https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   25 July 2021 - 09:40 wib

PPKM Dilonggarkan Atau Diperpanjang, Jangan Lengah

INILAHCOM, Jakarta - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akan dilonggarkan. Bagaimana dampaknya terhadapat kondisi pandemi di Indonesia?

Pemerintah mengganti istilah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat menjadi PPKM Level 4.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyebut, perubahan itu disesuaikan dengan berubahnya kebijakan terkait pembatasan selama pandemi Covid-19.

"Perubahan istilah tersebut adalah bentuk yang tidak dapat terelakkan dalam perubahan kebijakan sehingga menghindari kesalahpahaman yang ada dari bentuk kebijakan sebelumnya," kata Wiku dalam konferensi pers yang ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (22/7/2021).

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Tjandra Yoga Aditama mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi kenaikan jumlah kasus kematian karena kasus Covid-19.

PPKM level 4 akan berakhir pada Minggu, (25/07/2021). Adapun masukan yang diberikan Tjandra Yoga dalam hal ini dilihat dari berbagai aspek.

“Tanggal 25 Juli 2021 kita akan memasuki hari terakhir PPKM yang sekarang sedang berjalan, dan tentunya akan diambil keputusan untuk langkah selanjutnya,” kata Prof. Tjandra Yoga kepada INILAHCOM, Jakarta, Minggu, (25/07/2021).

Anjuran WHO

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara itu menjelaskan keputusan yang akan diambil nantinya seharusnya sejalan dengan anjuran World Health Organization (WHO) Indonesia dalam Situation Report 21 Juli 2021 beberapa hari yang lalu.

“Maka situasi Indonesia sekarang memerlukan Public Health and Social Measure (PHSM) yang ketat atau stringent, tentu dalam bentuk pembatasan sosial dan pembatasan pergerakan movement restriction,” kata mantan Dirjen P2P Kementerian Kesehatan itu.

Tiga Hal yang Diperhatikan jika Terjadi Pelonggaran

Jika memang dipikirkan atau dipertimbangan akan dilakukan pelonggaran maka perlu dihitung betul dampaknya pada sedikitnya tiga hal, berikut:

1. Korban yang mungkin akan jatuh sakit dan bahkan meninggal
2. Beban Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes)
3. Pada ujungnya kemungkinan dampak pada roda ekonomi juga kalau kasus jadi naik tidak terkendali.

“Jangan sampai pelonggaran diberikan karena alasan ekonomi dan lalu situasi epidemiologi jadi memburuk maka dampak ekonominya malah bukan tidak mungkin jadi lebih berat lagi,” tambah Tjandra.
 
Angka Kematian Masih Tinggi


Pada kenyataannya angka kematian masih terus tinggi dan bahkan meningkat, sudah lebih seribu lima ratus orang sehari dengan PPKM sekarang ini.

“Dalam hal ini tentu perlu untuk diantisipasi kemungkinan kenaikan kematian lagi kalau PPKM dilonggarkan,” Papar mantan kepala Balitbangkes itu.

Masih menurutnya, jika kematian sudah dengan sering terjadi maka hal ini tidak dapat dikembalikan lagi.

Angka Kasus Positif Belum Melandai

Tjandra Yoga menjelaskan, hingga kini angka kepositifan positivity rate dalam beberapa hari terakhir masih sekitar 25 persen dan bahkan kalau berdasar PCR maka angkanya lebih dari 40 persen.

“Kita juga berhadapan dengan varian Delta yg angka reproduksinya (Ro atau mungkin Rt) nya dapat sampai 5,0 - 8,0. Artinya potensi penularan di masyarakat masih amat tinggi sekali, sehingga pembatasan sosial masih amat diperlukan untuk melindungi masyarakat kita dari penularan dan dampak buruk penyakit Covid-19,” tegasnya.

Nakes Harap Bisa Bernafas Lega saat PPKM

Dokter Jaka Pradipta spesialis Paru pada akun twitternya  @jcowacko menulis harapannya ketika PPKM darurat ditetapkan sejak awal Juli 2021.

“Semoga PPKM darurat ini membuat kita bisa menarik napas sejenak dari kepanikan keluarga yang mencari bed IGD, antrian panjang mengisi tabung oksigen, serta lelahnya para nakes dan tukang penggali kubur yang bekerja keras dalam dua minggu terakhir ini,” ujar Jaka pada akun twitternya.

Meski PPKM diperketat atau dilonggarkan, masyarakat harus tetap taat terhadap protokol kesehatan. Karena, melihat situasi hingga saat ini, pandemi belum berakhir. Protokol kesehatan meliputi cuci tangan menggunakan air mengalir, menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.[rok]
 

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan