https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   27 July 2021 - 16:16 wib

Inovasi Pembersih Udara Untuk Cegah Covid-19

INILAHCOM, Jakarta - Penyebaran virus Covid-19 melalui partikel aerosol di dalam ruangan sangat rentan menyebar dari faktor kelembaban sehingga disini menjadi sangat penting selain pemakaian masker dan menjaga jarak. Belakangan beredar informasi atas penelitian terbaru yang mengungkap penggunaan air purifier dengan Hepa filter efektif menurunkan risiko penyebaran Covid-19.

Penelitian terbaru yang dirilis oleh Centers of Disease Control and Prevention (CDC) memaparkan bahwa air purifier dengan Hepa filter mampu meminimalisir risiko penularan Covid-19 melalui aerosol lewat udara dimana ini berisiko kian besar terjadi di dalam ruangan gedung atau perkantoran.

 Ehxk-LCf-UMA08-It-O

Di DKI Jakarta, berdasarkan data pada Dinas kesehatan pada akhir 2020, perkantoran tercatat menjadi salah satu kluster terbesar penyebaran covid-19 dengan angka 2323 Kasus. Penyebaran tertinggi berasal dari kantor instansi pemerintah yakni Kementerian Perhubungan (319 kasus), Kementerian Kesehatan (262 kasus), dan Kementerian Pertahanan (147 kasus).

Untuk mencegah penyebaran di kluster perkantoran atau ruangan tertutup lainnya, salah satu hal yang perlu menjadi fokus yaitu sirkulasi dan mutu udara.

Cara Kerja Hepa filter

Hepa filter alias high efficiency particulate air secara teori bekerja dengan filter yang menyaring berbagai polutan udara, partikel atau alergen yang ada di dalam udara tersebut akan disaring dan dieliminasi. Kemudian udara yang sudah bersih akan kembali diembuskan ke ruangan.

Filter ini bermanfaat untuk menmbersihkan udara dan menyaring permukaan dari debu dan partikel-partikel yang memicu alergi.



Filter tersebut dapat membantu menjaga kemurnian udara di dalam rumah Anda. Hepa filter biasanya ditemukan pada alat penyedot debu dan air purifier yang dijual secara bebas di pasaran.

Kebanyakan orang memanfaatkan filter jenis ini untuk mencegah reaksi alergi dan serangan asma, karena mampu menyerap partikel-partikel yang sangat kecil.

Hepa filter untuk Covid-19

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kemungkinan adanya penularan Covid-19 lewat udara pada kondisi ruangan tertutup, ramai, dan memiliki ventilasi udara tak baik.

Sejumlah riset membuktikan transmisi SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, melalui udara. Salah satunya, riset dilakukan pada acara paduan suara. Sebanyak 53 orang dari 61 anggota paduan suara tertular Covid-19 saat berada di ruang tertutup. Padahal, mereka mencuci tangan dan menjaga jarak.

Sebelumnya, rekomendasi dari CDC untuk mencegah penyebaran virus ini adalah dengan menggunakan masker, menjaga jarak, dan memperbaiki sirkulasi udara di dalam ruangan.

Penelitian dilakukan dengan simulasi penyebaran virus SARS-CoV-2 di dalam ruangan dengan menambahkan air purifier dengan Hepa filter. Penelitian dilakukan di dalam ruang rapat dan melakukan tiga macam simulasi.

Hasilnya pembersih udara dengan filter ini bisa mengurangi paparan aerosol di dalam ruangan hingga 65 persen tanpa penggunan masker. Sedangkan penggunaan masker saja di dalam ruangan tanpa air purifier bisa melindungi terpapar aerosol hingga 72 persen.

Kombinasi keduanya, air purifier dengan Hepa filter dan penggunaan masker, tercatat mampu mengurangi resiko penularan Covid-19 hingga 90 persen.

Mengeliminasi

Wakil Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Centre PP Muhammadiyah dr. Corona Rintawan, Sp.Em mengatakan, penularan Covid-19 lewat udara perlu diwaspadai di ruangan dengan penyejuk ruangan atau AC yang memiliki sirkulasi udara tertutup. Kondisi ini bisa menyebabkan virus bisa bertahan lama di udara dengan jarak penularan yang cukup luas.

"Dalam konteks penyebaran virus SARS Cov-2 melalui udara yaitu aerosol, maka baik atau buruknya ventilasi dalam ruang tertutup menjadi sangat krusial dalam mengurangi risiko penularan," ujarnya saat dihubungi INILAHCOM, selasa (27/7/2021).

Ia juga melanjutkan jaga jarak serta mencuci tangan dengan air mengalir juga tetap diterapkan secara optimal. Selain itu, masker harus selalu digunakan meskipun berada di dalam ruangan. Lalu ruang Ventilasi dapat diperbaiki dengan cara natural (membuka jendela atau pintu) atau cara mekanis (memasang exhaust atau air purifier).

"Penggunaan Hepa filter pada purifier atau exhaust akan sangat membantu untuk menangkap partikel virus yang ada di udara secara efektif. Satu analisa model penularan menyebutkan bahwa penularan masih terjadi hampir 100% pada orang yang memakai masker jika kualitas ventilasi ruangan tersebut buruk." katanya.

‘Hepa Filter’ Lokal

Di Indonesia, sebenarnya sudah tersedia berbagai produk yang memiliki cara kerja sejenis Hepa filter namun dengan sedikit terobosan baru, termasuk peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang mengembangkan alat untuk meningkatkan mutu udara di dalam ruangan tertutup.

Tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) turut mengembangkan inovasi pembersih udara semacam Hepa dengan teknologi berupa alat untuk meningkatkan mutu udara di ruangan tertutup. Inovasi yang tentu bertujuan untuk mengurangi risiko penularan Covid-19.

Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merilis mesin untuk memperbaiki kualitas udara yang diberinama airborne nano-trapping technology for anti-Covid treatment (Attact).

Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, Nurul Taufiqurochman saat dihubungi menjelaskan, Attact merupakan alat pembersih udara dengan memakai ultra violet germicidal inactivation (UVGI), sabun atau pembersih bakteri, dan trapping yang dilapisi teknologi nano.

751697-1200

Penggabungan teknologi dan komponen itu membuat udara yang disedot akan dikeluarkan kembali menjadi lebih bersih dan sehat.Secara sederhana, sistem kerja Attact mirip dengan mesinn kombinasi AC dan Hepa Filter.

Namun, yang membedakan yakni udara yang dikeluarkan dari kedua mesin itu. Mesin pendingin udara akan menghasilkan suhu udara lebih dingin karena ada proses campuran kimia berupa senyawa refrigerants. Sementara Attact tidak menghasilkan udara dingin, tetapi lebih sejuk dan segar.

“Dalam proses pembersihan, udara juga akan disinari ultra violet jika ada virus atau bakteri yang lolos. Selanjutnya, melalui proses trapp, air yang bercampur sabun akan menempel di trapp itu agar udara yang keluar bersih. Jadi udara yang mengandung virus, bakteri, dan partikel lain akan disedot dan dicuci dengan pengkabutan,” ujar Nurul.

Satu alat Attact dirancang untuk menjangkau ruangan dengan ukuran maksimal 10 x 10 meter seperti ruang resepsionis, ruang rapat, ruang ibadah lobi, rumah sakit, maupun ruang tamu. Attact tidak membutuhkan perawatan rumit karena hanya perlu penggantian atau penambahan air dan sabun satu minggu sekali.

“Kami berharap dukungan pemerintah dalam fase uji coba produksi dan early adapter (pelopor). Usaha mengembangkan produk dalam negeri juga harus makin cepat dan ditingkatkan karena banyak sekali produk luar negeri yang masuk ke Indonesia,” katanya. [rok]

 

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Rp24 Miliar Disiapkan untuk Anak Yatim karena Covid-19

Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp24 miliar untuk anak-anak
berita-headline

Viral

Gelar Vaksinasi, Unwiku Rangkul Masyarakat Setempat

Universitas Wijayakusuma (UNWIKU) Purwokerto menggelar vaksinasi Covid-19 untuk mahasiswa dan mas
berita-headline

Inersia

Agar Tidak Tegang Divaksin, Warga Tangerang Dihibur Sejumlah Badut

Program vaksinasi COVID-19 di wilayah Sudimara Pinang, Tangerang,
berita-headline

Viral

Ada Siswa Terpapar Covid-19, Sekolah Wajib Tutup 3 Hari

Saat ini sejumlah daerah telah melakukan sekolah tatap muka atau pembelajaran tatap muka (PTM) te
berita-headline

Viral

Ribuan Imigran Asal Timur Tengah di Puncak Belum Divaksin

Sedikitnya 1.400 orang para pencari suaka atau imigran asal Timur Tengah yang menetap di kawasan