Pendeta Damanik: Gus Dur tak Pernah Dibaptis

IN
Oleh inilahcom
Kamis 11 Februari 2010
share
Alm. KH Abdurahman Wahid - Inilah.com/Agung Rajasa

INILAH.COM, Palu - Tokoh agama Kristen di Sulawesi Tengah Pendeta Rinaldy Damanik mengatakan bahwa mantan Presiden RI KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) tidak pernah dibaptis seperti diisukan beberapa waktu lalu. "Beliau hanya didoakan oleh umat Kritiani," katanya dalam dialog pluralisme dan kebangsaan berthema "bedah pemikiran Gus Dur dan gerakan kebangsaan dan kultural" di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Kamis (11/2).Pdt Rinaldy Damanik yang tampil sebagai salah satu pembicara itu menegaskan, "dibaptis dan didoakan itu beda. Saya juga pernah didoakan oleh Abu Bakar Ba'asyir waktu kami sama-sama dipenjara. Apakah dengan begitu saya juga sudah Islam, kan tidak. Apakah saling mendoakan itu salah," kata Damanik.Menurut Damanik, umat Kristiani mendoakan Gus Dur adalah bukti kecintaan mereka terhadap tokoh bangsa itu.Laman NU on-line mengatakan, compac disk (CD) yang beredar bahwa Gus Dur seakan-akan dibaptis sempat menimbulkan kontroversi. Padahal saat itu Gus Dur dikelilingi beberapa pendeta, romo dan Cyndi Charkate, seorang utusan khusus dari Amerika Serikat untuk melakukan doa bersama dipimpin Pendeta Sudi Darma, yang tangannya diarahkan ke arah Gus Dur, diikuti ribuan pendeta, romo, jema'at Kristiani dengan diiringi ucapan 'Semoga Allah Bapa yang bertahta di Sorga, Allah Abraham, Ishak dan Yakub memberkati Gus Dur, haleluya, amien."Saya juga heran kenapa ada yang bilang Gus Dur dibaptis. Yang betul itu, Gus Dur didoakan," katanya menegaskan.Damanik yang namanya menjadi santer saat konflik Poso beberapa tahun lalu mengatakan, Gus Dur merupakan manusia langka dan kerap mengundang kontroversi. Di satu sisi Gus Dur seakan mengedepankan sekularisme, tapi di sisi lain Gus Dur juga mengutamakan simbol-simbol keagamaan seperti pesantren, kiyai.Gus Dur, kata Damanik, menolak eksploitasi hukum agama dalam kehidupan berbangsa yang pluralis.Damanik merupakan salah satu tokoh Kristen yang pernah bertemu Gus Dur di Ciganjur Agustus 2007, ketika itu Damanik sedang penelitian studi magister.Damanik mengatakan, Gus Dur membagi tiga corak pemikiran tokoh-tokoh muslim di Indonesia. Pertama, pendekatan alternatif yang memandang Islam sebagai sistem nilai yang lengkap dan menjadi alternatif bagi sistem nilai yang ada.Kedua, kata Damanik, pendekatan budaya. Corak pemikiran ini katanya, bahwa yang terpenting bukan struktur barat, tetapi bagaimana umat Islam dibudayakan melalui nilai-nilai Islam untuk membentuk kehidupan Islami di dalam konteks budaya setempat.Ketiga, kata dia, pendekatan sosial politik. Corak pemikiran ini menekankan usaha perubahan institusi yang ada dengan mengacu kepada ajaran Islam, tetapi tanpa menjadikan Islam sebagai alternatif kelembagaan.Sebelumnya, Damanik juga sempat bertemu Gus Dur pada Agustus 2000 di Istana Negara. Damanik bertemu guna membicarakan konflik Poso.Menurut Damanik, Gus Dur waktu itu berkata, "saya heran, kenapa kamu bunuh-bunuhan di Poso, yang satu teriak haleluya yang satu teriak Allahu Akbar," kata Gus Dur seperti dikemukakan Damanik.Saat Damanik hendak menyampaikan jumlah korban jiwa akibat konflik Poso, Gus Dur mengatakan, "tidak perlu bicara angka. Satu saja yang dibunuh, itu sudah banyak sekali, sebab siapa sih yang berhak mencabut nyawa seseorang. Intinya kamu jangan mau diadudomba. Di Poso itu kan yang terjadi rebutan pangkat dan lahan, bukan pertentangan agama. Agama mana sih yang memerintahkan bunuh membunuh," kata Gus Dur seperti diceritakan Damanik.Menurut Damanik, pesan Gus Dur tersebut syarat dengan makna, kaya dengan pesan spritual.Dia mengatakan, pikiran-pikiran Gus Dur, jangan hanya dibedah tetapi harus diangkat dalam hidup keseharian.Damanik malah merindukan, bahwa di kalangan Kristen ada juga sosok pendeta seperti karakter Gus Dur. [*/cms]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA