Cerita Kepsek Lolos Dari Penembakan Brutal KKB

IN
Oleh inilahcom
Senin 12 April 2021
share
Foto Istimewa

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Sekolah SMPN 1 Beoga, Kabupaten Puncak, Papua Junaedi Arung Sulele menyaksikan langsung penembakan terhadap dua orang guru di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Sabinus Waker. Penembakan terjadi pada Kamis (8/4) terhadap Oktavianus Rayo (40) dan Yonatan Renden (28) pada Jumat (9/4).


"Sebelum ada kejadian, hingga kami semua turun, situasi sudah kembali kondusif sehingga kami memutuskan untuk kembali ke Beoga," kata Junaedi kepada wartawan, Sabtu (10/4/2021).

Junaedi mengatakan, kelompok KKB sempat mengepung rumah Oktovianus Rayo sebelum guru kontrak yang sudah 10 tahun mengajar di sekolah dasar (SD) Klemabeth itu ditembak mati.

Dia ditembak oleh KKB karena dianggap sebagai pendatang yang bertugas sebagai mata-mata. Junaedi mengatakan, letak Beoga sulit dijangkau, menyebabkan tidak banyak orang maupun pendatang yang mau bertahan apalagi berprofesi sebagai pendidik di sana.

"Dari informasi yang saya terima, rumah mendiang Oktovianus Rayo dikepung sebelum KKB masuk ke rumah dan menembak korban. Selama ini situasi aman-aman saja, aparat keamanan dari Koramil, Polsek dan satgas TNI-Polri selama ini memang sudah berjaga di Beoga," tuturnya.

Saat jenazah almarhum Oktovianus disemayamkan di Puskesmas Beoga, menunggu untuk dijemput oleh pesawat untuk diterbangkan ke Timika, Junaedi dan rekan-rekan guru yang lain hadir untuk melayat dan mendampingi isteri dan anak korban.

Melihat kondisi jenazah almarhum Oktovianus sudah mulai membengkak dan mengeluarkan cairan, Junaedi mengajak Yonathan Randen, guru kontrak yang sudah lebih dari dua tahun bertugas di SMP Negeri 1 Beoga untuk mengambil terpal di rumah Junaedi yang berada di ujung landas pacu Bandara Beoga.

Maksdunya, terpal itu akan digunakan untuk membungkus jenazah almarhum Oktovianus. Dengan sepeda motor, keduanya pun bergegas menuju rumah Junaedi.


Saat hendak kembali ke Puskesmas, keduanya diberondong tembakan membabi buta oleh KKB yang bersembunyi di balik semak-semak.

"Setelah kami mau pulang, tepat di depan rumah, kami ditembak. Saya tidak melihat orang yang menembak kami. Saat mendengar bunyi tembakan, saya lari ke arah kanan, sedangkan korban lari ke arah kiri. Tapi sepertinya saat bunyi tembakan itu korban terkena di bagian dada kiri dan dada kanan. Korban masih sempat lari sekitar lima meter sebelum jatuh," tutur Junaedi.

Ia tidak menyangka bisa selamat dari peristiwa itu. "Puji Tuhan saya masih bisa lolos dan selamat," ujar Junaedi.

Dalam kondisi panik setelah mendapat serangan mendadak, Junaedi pun berupaya menyelamatkan diri dengan bersembunyi di semak-semak.

"Saya sempat merayap sekitar 30 menit di semak-semak. Setelah situasi aman, saya sempat bersembunyi di rumah penduduk, namun karena merasa kurang nyaman saya lari lagi dan kembali bersembunyi sekitar dua jam," pungkasnya. [wll]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA