https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   24 July 2021 - 16:16 wib

Anomali Laptop Merah Putih di Masa Pandemi

Pembatasan sosial yang membuat orang terpaksa bekerja dan belajar dari rumah selama masa pandemi Covid-19 turut membuat lonjakan kebutuhan masyarakat terhadap gadget atau gawai, seperti halnya laptop.

Produk laptop yang dirakit di Indonesia masih sangat terikat dengan komponen impor. Perencanaan pemerintah untuk membuat karya anak bangsa atas lahirnya laptop Merah Putih mencuat melalui Dikti Edu untuk kebutuhan program sekolah belajar dari rumah salah satunya memicu antusiasme atas harapan tersebut. Namun sejumlah pihak mengingatkan perlunya untuk terus menggarap serius produk ini dan komponen lokal yang utuh sebenarnya.

Berdasarkan data Kemenperin, nilai impor perangkat laptop dalam lima tahun terakhir dari 2016 - 2020 sudah mencapai US$ 1 miliar, atau setara dengan Rp14 triliun dengan kurs (Rp 14.000/US$). Laporan dari Lokadata yang dilansir dari badan pusat statistik (BPS) bahkan menyebut impor laptop termasuk notebook dan subnotebook Indonesia pada 2020 mencapai 6.011,62 ton. Produk tersebut tersebut paling banyak berasal dari China yakni 183.349 kilogram dan di luar itu berasal dari Australia dan Singapura.

Screenshot-482

Sementara permintaan produk laptop di Indonesia sekitar 3 juta unit per tahun dengan market share produk impor sampai 95%, dan 5 % untuk produk laptop dalam negeri. Maka ke depan, Perusahaan teknologi produsen laptop asal Indonesia seperti Zyrex bersiap untuk mengambil pangsa pasar yang lebih besar sehingga Laptop bikinan Indonesia bisa menjadi tuan di negaranya sendiri.

Tujuannya dengan adanya laptop Merah Putih juga tak lain untuk meningkatkan tingkatan Kandungan Dalam Negeri (TKDN) produk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), mengurangi ketergantungan terhadap impor laptop.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah tengah menjawab perhatian untuk mendorong produk dalam negeri dan berupaya membangkitkan industri TIK dalam negeri melalui berbagai program, termasuk penyediaan akses pasar, penyerapan produksi dalam negeri untuk barang dan jasa pemerintah, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga permodalan.

“Belanja pemerintah untuk produk dalam negeri betul-betul kita dorong. Tidak boleh kita impor - impor,” ujar Luhut dalam siaran YouTube Kemenko Marves, Kamis, (23/24/07/2021).

Gejolak pasar disrupsi pandemi Covid-19 terhadap rantai pasok komponen dinilai juga telah berimbas pada kesulitan produsen global untuk menjaga ketersediaan laptop di pasaran. Padahal, pasar laptop dan komputer personal seperti sekarang sedang mengalami peningkatan akibat kebutuhan esensial dari rumah.

Untuk itu Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meminta beberapa perusahaan produsen produk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) melakukan kegiatan Research and Development (R&D) di dalam negeri, khususnya produk chip yang saat ini banyak dicari.

"Agar mereka mendapatkan tax deduction 300%, dan tentu sebagaimana kita ketahui kita arahkan memproduksi chipset yang saat ini telah terjadi kelangkaan di seluruh dunia dan ini berdampak pada produsen laptop dalam negeri yang masih mengandalkan komponen impor," katanya dalam keterangan tertulisnya.

"Ini untuk ekosistem pembuatan mulai dari intellectual property (IP), komponen utama, komponen pendukung," jelasnya.

"Apabila perakitan bisa mencapai 1 - 2 juta laptop dalam negeri maka akan mendorong ODM laptop semakin tertarik memperkuat ekosistem laptop dari Indonesia. Saat ini laptop yang dapat dirakit dalam negeri mencapai 400 ribu unit," jelasnya.


Permintaan Laptop Tinggi

Produsen yang ditunjuk untuk memproduksi laptop lokal Merah Putih nyatanya bukan hanya Zyrex terdapat campur tangan lima produsen laptop dalam negeri  lainnya dengan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 25 persen dan telah dapat memenuhi kebutuhan pengadaan Kemendikbud Ristek dan Pemda pada 2021.

Tercatat, kesiapan produksi laptop dalam negeri sebesar 351.000 unit ada September 2021 dan total sebanyak 718.100 unit pada November 2021.

Fenomena suplai permintaan yang tinggi akan laptop ini pun terkonfirmasi oleh laporan dari firma riset pasar terkemuka, IDC. Research Manager IDC Jitesh Ubrani mengatakan, permintaan, baik dari konsumen perseorangan maupun perusahaan, terhadap komputer dan laptop meningkat drastis pada kuartal III-2020 hingga Q1 2021 ini.

”Secara jangka panjang, kami memprediksikan pengiriman PC akan meningkat seiring dengan tren satu orang satu PC dalam satu rumah tangga,” kata Ubrani dalam laporan IDC pada Q1 2021.

Vice President dari program riset IDC Worldwide Mobile Device Trackers Ryan Reith mengungkapkan, awalnya pihaknya menduga bahwa peningkatan minat konsumen terhadap komputer hanya terjadi pada enam bulan pertama 2020. Namun, tampaknya, minat masyarakat akan tetap terjaga hingga 2021.

”Momentum pasar komputer saat ini sangat baik. Konsumen tidak hanya membeli komputer laptop dari kelas pemula, tetapi hingga komputer gaming kelas atas,” ujar Reith.

'Software' Pendidikan Lokal

Sekretaris Direktur Jenderal Dikti, Paristiyanti Nurwardani mengatakan, yang membuat beda laptop merah putih unggulan pemerintah tersebut dibanding laptop lain adalah dibuatnya dengan fitur ekslusif dari sisi perangkat lunak (software) sehingga dapat digunakan oleh kaum tunanetra. Kemudian dilengkapi dengan unik software untuk e-modul Dikti serta secure test.

“Adanya software untuk pelayanan laptop merah putih inklusif karena disiapkan juga untuk mahasiswa disabilitas Fisik - Tuna netra,” kata Paristiyanti, saat dihubungi INILAHCOM, Sabtu (24/7/21).

Lebih lanjut Paristiyanti mengatakan, saat ini untuk kandungan lokal laptop Merah Putih baru mencapai 25-30 %  dan dalam pengembangan ke depannya pemerintah berjanji untuk terus meningkatkan keunggulan dan kemampuan yang dimiliki oleh produk tersebut agar bisa setara dengan produk yang selevelnya.

"Nantinya pada tahun 2023 tingkat kandungan lokalnya akan lebih dr 40 - 65% " sambungnya.

Urusan pembuatan laptop merah putih didesain sepenuhnya oleh perguruan tinggi, beserta dengan perangkat lunak yang digunakan. Kemendikbud juga akan terlibat 100 persen dalam proyek Laptop Merah Putih ini. Mulai dari rencana pengadaan atau ide, kemudian peta jalan, hingga desain serta implementasi pembuatan bersama anggota konsorsium.

“Perkembangan laptop Dikti Edu, sudah ada pembagian tugas, Design oleh 3 ITB, UGM dan ITS. Softwarenya diisi dengan unik seperti untuk mahasiswa tunanetra,” jelasnya.

Laptop Merah Putih ini ditargetkan diproduksi sebanyak 10.000 unit tahun ini. Laptop pertama akan dibanderol dengan harga Rp5 juta per unit.

Fokus Perkuat SDM

Pemerhati pendidikan dari peneliti sosiologi pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Anggi Afriansyah menanggapi program Laptop Merah putih ini hendaknya jangan hanya fokus pada inovasi produk.

Anggi menyarankan jika tujuannya adanya Laptop merah putih ini untuk menyiapkan infrastruktur untuk digitalisasi sekolah, maka juga perlu dipersiapkan sumber daya manusianya. Perlu ada pelatihan kepada guru maupun siswa dalam program digitalisasi itu.

"Digitalisasi sekolah memang penting, tapi jika diperhatikan, tidak semua wilayah di Indonesia sudah memiliki akses yang memadai sehingga berbagai perangkat digital bisa optimalkan ," kata Anggi kepada INILAHCOM, Sabtu(24/07/2021).

Ia melanjutkan sekarang ini dunia pendidikan lebih dibutuhkan untuk meningkatkan fasilitas sekolah, peningkatan kapasitas guru, pemberian vitamin dan makanan sehat untuk guru, tenaga pendidikan, orangtua dan siswa.

“Concern pada pendampingan dalam peningkatan kompetensi guru juga menjadi penting” ujarnya.

Selama pandemi, banyak guru yang beradaptasi menggunakan teknologi digital untuk pembelajaran. Namun tak sedikit yang masih terkendala baik karena faktor usia maupun karena kendala teknologi.

Karena itu, pelatihan menggunakan teknologi digital untuk mencari dan memanfaatkan sumber belajar digital dalam pembelajaran tetap diperlukan. Pelatihan juga agar disesuaikan dengan kebutuhan/program sekolah.

Kunci pembelajaran di era digital, menurut Nadia Fairuza, peneliti Center for Indonesian Policy Studies, adalah bagaimana guru dapat mengintegrasikan teknologi digital dalam pembelajaran secara efektif. Belakangan ini, pelatihan-pelatihan untuk guru belum banyak menyentuh hal tersebut.

Hal lain yang perlu dikembangkan dalam pelatihan guru adalah literasi digital. Literasi digital tidak hanya kompetensi menggunakan perangkat teknologi seperti internet maupun gawai dengan baik, tetapi yang lebih penting bagaimana menggunakan perangkat seperti laptop merah putih yang dicanangkan ini nantinya secara bertanggung jawab bisa maksimal. [rok]

 

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

IXU

Cara Memeriksa Masalah dan Meningkatkan Performa PC

Pertanyaan:  Setelah setahun dipakai kenapa Komputer saya kerap lemot, apakah ada yang salah l
berita-headline

Inersia

Semester I 2021, Pasar PC di Indonesia Membaik

Pasar PC, termasuk komputer dan laptop, tercatat membaik pada semester pertama 2021 dibandingkan