I'tikaf 10 Hari Bersama Zulkifli Hasan

OF
Oleh Oleh: Fahd Pahdepie
Rabu 12 Mei 2021
share
Zulkifli Hasan saat mengikuti pengajian dari Ustadz Adi Hidayat.

JABATAN adalah pakaian yang berat. Jubah kebesaran yang kadang mengubah diri menjadi pribadi yang lain. Kata guru saya, jika suatu hari engkau dianugerahi pakaian itu, jangan kenakan di hadapan Allah. Dia Maha Pencemburu. Sedangkan sombong adalah selendangNya dan kebesaran adalah pakaianNya. Sementara kita sebenarnya tak punya apa-apa untuk pantas merasa jumawa.

Dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan tahun ini, saya belajar betul bagaimana mengamalkan nasihat penting itu. Saya berkesempatan menemani Pak Zul beri'tikaf, melihat dari dekat untuk memaknai bahwa jabatan adalah amanah, kehebatan kita di hadapan manusia adalah ujian, dan gemerlap dunia secuil pun tak ada artinya di hadapan Allah. Padahal kita harus punya cukup bekal menghadapNya nanti.

"Imam al-Bukhari berpuluh tahun menelusuri dan mengumpulkan hadits-hadits Nabi, bekerja siang dan malam. Beliau ini hafiz, ulama yang saleh, berjasa besar dalam ilmu hadits. Saat selesai menulis Sahih al-Bukhari, di Makkah, beliau mengatakan, 'Ini bekal yang mudah-mudahan bisa aku banggakan saat kelak bertemu Rasulullah'. Bekal kita apa? Apa yang nanti akan kita banggakan di hadapan Rasulullah?" Cerita Ustadz Adi Hidayat (UAH). Kami beri'tikaf di masjidnya di bilangan Bekasi Selatan. Al-Ihsan nama masjid itu. Ternyata ini tahun ketiga Pak Zul beritikaf di sini.

"Memang, ya, kita ini harus ngaji..." Bisik Pak Zul pada saya. Di sela-sela ta'lim. Ia duduk di lantai saat mendengarkan UAH mengajar. Paling depan menyimak dengan saksama. Saya perhatikan, saat menyimak ceramah UAH sering ia mengangguk-angguk, sesekali menunduk, beristigfar, tasbih kayu terus bergulir di jari-jemarinya.

***

Zulkifli Hasan. Tentu Anda pernah mendengar nama itu. Mantan menteri, ketua lembaga tertinggi negara di republik ini, kini wakil ketua MPR RI dan ketua umum sebuah partai politik yang cukup besar, PAN, kadernya jutaan di seluruh Indonesia. Dengan curiiculum vitae (CV) dan posisi seberat itu, bagi saya agak ganjil sebenarnya menyaksikan Pak Zul duduk bersimpuh di lantai setiap hari, fokus menatap seorang ustadz yang duduk di kursi. Ia mendongak. Ustadz itu berusia jauh lebih muda darinya. Tapi ternyata memang begitulah Pak Zul adanya.

Dalam sepuluh hari ini, saya melihat dari dekat bagaimana ia merupakan pribadi yang selalu sungguh-sungguh dalam beribadah. Karakternya pembelajar sejati. Ia mau mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain, apalagi yang berilmu, apapun posisinya. Hampir setiap hari kami berdiskusi, dari soal yang kecil sampai yang besar, dari urusan agama sampai negara.

Pukul dua dini hari, Pak Zul biasanya bagun. Kemudian membangunkan kami yang tidur di ruangan yang sama. Saat saya bangun, biasanya Pak Zul sudah siap dengan gamis dan tasbihnya, menggamit al-Quran dan menenteng sajadah. "Ayo, tahajud kita!" Ajaknya.

Sambil menghilangkan kantuk, saya dan beberapa teman berusaha bangun. Kami berempat, salah satunya putera ketiga Pak Zul. Namanya Ray. Dua lainnya Pak Muchlis dan Ustadz Saeed Kamyabi. Kadang ada menantunya juga, Mumtaz.

Di masjid, Pak Zul selalu memilih tempat yang sama. Tepat di depan pilar samping mimbar di saf pertama. Masjid ini menerapkan protokol kesehatan dengan ketat selama beri'tikaf.

Saya biasanya duduk di belakang atau di sampingnya, memperhatikan bagaimana ia berdoa dan beribadah. Tampak begitu khusuk. Tak jarang ia bermunajat sampai menangis. Dua tangannya menengadah, sesekali bergerak naik dan turun. Saya menebak-nebak apa yang didoakannya... Mungkin istri, anak dan cucunya. Mungkin bangsa dan negara ini. Entahlah, hanya ia dan Allah yang tahu.

***

Selesai 'qiyamul lail', kami naik ke lantai dua masjid. Di sana biasanya kami tidur. Ruangan itu aslinya kantor yang dipakai UAH sehari-hari, tapi kemudian disulap menjadi 'asrama' sementara para mu'takifin ini, para peserta i'tikaf. Ada karpet dan matras sederhana di sana. Orang biasa menyebutnya kasur Palembang. Kami tidur di situ, termasuk Pak Zul. Di ruangan itu juga ada beberapa sofa dan satu set meja makan. Di meja itu kami makan sahur dan berbuka.

Ibu-ibu pengurus masjid biasanya mengantarkan makanan beberapa saat sebelum waktu makan. Saya hafal bagaimana Pak Zul menyapa mereka, "Wah, makan apa kali ini, Bu? Kelihatannya enak sekali!" ujarnya diiringi senyum dan tawa.

Ibu yang mengantarkan makanan hanya bisa tersipu. "Maaf, sederhana saja, Pak. Seadanya. Mudah-mudahan berkenan." Ujarnya.

Pak Zul lalu menjawab, "Kalau di sini makanan cuma ada dua, Bu. Satu, enak. Dua, enak sekali. Enak terus. Terima kasih, ya. Terima kasih." Candanya ramah. Si ibu tersipu karena merasa tersanjung.

Saya melihat ini sebagai akhlak, karakter yang sama sekali tidak dibuat-buat. Tentu bukan lips service karena tidak terjadi sekali-dua kali, tapi setiap hari selama sepuluh hari. Setidaknya dua kali sehari. Itu yang saya saksikan.

Kalau makanan tidak habis, Pak Zul buru-buru meminta kami mengantarkan makanan ke bawah. "Sayang ini. Di bawah banyak pengurus masjid. Takut ada yang belum makan." Lalu kami buru-buru mengantarkan makanan yang biasanya masih banyak ke bawah.

Setelah selesai makan, baik makan sahur atau buka puasa, Pak Zul selalu bergegas bersiap ke masjid lagi. Sepertinya tak mau ada waktu sisa tersia-sia. Kalau kami belum selesai, ia tak mau menunggu, "Kalau gitu saya duluan, ya! Sayang, biar bisa zikir dan baca Quran dulu." Katanya. Mendengar itu, tentu kami jadi malu buat santai-santai, bahkan untuk sekadar bikin kopi lagi.

***

Hal istimewa lain dari Pak Zul adalah sedekahnya. Rasanya selalu ada alasan untuk mengeluarkan infaq dan sedekah. Setiap selesai shalat berjamaah, saya sering diminta mencari dan mengejar imam yang baru saja memimpin shalat. Pak Zul menyiapkan amplop untuk imam itu. Saya memberikannya diam-diam karena diminta begitu. Ini saya ceritakan sebagai bentuk syukur nikmat saja. Sebagaimana diceritakan dalam surat ad-Dhluha, wa 'amma bini'mati rabbika fahaddits. Semoga bisa menginspirasi kita semua.

Sepuluh hari i'tikaf bersama Pak Zul di masjid al-Ihsan, Bekasi, saya bukan hanya mendapatkan banyak momen pencerahan. Ilmu yang diajarkan UAH tentu menjadi 'booster' tersendiri buat saya. Tapi yang paling istimewa, ternyata di sini saya belajar akhlak, menemukan bagaimana seorang pemimpin sebenarnya membangun fondasi ruhani bagi batinnya. Itu yang membuatnya selama ini kuat, kokoh dalam mengambil semua keputusan.

"Saya kalau mengambil keputusan atau mau bertindak, yang penting fondasinya kuat. Kita mau berjuang untuk apa? Untuk siapa? Tujuannya harus hanya untuk Allah." Cerita Pak Zul suatu hari, selepas Ashar, saat kami berdiskusi sambil mengkaji sejarah Islam, "Fondasi yang kuat itu hanya bisa dibangun kalau kita terus mendekatkan diri kepada Allah. Yang penting di sininya dulu." Lanjutnya, sambil menunjuk bagian ulu hati.

Dari sana saya belajar, ternyata dunia ini kecil bagi mereka yang meluaskan kerja-kerja untuk akhirat. Ternyata selama ini saya sombong merasa bisa ini dan itu, merasa sudah mengerjakan ini dan itu, mengenakan selendang dan pakaian yang sebenarnya hanya milik Allah saja.

Saat menulis artikel ini, saya duduk hanya terpisah dua meter dari Pak Zul yang sedang mengaji, berusaha mengkhatamkan al-Quran. Waktu berbuka sebentar lagi tiba. Ramadhan akan segera pergi... Tahun ini begitu istimewa. Mungkin tak akan terulang dua kali berburu lailatul qadr bersama seorang tokoh bangsa. Tapi bisakah saya mengubah ulat diri menjadi kupu-kupu takwa?

Al-Ihsan, Bekasi, 30 Ramadhan 1442 H

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA