Otak Merespon Stres Warga Ibu Kota

BA
Oleh Billy A Banggawan
Sabtu 25 Juni 2011
share
Foto : Ist

INILAH.COM, Jakarta Ibu kota selalu identik dengan hal-hal yang bisa membuat orang yang tinggal di dalamnya merasa stres, termasuk karena macet dan sebagainya. Otak memiliki cara tersendiri meresponnya.

Orang, lalu lintas, dan kejahatan. Hal-hal ini menjadi beberapa alasan yang membuat Anda merasa stres ketika tinggal di ibu kota. Kini, riset terbaru menunjukkan, otak penghuni ibu kota merespon stres lebih kuat dibanding penghuni desa.

Hasil studi pada respon otak terhadap stres dan ibu kota ini diterbitkan dalam jurnal Nature. Hasil studi juga menunjukkan, terdapat dua daerah otak yang terlibat regulasi emosi dan stres yang bisa berpotensi merugikan.

Potensi merugikan ini terjadi jika seseorang hidup di sebuah kota. Penelitian baru ini menggali ke dalam penjelasan biologis mengapa studi lain menemukan risiko gangguan kecemasan lebih tinggi dari 21% dan risiko gangguan mood meningkat 39%.

Parahnya, peningkatan-peningkatan risiko ini hanya dialami orang-orang yang tinggal di ibu kota. Pada tahap pertama studi, 32 partisipan sehat melakukan tugas aritmatika di bawah tekanan waktu.

Sementara itu, para peneliti memeriksa otak mereka menggunakan pencitraan magnetik resonansi fungsional (fMRI). Hasilnya, peneliti menemukan, amigdala (daerah berbentuk almond di otak yang terkait respon stress) orang yang tinggal di ibu kota mengalami peningkatan aktivitas.

Hasil ini berlawanan dengan orang yang tinggal di pinggiran kota dan daerah pedesaan. Dalam studi lanjutan, 23 partisipan yang terlibat tugas mental yang sedikit berbeda mendapat hasil negatif dari peneliti.

Di sini, penulis studi Florian Lederbogen dari University of Heidelberg menemukan pola yang sama dalam aktivitas amigdala di antara orang-orang yang tinggal di ibu kota. Di saat sama, orang yang besar di ibu kota sering menunjukkan aktivitas pada korteks anterior cingulate perigenual, pemain utama stres.

Penulis studi kemudian meneliti 24 orang yang kebanyakan tinggal di pinggir kota dan daerah pedesaan. Hasilnya, orang-orang ini tak menunjukkan respon stres. Daerah otak yang diidentifikasi dalam studi ini telah lama diketahui akan aktif dalam kondisi stress.

Namun, studi ini menjadi bukti pertama hidup di ibu kota bisa membuat Anda merespon lebih banyak stres, papar asisten profesor psikologi di University of Alabama David Knight yang tak terlibat studi ini.

"Lebih banyak studi perlu dilakukan guna menentukan apakah respon-respon otak ini antar orang yang tinggal di ibu kota atau besar di ibu kota sebenarnya baik atau buruk," lanjut Knight.

Studi ini tak secara langsung mampu menjawab pertanyaan seberapa lama harus tinggal di ibu kota sehingga efek ini bisa terjadi, atau seberapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk liburan agar bisa terbebas dari lingkungan sibuk ini.

Terdapat bukti yang baik, terlalu banyak stres bisa membahayakan otak. Di sisi lain, jika Anda berada di tempat harus bereaksi lebih cepat dan penuh semangat pada ancaman potensial, respon stres bisa bermanfaat.

"Mungkin, berada di lingkungan yang sibuk, hal-hal yang memicu stres adalah hal-hal yang perlu diprioritaskan. Jadi, sebenarnya otak Anda lebih merespon peristiwa yang lebih membuat Anda stres agar Anda lebih memprioritaskannya," tutupnya. [mdr]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA