Mengenal GHB, Obat yang Dipakai Reynhard Sinaga

IN
Oleh inilahcom
Rabu 08 Januari 2020
share
Reynhard Sinaga - (ist)

KETIKA Reynhard Sinaga membawa korbannya ke apartemen miliknya, ia memberi mereka obat bius yang dicampur ke minuman beralkohol sebelum melakukan pemerkosaan.

Menyusul vonis bersalahnya atas 159 kasus pemerkosaan, Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel meminta agar kontrol terhadap obat-obatan seperti GHB ditinjau ulang.

Apa itu GHB?

Mengutip BBC News, Gamma Hydrozybutyrate (GHB) biasa disebut sebagai obat pemerkosaan (date rape drug), tapi juga digunakan untuk rekreasi.

Obat ini biasa digunakan pria gay dalam chemsex --ketika obat-obatan digunakan untuk meningkatkan pengalaman seks antara dua atau lebih pasangan-- tapi juga digunakan untuk rekreasi dan atas dasar suka sama suka.

Namun, pelaku perkosaan menggunakan GHB sebagai senjata --satu survei di Inggris memperkirakan lebih dari seperempat responden dilecehkan secara seksual dalam keadaan tidak sadar.

GHB adalah obat yang berbeda namun nyaris identik dengan GBL (Gamma Butyrolactone), senyawa yang dijual secara legal sebagai bahan pelarut industri, tapi menjadi GHB setelah masuk ke dalam tubuh.

Kedua obat itu dikenal sebagai 'G', berbentuk cairan minyak bening tak berbau yang dilarutkan ke dalam minuman ringan dan diminum.

Apa efeknya?

G memberi penggunanya perasaan euforia dan meningkatkan dorongan seks. Tapi menambah dosisnya sedikit saja, bahkan kurang dari satu mililiter, bisa berakibat fatal.

Overdosis G --yang mudah terjadi bila dicampur dengan alkohol atau obat lain, dan ketika kadarnya di botol bervariasi-- bisa membuat orang berbicara melantur, mengalami kejang, hilang kesadaran, dan berhenti bernafas.

Profesor Adam Winstock, psikiater konsultan dan pendiri Global Drug Survey, memperingatkan bahwa obat ini sangat berbahaya ketika orang mencoba menggunakannya untuk bersenang-senang.

"Jika Anda kelebihan GHB satu tetes saja, 20 menit kemudian Anda akan tidak sadar," ujarnya.

Berapa banyak kematian yang dikaitkan dengan GHB?

Menurut angka resmi dari Kantor Statistik Inggris, terdapat 120 kematian di Inggris dan Wales antara tahun 2014 dan 2018 yang melibatkan GHB.

Tapi angka totalnya bisa jadi lebih tinggi --GHB tidak menjadi bagian uji toksikologi rutin dalam kasus kematian mendadak.

Menurut Profesor Winstock, obat tersebut bisa jadi sulit dan mahal untuk dideteksi.

Bagaimana dengan pelecehan seksual?

Juga sulit mengetahui dengan pasti berapa banyak pelecehan seksual terkait dengan GHB.

Sebelum vonis Reynhard Sinaga, mungkin kasus yang paling terkenal adalah pembunuh berantai Stephen Port, yang dihukum penjara seumur hidup pada 2016 karena meracuni empat laki-laki muda dengan obat tersebut dalam dosis yang sangat tinggi.

Dari 2.700 pria gay dan biseksual yang pernah menggunakan G, yang meresepon survei yang dilakukan Buzzfeed News dan Channel 4 Dispatches tahun lalu, 28 persen mengatakan pernah dilecehkan.

Patrick Strudwick, editor LGBT BuzzFeed News dan presenter film dokumenter di Channel 4 Sex, Drugs and Murder, menyebut bahwa 'G adalah 'senjata pilihan' pemerkosan pada 2020.

"Karena... obat ini bisa dimasukkan ke dalam minuman seseorang tanpa sepengetahuan mereka dan karena bisa dengan mudah mengakibatkan tidak sadar, sering digunakan oleh predator," ujarnya.

Hal lain yang menghambat kita mengetahui skala masalahnya adalah para korban seringkali tidak melapor ke polisi, menurut Profesor Winstock.

"Orang bisa merasa tidak pasti tentang apa yang terjadi, dan apakah terjadi suatu tindak kejahatan, juga rasa malu, bersalah, dan takut untuk mengungkap informasi yang mungkin akan membuat mereka sangat malu," ujarnya.

Beberapa orang juga takut mereka ikut diperiksa atas dugaan pemakaian obat terlarang, tambah Profesor Winstock.

Apakah obat ini membuat ketagihan?

Ketergantungan pada G bisa berkembang dengan cepat. Profesor Winstock memperingatkan bahwa siapa pun yang telah menggunakannya setiap hari tidak boleh mencoba berhenti tanpa bantuan medis.

"Orang-orang bisa menjadi tergantung secara fisik, dan penarikan diri bisa mengancam jiwa," katanya.

Efek jangka panjang dari penggunaan G berulang kali belum diketahui.

Seberapa umumkah obat ini?

Seperti obat terlarang lainnya, kelaziman G sulit dilacak karena tidak disertakan dalam survei penggunaan obat nasional.

Tapi menurut Strudwick, G mudah didapatkan dan dibeli jika Anda tahu di mana mencarinya, karena 'celah hukum' yang berarti GBL bisa dijual untuk keperluan industri, salah satunya, sebagai penghapus cat.

"Perusahaan-perusahaan mengirimkannya ke orang-orang di Inggris, mengiklankannya di internet... Setelah dijual dalam kuantitas besar, ia kemudian bisa didistribusikan dan dipasok oleh pedagang dalam kuantitas yang lebih kecil melalui aplikasi kencan seperti Grindr," ujarnya.

Dari manakah asalnya?

GHB dikembangkan pada tahun 1960-an sebagai anestesi, tapi tidak digunakan lagi karena efek sampingnya.

Selama tahun 1980-an obat itu digunakan sebagai obat tidur dan suplemen untuk membesarkan otot.

Apakah obat ini legal?

Di Inggris, GHB tergolong obat Kelas C sejak 2003, ketika disertakan dalam Misuse of Drugs Act.

Meskipun GBL digunakan secara legal di industri, obat tersebut juga tergolong Kelas C sejak 2009, dan siapapun yang memasok atau memilikinya, dengan niat untuk dikonsumsi, melanggar hukum.

Ketahuan memiliki kedua obat tersebut bisa diancam dua tahun penjara dengan atau tanpa denda, dan memasuknya bisa diancam 14 tahun penjara dengan atau tanpa denda.

Apakah obat ini terdaftar di Indonesia?

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (BPOM), GHB tidak terdaftar sebagai obat di Indonesia.

"GHB ini masuk dalam golongan new psychoactive substance, narkotika jenis baru yang memang belum ada di Indonesia," kata Rita Endang, Deputi Bidang Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM.

Dia menambahkan, GHB adalah bahan kimia yang tidak akan dapat masuk sebagai obat, karena dilihat dari efek sampingnya, GHB justru digunakan untuk penyalahgunaan obat.

Apakah obat ini termasuk narkotika di Indonesia?

Kepala Biro Humas Badan Narkotika Nasional Brigjen (Pol) Sulistyo Pudjo mengatakan bahwa GBH belum masuk dalam golongan narkotika, menurut UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

"Walaupun dulu pernah dibahas antar kementerian, tapi sampai sekarang belum muncul karena memang untuk dimasukkan golongan narkotika ini kan harus memiliki berbagai sifat karakter narkotika... Obat ini baru memiliki sifat seperti depresan, menyebabkan euforia, tidur, pingsan," kata Brigjen Sulistyo kepada BBC News.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA