https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   05 August 2021 - 08:48 wib

Hati-Hati dengan Doa!

Hati-hati dengan doa! Nanti saya berita tahu mengapa. Sekarang izinkan saya bercerita.

Inilah.com, mungkin Anda pernah mendengar nama situs berita itu. Dulu sempat menjadi salah satu yang teratas dan terbesar, salah satu pionir di dunia portal berita. Hampir semua peselancar Internet membacanya. Saya menggandrunginya ketika mahasiswa, 13 tahun yang lalu.

Namun, lazimnya dunia kompetisi, inilah.com tenggelam, tak terlihat lagi di permukaan. Pendatang baru dengan ide dan inovasi yang lebih segar membuat situs ini makin sulit untuk bersaing, traffic-nya pun terjun bebas, manajemen tak bisa menahan beban nama besarnya.

Menariknya, situs ini tidak mati. Berdiri Februari 2008, 13 tahun yang lalu, inilah.com masih ada dan mempekerjakan puluhan jurnalisnya. Manajemen perusahaan masih berjalan meski tanpa gairah. Berita-beritanya masih update meski gagal membangun percakapan publik di media sosial. Iklan-iklan masih datang untuk sekadar cukup. Dan kantor megahnya di bilangan Jakarta Selatan masih berdiri kokoh meski kurang terawat. Singkatnya, inilah.com masih bertahan.

Saya sendiri tak pernah lagi mengunjungi secara sengaja portal berita ini. Maksudnya sengaja mengetik www.inilah.com di browser untuk mengetahui berita tertentu. Kalaupun sempat saya kunjungi, mungkin itu dari tautan yang kebetulan mengemuka, misalnya tersebar di grup WhatsApp (Mungkin setelah ini Anda akan membuka browser dan mengunjunginya!)

Padahal, saya ingat, dulu tahun 2008 atau 2009, ketika masih mahasiswa, portal berita ini termasuk salah satu yang sering saya kunjungi. Untuk sekadar mengecek berita terbaru atau mengintip kabar gosip. Waktu inilah.com sedang jaya-jayanya, ia pernah menjadi portal berita teratas nomor 5 di Indonesia.

Ketika itu, saat saya masih menggunakan internet di bilik warnet seberang kampus seharga Rp4.000 per jam, bolak-balik untuk meng-copy data dengan USB, bersabar dengan kecepatan Internet 256-512 kbps, di sela-sela loading lama halaman inilah.com mungkin saya sempat berdoa, “Suatu hari, saya akan punya media sendiri seperi ini. Saya akan ambil alih inilah.com.”

Barangkali itu jadi doa yang sungguh-sungguh karena dibacakan oleh seorang mahasiswa kere yang rela tidak makan malam untuk bisa ke warnet. Didengar dan dicatat malaikat di sela-sela koneksi internet yang lambat, saat PC Intel Pentium II dengan monitor tabung susah payah memanggil halaman web menggunakan kecepatan Internet negara dunia ketiga. Malaikat jadi kasihan.

Bertahun-tahun kemudian, doa itu muncul lagi di layar iPad Pro 2021 dengan kecepatan Internet 100 Mbps. 10 Mei 2021, tiga hari sebelum Hari Raya Idul Fitri tahun ini, saya mengunjungi situs itu lagi. Memori nostalgia bermekaran di kepala saya. Beberapa menit sebelumnya, seorang laki-laki 57 tahun baru saja memberi saya sebuah tawaran, “Mau nggak kamu memimpin inilah.com? Saya serahkan sepenuhnya. Perusahaan media ini butuh figur baru.” Katanya.

Orang yang memberi tawaran itu adalah pendiri dan pemilik inilah.com. Muchlis Hasyim namanya, MHJ. Saya tidak pernah melamar, tidak pernah menyiapkan CV, tidak pernah bercerita apapun soal pengalaman dan minat saya di industri kreatif dan media. 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, saya baru mengenalnya sebagai teman i’tikaf di masjid Al-Ihsan, Bekasi Selatan.

Selama 10 hari itu tempat tidur saya bersebelahan dengan Bang Muchlis, setiap hari diskusi soal banyak hal yang tak ada hubungannya dengan media, tiba-tiba di akhir Ramadhan saya dipasrahi inilah.com? Tanpa wawancara, tanpa presentasi. Waktu itu saya belum mengiyakan.

“Saya istikharah dulu, Bang. Meminta petunjuk.” Jawab saya. Tapi istikharah saya juga dibarengi istikharah aktual. Setelah lebaran, saya melakukan riset tentang portal berita ini dan apa yang bisa dikembangkan. Saya datangi kantornya, ngobrol dengan para jurnalisnya, memikirkan sejumlah rencana. Termasuk meminta restu orangtua.

Ada beberapa wartawan inilah.com yang saya ajak bicara. Mereka sudah bekerja sejak portal berita ini berdiri, melewati masa-masa susah dan senang. Mereka bercerita bagaimana kerja-kerja jurnalistik mereka bisa menolong banyak orang. Inilah yang pada akhirnya menggerakkan saya untuk menerima tawaran itu, doa saya yang lain: Saya ingin menolong dan bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang.

Jika melalui media saya bisa melakukan itu, tentu akan saya perjuangkan doa saya. Sebagai penulis, saya sudah menyaksikan bagaimana kata-kata bisa menjadi medium untuk menggerakkan orang. Di inilah.com saya bisa mengerjakan apa yang disebut sebagai “jurnalisme solusi”, jurnalisme yang bukan hanya mengangkat persoalan, tetapi mendorong dan menggerakkan penyelesaiannya.

Maka sejak Juli saya mulai bekerja membenahi inilah.com. Saya dan kawan-kawan mulai dengan merenovasi kantornya, dari sana semua energi akan diperbaiki. Karyawan dan jurnalis disegarkan kembali. Website dan aplikasinya dibangun ulang, tanggal 17 Agustus besok akan dilaunching kembali. Media sosial disegarkan. Cerita baru akan dimulai. Sekarang saya memimpin inilah.com.

Ini bukan kerja mudah, tapi akan sangat menarik. Saya bertugas menulis ulang kisah inilah.com yang saya ceritakan di awal artikel ini, mengubah keadaan. Hari-hari indah akan datang jika kita serius memperjuangkannya, bukan? Apalagi saya tidak sendirian, ada banyak kawan hebat berkolaborasi untuk membuat inilah.com menjadi salah satu media penting yang diperhitungkan. Menjadi manfaat untuk sebanyak mungkin orang.

Saya percaya hari-hari gemilang itu akan datang. Hati-hati dengan doa!

Salam baik.

Fahd Pahdepie, CEO Inilah.com

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Menelusuri Kebenaran Polemik Doa Iftitah UAH yang Dipermasalahkan

Sebagian dari kita mungkin masih saja disibukkan dengan perdebatan terkait ibadah (ikhtilaf) kese
berita-headline

Viral

Soal Ceramah UAH Disinggung PWNU Jatim, Cak Nanto: Kami Harap Pahami Secara Utuh Ceramahnya

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto atau Cak Nanto mengajak semua tokoh agama u