terdakwa bisa terhindar dari eksekusi putusan MA.

" Sungguh mencoreng korps Adhyaksa yang selama ini kami hormati. Eksekusi yang tidak dilaksanakan pihak kejaksaan ini sangat janggal karena informasi yang kami dapat, ternyata Norman masih berada di Jabodetabek dan bahkan sering ke kantor polisi untuk mengurus kasus ayahnya, Alex Suroto yang terjerat kasus penipuan dan penggelapan. Norman diketahui dekat dengan aparat Kejaksaan dan Polres Jakarta Utara," pungkasnya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA