Tak Masuk Limbah B3,KESDM Dorong Pengembangan Faba

IN
Oleh inilahcom
Kamis 01 April 2021
share
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana bilang, Indonesia sangat berpotensi mengembangkan Faba yang bernilai ekonomi tinggi.

Apalagi, saat ini, Faba bukan termasuk limbah B3. "Ini tantangan bagi putra bangsa, bagaimana mengembangkan Faba menjadi barang bernilai ekonomi tinggi," kata Dirjen Rida Mulyana pada webinar "Pemanfaatan Faba Sumber PLTU Untuk Kesejahteraan masyarakat" yang dihelat Ruang Energi di Jakarta, Kamis (1/4/2021).

Asal tahu saja, Faba merupakan abu atau sisa dihasilkan pembakaran batubara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) atau industri dengan bahan bakar batubara lainnya. Jumlah limbah ini cukup besar karena PT PLN masih mengandalkan sebagian besar sumber energi dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara.

Dari total PLTU di Tanah Air serta industri yang menggunakan batubara sebagai sumber energinya pasti menghasilkan Faba. Masalahnya sekarang, bagaimana mengolah dan memberdayakan Faba menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. "Butuh kepedulian dan teknologi tepat guna sekaligus peran serta para pemangku kepenitngan baik pihhak dunia usaha, akademisi bahkan para pegiat lingkungan di Indonesia," jelas Rida.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM pada tahun 2018, proyeksi kebutuhan batubara hingga 2027 sebesar 162 juta ton. Prediksi potensi Faba yang dihasilkan sebesar 16,2 juta ton, dengan asumsi 10% dari pemakaian batubara akan menjadi abu atau Faba.

Banyaknya limbah abu batubara yang dihasilkan tidak seiring dengan cara penanganannya. Sebagian besar masih terbatas melalui penimbunan lahan (landfill). Jika tak dimanfaatkan dan tidak ditangani dengan baik, maka dapat berpotensi menimbulkan pencemaran. Pemerintah mendorong industri terkait untuk memanfaatkan limbah B3 yang dihasilkannya sebagai model Circular Economy.

Akademisi Teknik Lingkungan UI, DR Suyud Warno Utomo mengatakan, Faba tidak termasuk kategori limbah beracun (B3). Dari hasil penelittian secara ilmiah, tidak ada dampak negatif atau senyawa kimia yang berbahaya dari penggunaan Faba di masyarakat. Sebalikya, Faba bisa digunakan sebagai bahan baku berbagai komoditas bahan bangunan.

Pengalaman FT UI memberikan pendampingan UKMK PT Adil Makmur Sejahtera (AMS) daerah Tanjung Jati B, Jepara, Jateng bisa mengolah dan memafaatkan Faba menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. "Faba bisa dioleh menjadi aneka bahan bangunan, dan kebutuhan lain yang bernilai ekonomi," kata dia.

Masyarakat di sekitar PLTU Tanjung Jati B di Desa Tubunan, Jepara secara ekonomis dan sosial memang perlu dibantu. Dengan mengolah Faba maka otomatis akan membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar. "Faba diolah menjadi konblok, bahan tambahan cor semen atau bahan bangunan lainnya. Dengan begitu, Faba bukan lagi limbah dan momok yang harus ditakuti. Tapi, Faba adalah aset ekonomi bernilai ekonomi tinggi," jelas Suyud.

Pendapat sama disampaikan Subari, peneliti Balai Besar Keramik. "Faba bisa dimanfaatkan sebagai bahan keramik, beton, bahan bangunan, konblok dan lainnya. Selama ini, industri keramik di Indonesia sudah memanfaatkan Faba untuk berbagai produk bernilai ekonomi tinggi," kata dia.

Yang selama ini sudah dilakukan, menurut Subari, adalah memanfaatkan Faba menjadi aneka jenis keramik. Kemudian konblok dan aneka bahan bangunan lainnya. "Selama ini, untuk kontruksi rumah atau bangunan bertingkat lainnya masih menggunaan batu kali. Semantara, kalau terus digunakan akan habis dan proyek kontruksi bisa berhenti," jelas Subari.

Melihat pemanfaatkan Faba menjadi berbagai bahan baku keramik, beton selama ini, menurut Subari, ke depan bisa digunakan untuk bahan baku beton dan bisa digunakan sebagai substitusi batu kali. "Dengan teknologi canggih serta inovasi anak muda sekarang, optimis mampu mengolah Faba menjadi komodtas bernilai ekonomi tinggi," tegas Subari.[tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA