https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   24 July 2021 - 17:07 wib

Ramai Ivermectin, Jokowi Cek Oseltamivir

INILAHCOM, Bogor - Oseltamivir disebut sebagai salah satu obat Covid-19, kini ketersediannya sulit didapati.

Kelangkaan itu diketahui ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengecek langsung ketersediaannya di apotek Kota Bogor, Jawa Barat.

“Assalamualaikum, saya mau cari obat antivirus yang Oseltamivir,” ucap Presiden Jokowi ketika menyambangi apotek di Kota Bogor, seperti disiarkan dalam kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Apoteker menjawab, obat Oseltamivir sudah lama kosong. Bahkan, mereka kesulitan mendapatkan obat untuk mengatasi infeksi virus influenza tersebut.

"Nah itu kita juga sudah tidak dapat barang. Oseltamivir itu kalau yang generik sudah lama Pak. Kemarin itu masih ada merek Drufir, itu patennya, tapi sekarang juga sudah kosong," kata Apoteker, saat menjawab pertanyaan Presiden.


Vitamin D3 5000 Juga Nihil

Tidak hanya obat Oseltamivir yang sudah lama kosong. Namun, vitamin pun demikian. Kepada Presiden Jokowi,  Apoteker menyampaikan, stok Vitamin D3 yang dosisnya 5000 sudah lama kosong bahkan barangnya tidak bisa dipesan lagi.


"Vitamin D3 yang 1000 ada, yang 5000-nya sudah tidak ada Pak. Kita sudah pesan barang, barangnya sudah tidak dapat lagi Pak," kata Apoteker.

Sementara itu, dari berbagai sumber diketahui vitamin tersebut digunakan untuk menaikkan kadar vitamin D bagi pasien yang kekurangan vitamin D. Yakni, dengan menstimulus penyerapan kalsium dan fosfat dari usus halus, menstimulus reabsopsi fosfat pada tubulus renal, dan menstimulasi sekresi kalsium dari tulang menuju peredaran darah.


Presiden Tanya Menkes


Presiden Jokowi, yang mendapati adanya kelangkaan obat antivirus dan vitamin langsung menghubungi  Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

"Halo Pak Menteri, Pak saya cek ke apotek di Bogor, saya cari obat antivirus Oseltamivir enggak ada, cari lagi obat antivirus yang Favipiravir juga enggak ada kosong. Saya cari yang antibiotik Acetromicin juga enggak ada," kata Presiden saat menghubungi Meskes lewat sambungan telepon seluler.


Menskes lalu menjawab terkait pertanyaan Presiden tersebut.

"Saya ada catatan Pak Presiden. Kita kan sudah ada yang online. Saya barusan cek ya Pak misalnya untuk Favipiravir di Apotek Kimia Farma Tajur baru ada 4.900, apotek Kimia Farma Juanda 30 ada 4.300, Kimia Farma di Semplak Bogor ada 4.200. Jadi nanti saya double check ya. Nanti saya kirim ke ajudan Pak, itu ada data online yang ada di rumah sakit, nanti bisa dilihat by kota segala macam untuk apoteknya Kimia Farma, Century, Guardian, K24," jawab Menkes.


Polemik Ivermectin dan Jokowi Blusukan ke Bogor

Pengecekan ketersediaan obat Covid-19 oleh Presiden Jokowi  di Kota Bogor,  diyakini tidak terlepas dari politik. Karena semua hal yang dilakukan pemerintah dalam hal ini Presiden, pasti memiliki tujuan tertentu, entah untuk kepentingan politik pemerintah atau hal terkait lainnya.
 
"Selalu ada unsur politiknya. Tapi tidak selalu politik itu negatif ya, pasti ada positifnya. Dalam konteks pak Jokowi ke sana (Bogor), bagaimana ia lihat di lapangan sebelum mengambil kebijakan  untuk kepentingan rakyat. Ini Unsur konteks politik yang positif," kata Pakar  Komunikasi Politik Emrus Sihombing kepada INILAHCOM.


Bila ditelisik, jauh sebelum Jokowi melakukan pengecekan obat Oseltamivir di Bogor, republik ini telah ramai membahas obat Ivermectin.

Bahkan, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengaku telah memasok obat Ivermectin ke anggota-anggota Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Moeldoko, juga Ketua HKTI itu, menyebut Ivermectin yang diketahui merupakan obat cacing ini, efektif menyembuhkan Covid-19.

Masih hal yang sama terkait Ivermectin, namun kali ini konteksnya berbeda. Beredar kabar Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan dugaan keterkaitan anggota partai politik, pejabat publik, dan pebisnis dalam penggunaan obat Ivermectin untuk menanggulangi Covid-19.

Sementara itu, Moeldoko tampil membantah keras ICW terkait relasi dengan produsen obat Ivermectin, PT Harsen Laboratories. Mantan Panglima TNI ini, menekankan tidak punya kedekatan dengan produsen Ivermectin. Untuk kebenarannya siapa yang tahu? Hanya ICW, Moeldoko dan Tuhan yang tahu.


Perbedaan Oseltamivir dan Ivermectin

Oseltamivir

Oseltamivir diketahui sebagai obat yang harus melalui proses metabolisme untuk menjadi bentuk aktif di dalam tubuh manusia. Obat ini kerap digunakan untuk mengobati influenza A dan B.

tipe A, misalnya flu burung, atau B. Gejala-gejala seperti batuk, hidung tersumbat, radang tenggorokan, meriang, dan lemas. Dengan demikian Oseltamivir tergolong ke dalam obat antivirus yang bekerja dengan cara menghentikan aktivitas virus untuk berkembang.


Oseltamivir bekerja dengan mekanisme menghambat enzim neuraminidase pada virus influenza yang berperan untuk melepaskan virus baru hasil replikasi sehingga infeksinya menyebar. Namun, virus corona atau SARS-CoV-2 tidak punya enzim neruaminidase yang merupakan sasaran utama dari obat ini.

Namun, karena oseltamivir bisa mengobati infeksi influenza yang mungkin menyertai Covid-19, obat ini dianggap berpotensi meringankan gejala pada pasien yang terkonfirmasi positif.

"Ketika covid muncul orang pada bingung obatnya apa, maka waktu itu masuk dalam panduan covid. Karena yang tersedia cuma itu (Oseltamivir), walaupun secara mekanismenya gak cocok-cocok amat. Tapai kalau diapakai sebagai obat flu mungkin itu bermamfaat," kata Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof Zullies Ikawati, kepada INILAHCOM.


Ivermectin

Ivermectin jauh sebelumnya, digunakan sebagai obat  membasmi infeksi cacing parasit baik di tubuh manusia maupun hewan. Kemudian mengatasi infeksi kutu dan tungau, seperti pada penyakit kudis.

Ivermectin menjadi bahan pembicaraan, setelah usai muncul penelitian di Australia  bahwa ivermectin  dapat menurunkan jumlah virus Corona.

Ada juga riset yang menyebutkan, ivermectin dapat mempercepat proses pemulihan pasien COVID-19 dengan gejala ringan dan mengurangi risiko terjadinya COVID-19 gejala berat.

Meski demikian, perlu diingat juga bahwa hingga saat ini belum ada studi yang dapat membuktikan bahwa ivermectin efektif digunakan untuk mencegah COVID-19.

"Di beberapa negara, ada sudah coba lakukan uji klinik dan dilaporkan beberapa jurnal mengenai penggunaan Ivermectin ini, tetapi hasil dari jurnal-jurnal itu juga masih bervariasi. Masih banyak biasnya, validitas datanya belum bisa diyakini. Jadi ketika Badan POM evaluasi, dapat ijin edar tapi obat cacing antiparasit," tutup Prof Zullies Ikawati. [rok]

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Inersia

Jokowi Pidato di Sidang PBB, Mulai Covid, Afghanistan Sampai Presidensi G20

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pidatonya secara virtual pada sesi debat umum Sidang M
berita-headline

Viral

BPOM Didorong Cek Efektifitas Ivermectin Sebagai Obat Covid-19

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) didorong lebih progresif da
berita-headline

Inersia

Respon Jokowi dan Anies soal Vonis Pencemaran Udara

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (16/9/2021) resmi mengabulkan sebagian gugatan pencema