Minyak Sawit RI Setorkan Rp321,5 Triliun Per Tahun

IN
Oleh inilahcom
Senin 21 Juni 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Dari perdagangan global minyak sawit, pemerintah Indonesia meraup pendapatan lumayan gede. Setidaknya Rp321,5 triliun masuk tiap tahun. Terima kasih minyak sawit.

Globalisasi diambil dari kata globalize, yang merujuk pada kemunculan jaringan sistem sosial dan ekonomi berskala internasional. Istilah globalisasi, dikenalkan pertama kali dalam tulisan artikel berjudul Towards New Education, yang berisi pandangan manusia dalam bidang pendidikan.

Artikel yang ditulis Charles Taze Russel pada tahun 1897 itu, menjadi titik tolak globalisasi dalam bidang ekonomi global. Selain itu, Russel juga memberikan pendapat mengenai gambaran adanya perusahaan raksasa (corporate giants) didunia yang berhasil melakukan perdagangan produknya secara global.

Kendati batas negara dan wilayah sering menjadi persoalan dalam aktivitas ekonomi, namun aktivitas ekonomi manusia tak pernah berhenti dilakukan. Lantaran, ekonomi seringkali menjadi aktivitas kehidupan sehari-hari manusia untuk dilakukan. Alhasil, roda perekonomian bisa berputar melalui aktivitas ekonomi yang dilakukan.

Tulisan Anthony Giddens dalam bukunya The Consequences of Modernity, globalisasi diartikan sebagai intensifikasi hubungan sosial dunia yang menghubungkan tempat-tempat jauh, sehingga peristiwa di suatu tempat dapat dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi ditempat lain, sekian kilometer jauhnya dan sebaliknya.

Secara singkat, globalisasi dapat diartikan sebagai keterikatan yang saling berhubungan tanpa ada batas pemisah yang nyata. Kendati ada batas sebuah negara atau teritorial suatu wilayah, namun globalisasi telah menggerakkan semua pihak terkait, untuk bisa berhubungan satu dengan lainnya. Alhasil, hubungan yang telah berlangsung, menjadikan satu sama lain kian berdekatan.

Dalam aktivitas ekonomi, saling terhubung dan adanya keterikatan, bisa digambarkan menjadi sebuah rantai pasok kegiatan bisnis. Seperti bisnis minyak sawit yang memiliki rantai pasok global, dimana bahan bakunya sebagian besar berasal dari perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Sebagai produsen terbesar minyak sawit dunia, Indonesia menjadi negara terbesar dunia yang mampu memasok kebutuhan pasar minyak nabati global.

Sejak 2006, produksi minyak sawit mentah (CPO) asal Indonesia sudah melampaui kemampuan Malaysia memproduksi CPO di negaranya. Dengan melebihi kemampuan Malaysia tersebut, maka Indonesia telah menjadi negara terbesar produsen CPO di dunia.

Prestasi yang mampu diraih Indonesia tersebut, menjadi gambaran nyata akan kemampuan dan daya saing industri minyak sawit nasional.
Keperkasaan minyak sawit tak berhenti sebatas itu, sebagai minyak nabati yang memiliki rantai karbon terlengkap (C6-C24), minyak sawit menjadi kian populer di pasar minyak nabati global. Keberadaan CPO yang kian populer tersebut, menjadi kekuatan besar dalam membangun industri turunan minyak sawit di Indonesia.

Hingga 2010, Indonesia berhasil meningkatkan industri hilir minyak sawitnya dengan membangun industri refineri atau pabrik minyak goreng dunia terbesar. Dimana, besarnya kapasitas pabrik minyak goreng sawit, menjadi tolok ukur pembangunan industri hilir lainnya. Secara nyata, keberadaannya turut mengangkat kemampuan membangun industri hilir minyak sawit di Tanah Air.

Alhasil, sebagai industri terbesar CPO, telah menjadikan Indonesia sebagai negara produsen minyak goreng sawit terbesar di dunia pula. Kemudian pada tahun 2014 silam, Indonesia juga berhasil membangun industri biodiesel sawit, dengan kapasitas terpasang sebesar 1,3 juta ton/tahun.

Melalui program mandatori biodiesel sawit yang dicanangkan Presiden Jokowi sejak tahun 2015 silam, maka industri biodiesel sawit terus mengalami pertumbuhan bisnis. Tahun 2021 ini, mandatori biodiesel telah mencapai B30, yang dipasok dari industri biodiesel dengan kapasitas sekitar 12 juta ton/tahun. Di mana, kebutuhan mandatori biodiesel mencapai 9,8 juta ton setiap tahunnya.

Dengan bertumbuhnya industri hilir minyak sawit Indonesia, kian memperkokoh keberadaan minyak sawit Indonesia di mata internasional. Secara nyata, produk minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya, seperti RBD Olein, Fatty Acids, Fatty Alcohol, Glycerine dan Biodiesel telah menjadi produk andalan ekspor yang laris manis di pasar internasional.

Alhasil, berbagai produk turunan minyak sawit tersebut, berhasil membesar dan menjadi produk global di dunia. Dengan produksi minyak sawit nasional dan turunannya yang setiap tahun terus bertumbuh, maka produk nasional ini telah menjadi produk ekspor andalan non migas terbesar Indonesia.

Peningkatan nilai ekspor non migas Indonesia, nilai terbesar berasal dari minyak sawit dan turunannya, telah mencapai sebesar US$ 22,97 Miliar atau senilai Rp. 321,5 Triliun (nilai kurs Rp 14 ribu/US$), turut berkontribusi sebesar 24% dari total pendapatan ekspor Indonesia.

Alhasil, Indonesia kian bertumbuh pesat sebagai negara berkembang yang memiliki dominasi global sebagai produsen minyak nabati global. Dari minyak makanan hingga minyak non makanan yang berhasil diproduksi dari minyak sawit, telah mendorong tumbuhnya bio-industri terbesar dunia, yang memiliki kekuatan utama dari berlimpahnya bahan baku di Indonesia.

Merujuk pendapat Russel (1897) mengenai globalisasi, dimana produk minyak sawit yang dihasilkan Indonesia, telah mampu menjadi produk global. Sehingga menjadikan perusahaan minyak sawit asal Indonesia, sebagai perusahaan global yang mampu menyuplai kebutuhan konsumen minyak nabati dunia.

Alhasil, peningkatan citra minyak sawit Indonesia sebagai produk global juga turut meningkatkan pendapatan devisa dari sektor non migas yang didominasi minyak sawit dan produk turunannya. Sehingga bisnis internasional yang dilakukan, telah menjadikan perdagangan luar negeri Indonesia berhasil menembus batas-batas negara di dunia.

Keberhasilan menembus batas-batas negara ini, merujuk kepada pendapat Giddens (1991) merupakan keberhasilan suatu bangsa di dunia, melakukan bisnis perdagangan global yang mumpuni di dunia. Keberhasilan Indonesia menembus batas-batas negara di dunia ini merupakan keberhasilan kesekian kali dari produk minyak sawit yang dibutuhkan konsumen di dunia.

Secara nyata, kemampuan Indonesia dalam produksi dan perdagangan internasional minyak sawit, turut mendorong produk minyak sawit dan turunannya sebagai produk global. Sehingga globalisasi bisnis minyak sawit, akan menjadi kekuatan baru bagi Indonesia dalam bisnis internasional di masa depan. [ipe]

Penulis: Ignatius Ery Kurniawan, Mahasiswa Sekolah Bisnis IPB, Penggiat Media InfoSAWIT.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA