Jasindo: Konsorsium Sudah Bayar Klaim Migas

IN
Oleh inilahcom
Rabu 14 Juli 2021
share
PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Bisnis Strategis PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), Syah Amandaris bilang, konsorsium asuransi sudah membayarkan klaim beberapa insiden di proyek hulu migas.

Hal itu sebagai tugas dalam memberikan proteksi dalam setiap proyek yang dijalankan oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) atau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Aris mengungkapkan, nilai klaim yang dibayarkan oleh konsorsium asuransi aset industri, sumur dan aset LNG mencapai sekitar USD523 juta. Ke depan, kata dia, nilai klaim diperkirakan akan meningkat. Hal itu seiring dengan mulai membaiknya industri hulu migas yang dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.

"Kami konsorsium di mana Jasindo menjadi leadernya telah memberikan proteksi terhadap 128 blok migas baik di offshore dan onshore. Jadi ini cukup banyak dan Alhamdulillah kita bisa jalankan peran untuk memproteksinya dengan sangat baik," ujarnya.

Dia mengatakan, Konsorsium Asuransi proyek konstruksi SKK Migas dan KKKS sudah membayarkan klaim mencapai sekitar USD524,16 juta. Kemudian, sejak 2010 hingga 2021 ini konsorsium yang juga dipimpin oleh PT Jasindo ini telah melakukan pembayaran klaim sebanyak 121 klaim baik untuk aset ataupun konstruksinya.

Selain itu, lanjutnya, jika dirinci jumlah klaim itu terdiri dari 97 klaim untuk aset dengan nilai USD323,32 juta. Sisanya sebanyak 24 klaim untuk proyek konstruksi dengan nilai USD200,83 juta.

"Kami konsorsium berperan penting dalam proyek hulu migas. Bisa dibayangkan kalau proyek itu tidak diasuransikan betapa besarnya biaya yang dikeluarkan oleh negara melalui SKK Migas atau KKKS ketika terjadi hal- hal yang tidak diinginkan," katanya.

Menurut Aris, berdasarkan dari pengalamannya menangani klaim pada proyek hulu migas, ada tiga contoh mega proyek yang berhasil dibayarkan klaim asuransinya lantaran terjadi gangguan saat menjalankan proyek. Pertama adalah proyek offshore Eni Muara Bakau BVJangkrik Gas Field Development Project pada tahun 2014 dengan nilai klaim sebesar USD2,53 miliar.

Kemudian, proyek offshore dan onshore BP Berau Ltd LNG Train 3 Tangguh Expansion Project pada tahun 2017 dengan nilai USD450 juta (offshore) dan USD2,5 miliar (onshore). "Kemudian proyek onshore PT Pertamina EP Cepu Jambaran Tiung Biru Gas Unitization Project dengan nilai klaim USD860,87 juta pada tahun 2017 lalu," imbuhnya.

Di kesempatan yang sama, Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas, Arief Setiawan Handoko menegaskan bahwa kedepan tantangan dan fungsi industri asuransi menjadi sangat vital. Sebab keberadaannya menjadi salah satu faktor penentu dari suksesnya pencapaian target produksi minyak sebanyak 1 juta BOEPD dan 12 miliar gas kaki kubik di tahun 2030.

Arief menjelaskan, industri hulu migas merupakan salah satu industri dengan tingkat risiko paling tinggi. Padahal di saat yang bersamaan, sektor ini menjadi sektor yang padat modal dan padat teknologi serta SDM. Oleh sebab itu perlu ada salah satu skema perlindungan yang baku agar seluruh kegiatan investasi di sektor hulu migas bisa berjalan dengan baik.

"Keterlibatan asuransi cukup besar, bahkan sejak masa BP migas. Asuransi terbukti mampu menyelesaikan klaim-klaim dan mampu mengurangi kerugian yang diderita KKKS. Maka butuh support dari berbagai pihak termasuk industri asuransi dalam memberikan perlindungan terhadap aset dan kegiatan pada hulu migas," katanya.[tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA