KPIQP Gelar Munasoroh Virtual untuk Palestina

IN
Oleh inilahcom
Minggu 09 Mei 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Situasi politik Timur Tengah kembali memanas akibat serangan yang dilakukan Yahudi Lehava terhadap penduduk Palestina sejak 23 April. Aksi penangkapan dan gangguan terhadap jamaah Masjid Al Aqsa masih terjadi hingga hari ini.

Berdasarkan laporan dari Bulan Sabit Merah, sebanyak 178 warga Palestina menderita luka dan 88 diantaranya masuk ke rumah sakit akibat serbuan polisi Israel ke Al Aqsa dan pembubaran aksi di wilayah Al Quds lainnya.

Hal ini membuat KPIQP bersama 9 Ormas perempuan di Indonesia yakni PP. Salimah, PB Wanita Al Irsyad, PP Muslimat Mathlaul Anwar, PP Muslimat Al Washliyah, Muslimat DDII, PP Wanita PUI, PP Wanita PERTI, PP Wanita Islam, PP IGRA dan Adara Relief International mengadakan aksi damai secara virtual pada Ahad, 9 Mei 2021 pukul 13.00.

Secara khusus acara ini ditujukan untuk menghentikan rencana penggrebekan terhadap masjid Al Aqsa oleh ekstrimis Zionis dalam rangka perayaan "Jerusalem Day" atau hari dikuasainya Jerusalem atau Al Quds oleh Zionis Israel tahun 1967 lalu pada tanggal 28 Ramadhan atau 10 Mei.

Berdasarkan informasi dari departemen wakaf Islam Al Quds, kelompok ekstrimis Yahudi telah menyerukan kepada pada pendukungnya untuk berpartisipasi secara luas dalam upaya penggerebekan tersebut. Rencananya ini juga telah disetujui oleh penjajah Zionis Israel.

Selain itu, acara yang dihadiri oleh lebih dari 2000 peserta melalui aplikasi zoom dan youtube ini juga diadakan untuk menentang perampasan secara ilegal rumah-rumah penduduk Palestina di wilayah Syekh Jarrah, Al Quds Timur oleh Zionis. Merujuk pada juru bicara kantor HAM PBB Rupert Colville, pemindahan penduduk sipil ke wilayah pendudukan adalah tindakan ilegal di bawah hukum internasional dan berpotensi sebagai bentuk kejahatan perang.

Acara yang diberi judul "Munasoroh Virtual Palestina, Umat Bela Al Quds" ini dibuka oleh Ketua KPIQP Nurjanah Hulwani sebagai pembicara awal dengan topik "Al Quds Memanggil Umat Islam".

Nurjanah mengingatkan bahwa persoalan Al Quds sejatinya adalah persoalan akidah sekaligus kemanusiaan. Maka kewajiban menjaga Al Quds layaknya menjaga ibadah-ibadah wajib kita.

Nurjanah berpesan bahwa terhadap persoalan Al Quds, kita harus berjuang menanamkan kepedulian sesuai dengan peran masing-masing. Seorang politisi harus memerankan perannya dalam politik untuk pembebasan Al Quds.

Demikian pengusaha, ataupun guru sebagai pendidik, harus mampu membuat kurikulum pendidikan tentang Al Quds dan Palestina. "Sebab sejatinya persoalan Al Quds bukan sekedar tanggung jawab lembaga kemanusiaan ataupun KPIQP. Kita semua kelak di akhirat akan ditanya tentang apa yang telah kita perbuat untuk persoalan Palestina?" demikian tandas Nurjanah menutup pembicaraannya.

Sebagai pembicara kedua sekaligus terakhir, Zenah Said Amr yang merupakan guru majelis taklim di Al Aqsa memaparkan mengenai penderitaan perempuan dan anak di wilayah Al Quds.

Pendudukan ilegal yang dilakukan ekstrimis Yahudi terhadap rumah penduduk Al Quds yang disokong oleh polisi Israel telah menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan, terlebih terhadap anak-anak dan perempuan.

Warga Al Quds menjadi terlantar akibat perampasan rumah-rumah mereka. Israel telah merampas seluruh sendi-sendi hak-hak kemanusiaan yang paling asasi warga Al Quds. Sehingga kemudian ia berpesan untuk para perempuan dunia khususnya Indonesia.

"Tugas kita sebagai perempuan adalah menyiapkan generasi di masa mendatang untuk menjadi pembebas Al Aqsa. Kita tahu Zionis tengah menyiapkan rencana untuk membangun kuil diatas Al Aqsa. Kita harus cegah hal itu dengan menyiapkan generasi kita untuk membebaskan Al Aqsa," demikian pembawa acara menutup dengan penuh haru acara aksi damai virtual untuk dukungan kepada penduduk Al Aqsa. Donasi lebih dari 400 juta rupiah berhasil dikumpulkan dan masih terus mengalir hingga berita ini diturunkan.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA