Korban Koperasi Indosurya Soroti 100 Hari Kapolri

IN
Oleh inilahcom
Senin 24 Mei 2021
share
Ketua pengurus LQ Indonesia Lawfirm, Advokat Alvin Lim - Foto Istimewa

INILAHCOM, Jakarta - LQ Indonesia Lawfirm selaku kuasa hukum para korban Koperasi Indosurya, menilai 100 hari kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo gagal memenuhi janjinya agar "Hukum Tajam ke Atas".

"Tidak usah jauh-jauh, lihat penanganan kasus mafia keuangan kerah putih. Si Henry Surya, Tersangka pemilik Koperasi Indosurya sampai sekarang sejak April 2020 tidak ditahan, juga berkas tidak pernah dilimpah ke kejaksaan. Tidak jelas pula kemana larinya 15 Triliun dana yang dikumpulkan Indosurya karena tidak disita." ujar Sugi kepala Divisi Humas dan Media, LQ Indonesia Lawfirm, dalam keterangannya, Senin (24/5/2021).


Menurutnya saat Henry Surya dijadikan tersangka pada bulan April 2020. Kasus tersebut seakan melempem dan mandek.

"Banyak alasan, Corona, kurang personil dan banyaknya saksi yang harus diperiksa. Anehnya banyak kasus lain yang Mabes tangani bisa kilat, terutama dengan tersangka rakyat biasa," keluhnya.

Adi Priyono selaku pelapor kasus Indosurya di Mabes mengungkapkan kekecewaannya terhadap jajaran penyidik dan atasan penyidik Dittipideksus, pasalnya karena pertanyaan mengenai kejelasan kasus dan perkara Indosurya ini tidak digubris penyidik.

"Apakah penyidik takut sama tersangka Henry Surya karena pegang 15 Triliun dana korban? Bukankah syarat objektif dan subyektif penahanan dalam Tersangka Henry Surya sudah terpenuhi? Syarat penahanan yaitu ancaman pidana diatas 5 tahun TERPENUHI karena dugaan pidana perbankan ancaman 15 tahun dan pencucian uang ancaman 20 tahun," tambahnya.

Korban VS sambil menangis memberikan keterangan media "uang saya miliaran rupiah tidak kembali dan menyengsarakan hidup saya, ini sekarang Polisi yang seharusnya melayani dan mengayomi malah tidak jelas dan berlarut penanganan kasus saya. Apakah Penyidik takut dengan Henry Surya ataukah ada konflik kepentingan sehingga seorang Tersangka setahun tidak pernah ditahan dan perkara Indosurya tidak pernah limpah ke kejaksaan? Saya hanya ingin kepastian hukum, sesusah itukah mencari keadilan di Indonesia?" ucapnya.


Korban HK juga menyampaikan kekecewaan terhadap pelayanan kepolisian "Masa pelapor bertanya tidak dijawab, SP2HP tidak menjelaskan kenapa Henry Surya sebagai Tersangka tidak ditahan, nilai dana kerugian 15 triliun, namun tidak jelas aset apa yang disita polisi, juga ketika ditanyakan kapan limpah berkas, jawabnya "segera". Jawaban sama dari 1 tahun lalu, "segera". Jadi bagi kami korban Indosurya, janji Kapolri hanya "isapan jempol" bukti kasus Indosurya, hukum masih tumpul keatas." lanjutnya.

Sementara itu, Advokat Alvin Lim, Ketua pengurus LQ Indonesia Lawfirm menilai sangat janggal proses pemberkasan sejak jadi tersangka 1 tahun lebih belum selesai bahkan ditanya berapa lama lagi jawabnya tidak tahu.

"Dimana kepastian hukumnya? Disini Dittipideksus memalukan reputasi Institusi POLRI, justru membuat polemik dengan tidak memberikan kepastian kira-kira berapa lama sampai berkas di limpah. Pelapor punya hak untuk tahu proses laporannya. Kalo anda disuruh tunggu di mall misalnya, lalu anda tunggu, yg ditunggu tidak datang lalu anda tanyakan berapa lama sampai dan dijawab tidak tahu, bagaimana masih mau menunggu?," pungkasnya.


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA