76 Tahun Bungaran Saragih

Pemikiran Kritis Begawan Agribisnis Tetap Penting

IN
Oleh inilahcom
Selasa 20 April 2021
share
Prof Bungaran Saragih

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah sangat memerlukan pandangan kritis para pakar pangan atau agribisnis. Termasuk dari mantan Menteri Pertanian Prof Bungaran Saragih, demi majunya sektor pertanian di tanah air.

Hal itu disampaikan Deputi bidang Koordinasi Pangan dan Agriibisnis, Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud dalam acara Beda Buku tiga seri Suara Agribisnis Kumpulan Pemikiran Prof Bungaran Sarangih secara virtual, Senin (19/4/2021).

Kata Musdhalifah, Kemenko Perekonomian sangat mengapresiasi semangat sang Begawan Agrobisnis, Prof Bungaran yang tak pernah lelah untuk mendorong dan memberikan kritikan konstruktif. Tujuannya sangat mulia, memajukan agribisnis Indonesia menjadi lebih baik. "Terima kasih, Pak. Selamat ulang tahun dan sukses selalu. Kami akan selalu membutuhkan arahan Bapak maupun pendapat Bapak yang terbaik untuk usahan agribisinis di negara kita," ujarnnya.

Menurut Musdhalifah pemikiran-pemikiran Bungaran sangat relevan dengan pembangunan pertanian nasional saat ini dan di masa yang akan mendatang dalam suatu sistem argibisnis dengan perang aktif stakeholder

Dalam agenda pembangunan nasional 2020-2024, beber Musdhalifah, pangan dan agribisnis menjadi motor penggerak utama perekonomian nasisonal untuk mencapai pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan. "Kami bisa tunjukan betapa sangat beratinya peran aktifnya agribisnis di negara kita karena di masa pandemi 2020 di tengah sektor sektor lainnya berkontraksi negatif, sektor pangan dan pertanian tetap berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional kita," jelasnya.

Pada acara yang sama, Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Indonesia, Bayu Krisnamurthi menyatakan setuju jika ketiga buku Bungaran tersebut (Suara Agribisni, Red) sebagai catatan sejarah.

"Food estate misalnya, Pak Bungaran sudah ngomong di bukunya 10 tahun yang lalu. Soal impor beras, Pak Bungaran dalam tiga buku itu kira-kira ada 16 atau 17 tulisan dan itu sudah merentang sejak tahun 2000. Karena itu, saya sangat setuju tiga buku ini adalah sebuah cacatan sejarah," ujar Bayu.

Permasalahan yang berulang dan tampak juga tidak selesai, seperti persolan beras, sawit, gula atau ayam pedaging, kata Bayu, dalam ketiga buku Pak Bungaran sudah memberikan indikasi jelas dengan alasannya.

Pertama, karena cara pandang, cara pikir dan cara tindak sesuai paradigma usaha dan agribisnis itu belum dipahami dan dilakukan, pendekatan parsial masih sangat menonjol dan logika bisnis masih sering diabaikan.

Kedua, ternyata pembagunan sistem dan usaha agribisni membutuhkan waktu dan proses. Untuk itu butuh konsistensi dalam waktu cukup. Ketiga, pengetahuan dan pemahaman agribisnis itu belum bekembang secepat permbangan situasi dan kondisis rilnya.

Menurut Bayu masih banyak pertanyaan yang belum terjawab tuntas, bagaiman kaitan agribisnis dengan global supply chain, bagaimana agribisni menghadapi situasi perang dagang dan pudarnya multilateralisme, bagaimana agribisnis menjawab sustainable development goals.

"Poin yang ingin saya sampaikan, pondasinya sudah diletakan oleh Pak Bungaran dan tampaknya murid-murid beliau seperti saya yang mungkin lalai dan kurang untuk mengembangkan pemikiran itu sehingga kemudian bisa mengaitkan dengan berbagai isu yang lebih aktual," ujarnya.

Sementara, Prof Bungaran memberikan jempol terhadap komitmen pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dalam memajukan sektor pertanian, khususnya agrobisnis. Saat ini, industri kelapa sawit mengalami kemajuan pesat yang berdampak positif dalam menopang perekonomian nasional.

Selain itu, masih kata Prof Bungaran, kebijakan pemerintah mendorong penggunaan biodiesel dari minyak mentah sawit atau Crude Palm oil (CPO), merupakan bentuk keberpihakan dari sisi regulasi. "Saya lebih setuju, petani jangan selalu dikasih duit. Tapi, beri regulasi yang memudahkan mereka. Mendorong mereka untuk bekerja keras. Batasi juga impor, agar pteni tebu atau padi bersemangat," pungkas mantan menteri pertanian era Presiden Gus Dur itu [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA