Harga Bergerak Naik

Tsunami Corona di India, Ekspor Sawit Tetap Oke

IN
Oleh inilahcom
Kamis 29 April 2021
share
Ketua Umum Gapki Joko Supriyono (Kiri) didampingi Ketua bidang Komunikasi Gapki, Tofan Mahdi (Kanan),

INILAHCOM, Jakarta - Informasi tentang lonjakan COVID-19 di India, mengejutkan dunia, termasuk Indonesia. Lalu, bagaimana nasib ekspor minyak sawit ke negeri berjuluk Sejuta Dewa itu?

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono menerangkan, meski terjadi tsunami Corona di India, tak memengaruhi kegiatan ekspor minyak sawit dari Indonesia. "Kami juga belum dapat laporan adanya hambatan ekspor ke India," kata Joko dalam dialog dengan media secara virtual, Jakarta, Rabu (28/4/2021).

Walau begitu, kata pria asal Nganjuk yang hobi kesenian Wayang Kulit ini, Gapki terus mengikuti perkembangan penanganan Covid-19 di India. "Kita wait and see saja perkembangannya, tapi dalam sebulan ini belum ada dampak apa-apa. sejauh ini, India tetap menjadi perhatian utama kita karena Indonesia menjadi leader pengekspor minyak sawit," tutur Joko.

Menurutnya, saat ini, yang menjadi masalah, adanya kapal-kapal dari India yang masuk ke Indonesia justru dikarantina. "Semestinya yang dikarantina adalah orang atau awak kapal dan bukan kapalnya," tutur Joko.

India merupakan salah satu destinasi utama ekspor produk minyak sawit dan turunannya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor komoditas ini pada 2020 mencapai 4,69 juta ton dengan nilai US$3,05 miliar.

India menjadi pasar terbesar setelah Tiongkok yang pada 2020 mengimpor 5,64 juta ton minyak sawit dari Indonesia. Dan, India merupakan salah satu destinasi utama ekspor produk minyak sawit dan turunannya.

Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan ekspor komoditas ini pada 2020 mencapai 4,69 juta ton dengan nilai US$3,05 miliar. India menjadi pasar terbesar setelah Tiongkok yang pada 2020 mengimpor 5,64 juta ton minyak sawit dari Indonesia.

Harga Minyak Sawit Moncer
Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gapki, menerangkan, harga rata-rata minyak sawit pada Maret 2021, sebesar US$1.116/ton CIF Rotterdam. Atau lebih tinggi US$21 (1,9%) ketimbang Februari.

Kenaikan harga disebabkan oleh banyaknya perubahan prediksi produksi oilseeds dan kenaikan produksi biodiesel dunia. Ketidakpastian tanam dan produksi oilseeds menyebabkan permintaan minyak sawit meningkat, karena sebagai tanaman tahunan, produksinya lebih bisa terprediksi. Indonesia mendapat

"keuntungan dari situasi ini, karena produksinya praktis tidak terganggu oleh Covid-19 sehingga ekspor meningkat tajam. Ekspor minyak sawit Maret 2021 diperkirakan mencapai 3.244 ribu ton 62,7% lebih tinggi dari ekspor Februari yang sangat rendah yaitu 1.994 ribu ton," papar Mukti.

Mukti bilang, kenaikan harga dan volume diperkirakan menghasilkan nilai ekspor sawit bulan Maret sekitar US$3,74 miliar atau 80% lebih tinggi dari perkiraan ekspor Februari sebesar US$2,08 miliar.

Konsumsi dalam negeri 1.599 ribu ton sedikit terkoreksi dibandingkan dengan bulan Februari sebesar 1.604 ribu ton. Konsumsi minyak sawit untuk biodiesel turun (-0,5%) menjadi 625 ribu ton dari 635 ribu ton pada Februari dan oleokimia juga turun (-3,4%) menjadi 168 ribu ton dari 174 ribu ton. Secara YoY sampai dengan Maret 2021, konsumsi dalam negeri 3,8% lebih tinggi dari 2020.

Produksi minyak sawit Indonesia bulan Maret 2021 naik lebih dari 20% menjadi 3.712 ribu ton. Kenaikan yang sangat tinggi ini merupakan limpahan produksi bulan Februari yang hanya sebesar 3.079 ribu ton, 10% lebih rendah dari bulan Januari. Namun, secara YoY sampai dengan Maret, produksi CPO 2021 1,6% lebih tinggi.

Kenaikan produksi Maret sebesar 633 ribu ton, lebih kecil dari kenaikan ekspor dan konsumsi dalam negeri yang totalnya diperkirakan mencapai sekitar 1,4 juta ton. Keadaan ini menyebabkan stok akhir turun dari 4,02 juta ton menjadi 3,20 juta ton.

Sedangkan, BMKG memperkirakan kemarau akan dimulai pada bulan April 2021. Oleh karena itu, pekebun perlu melakukan antisipasi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya kebakaran agar produksi tidak terganggu.[ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA