Ombudsman RI: Buruh Tani Susut, Harga Gabah Anjlok

IN
Oleh inilahcom
Kamis 08 April 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Kalangan petani harus mengelus dada, lantaran harga gabah terjun bebas. Pemicunya, badai La Nina memicu kemarau panjang, prediksi Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Pihak BMKG memaparkan, BMKG menyebutkan, fenomena La Nina atau kemarau basah sepanjang September 2020-Maret 2021, memicu perubahan pola tanam dalam waktu cepat.

Bahkan, BMKG merilis La Nina masih akan berlangsung hingga Mei 2021 di sejumlah daerah. Anomali cuaca ini membuat intensitas dan curah hujan makin meningkat sehingga memberi andil turunnya kualitas gabah. Akibatnya, hal ini membuat anjloknya harga gabah. "Jawa Timur dan Jawa Tengah sudah mengalami musim panen lebih awal. Artinya, bulan panen raya 2021 semakin lama, dan berdampak terhadap produksi padi semakin besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Disamping itu, konsumsi rata rata per kapita beras kita juga makin tahun mengalami penurunan. Seiring perpindahan pola konsumsi ke karbohidrat berbasiskan gandum," ujar anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika menanggapi laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tentang up-date harga gabah pada Maret 2021 di Jakarta, Kamis (8/4/2021)

Menurut Yeka, petani hanya mempunyai alat pengering seadanya seperti terpal penjemur untuk mengeringkan gabah. Namun di sisi lain, banyak juga dari mereka menjual hasil panen dengan kadar air yang tinggi. Kadar air yang tinggi menyebabkan biaya pengolahan gabah menjadi beras semakin mahal, dan hal ini mendorong penawaran harga gabah oleh tengkulak atau penggilingan padi semakin rendah.

Yeka mengakui, pihaknya melakukan kunjungan ke sejumlah daerah sentra beras di Jawa Barat yakni Kabupaten Bekasi, Krawang, Subang, Indramayu dan Cirebon pada 2-4 April 2021. Temuan di Bekasi misalnya, harga GKP ditebus Rp4.067 per kg. Kadar airnya mencapai 23,7% lebih tinggi sedikit ketimbang laporan BPS sebesar 23,7%.

Sementara, temuan harga gabah petani di Kabupaten Cirebon jauh lebih rendah yakni Rp 3.567 per kg dengan kadar air rerata 29,87%. Adapun produktivitas hasil panen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu mengalami peningkatan rerata 2,89%.

Ombudsman pun menilai penurunan harga gabah juga didorong semakin berkurangnya buruh tani khususnya tenaga kerja pemanenan. Hal ini berdampak pada banyaknya kasus pemanenan dilakukan pada saat keadaan tanaman belum cukup umur untuk dipanen.

Berdasarkan temuan lapangan ini, Yeka menambahkan total susut paska panen GKP di lima kabupaten sentra beras di Jawa Barat mencapai 27,16% akibat tingginya kadar air dan kadar hampa pada gabah. Dalam kondisi seperti ini, kualitas gabah dipastikan menurun, butir hampa semakin banyak, hingga mencapai 18%.

Adapun petani hanya memperoleh harga tebus gabah sebesar Rp 3.888 per kg , namun ketika dikonversi setara GKG dihargai Rp 5.338 per kg."Nilai ini sudah melebihi HPP yang ditetapkan Kemendag. Apalagi jika ditambahkan ongkos angkut maka harga GKG dan harga berasnya pun akan meningkat, meski tidak dalam rentang besar," terangnya.

Artinya, menurut Yeka fenomena yang terjadi lebih tepat menggambarkan bukan karena harga gabah yang turun. Namun mutu gabah yang turun. Karenanya, Yeka menegaskan tidak ada fakta penurunan harga GKP ditingkat petani sebagai respon psikis dari rencana pemerintah mengimpor beras sebesar 1 juta ton.

Ombudsman RI juga mencatat kejadian penurunan mutu gabah di musim panen raya merupakan siklus yang terus berulang sepanjang tahun. Menurutnya belum ada upaya tertintegrasi yang solutif . Pasalnya, sepanjang 2017-2020, Kementerian Pertanian telah menganggarkan Rp 661,7 miliar untuk program untuk pengadaan mesin pengering /dryer gabah.

"Perlu dievaluasi apakah besaran dukungan APBN untuk pengadaan mesin pengering gabah ini memenuhi unsur pelayanan publik dalam arti petani sebagai sasaran apakah mendapatkan layanan dengan adanya bantuan ini? Jika memang program ini memberikan layanan yang baik untuk petani, maka program ini perlu ditingkatkan di masa yang akan datang,"pungkasnya.

Sebagai Informasi,BPS baru-baru ini merilis harga gabah baik di panen raya tahun 2021 ini baik gabah kering panen (GKP), gabah kering giling (GKG) serempak mengalami penurunan. Untuk GKP di tingkat petani pada Maret 2021 Rp 4.385 per kg atau turun 7,85%, dan di tingkat penggilingan Rp 4.481 per kg atau turun 7,86 % dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp 5.214 per kg atau turun 1,99% dan di tingkat penggilingan Rp 5.331 per kg atau turun 1,85%. Harga gabah luar kualitas di tingkat petani Rp 4.043 per kg atau turun 6,84% dan di tingkat penggilingan Rp 4.138 per kg atau turun 6,95% .

Seperti diuraikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto kepada wartawan,Kamis (1/4/2021) pekan lalu, menuturkan penurunan harga gabah di bulan Maret tidak terlepas dari fenomena panen raya. Alhasil besarnya pasokan GKP sehingga menekan harga baik gabah maupun beras.

Dibandingkan Maret 2020, rata-rata harga gabah pada Maret 2021 di tingkat petani untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing turun sebesar 11,17%; 9,57%; dan 11,86%. Di tingkat penggilingan, rata-rata harga gabah pada Maret 2021 dibandingkan dengan Maret 2020 untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing turun sebesar 10,92%; 9,46%; dan 11,44%.[tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA