Batasan Kecanduan Game, Positif atau Negatif?

IN
Oleh Ibnu Naufal
Jumat 21 Februari 2020
share
(ist)

INILAHCOM, Jakarta - Dalam versi ICD-11, WHO telah menyebut bahwa kecanduan game merupakan disorders due to addictive behavior atau gangguan yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan. Berdasarkan dokumen klasifikasi penyakit internasional ke-11 (Internatioal Classified Disease/ICD) yang dikeluarkan WHO, gangguan ini dinamai gaming disorder.

Gaming disorder oleh WHO digambarkan sebagai perilaku bermain game dengan gigih dan berulang, sehingga menyampingkan kepentingan hidup lainnya.

Adapun gejalanya bisa ditandai dengan tiga perilaku. Pertama, pengidap gangguan gaming disorder akan bermain game secara berlebihan, baik dari segi frekuensi, durasi, maupun intensitas.

Kini dimana zamannya serba digital memperbesar peluang terjadinya kecanduan game. Game online yang mengandung unsur kekerasan, salah satunya dengan tema peperangan, sangat mudah diakses. Sehingga anak-anak dengan kapasitasnya, kerap meniru adegan-adegan berbahaya, dan akhirnya menimbulkan korban.

Menanggapi permasalahan ini, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang memiliki subsektor bidang game dan aplikasi, mengaku pihaknya mengaku bisnis game memang sifatnya candu namun harus dilihat dari sisi positifnya.

"Game itu memang dibuat untuk bikin candu tapi disini candu yang dimaksud untuk yang positif untuk Game yang masuk ke Indonesia ada lokalisasi. Hal-hal yang berbau kekerasan dikurangi, seperti game yang keluar darah. Kita lakukan censorship agar lebih sopan," kata Hari Santosa Sungkari, Deputi Infrastruktur Bekraf saat menjawab pertanyaan INILAHCOM dalam peluncuran game Rise of Nowlin, di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) pun telah meluncurkan situs Game Rating System (IGRS).

Melalui situs IGRS.ID, para developer game dapat melakukan pendaftaran dan pengujian secara mandiri terhadap produk-produknya (self assesment) agar sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menkominfo No. 11 Tahun 2016, sehingga terklasifikasi dalam kelompok usia pengguna.

Bagi masyarakat, termasuk orang tua, keberadaan IGRS dapat membantu pemilihan game yang sesuai dengan usia penggunanya, sehingga diharapkan permainan interaktif elektronik yang beredar di masyarakat dapat memenuhi rasa aman.

"Di Indonesia ada IGRS. Tidak semua game itu untuk semua umur. Ada yang (diberi rating) 13 tahun, 18 tahun, kalau seperti itu anak kecil tidak boleh," tutur Hari.

Sementara Auliya Ilman Fadli, General Manager Games Division Telkomsel mengatakan, sebagai publisher di dunia games pihaknya telah menerapkan sistem identifikasi usia jadi game yang dimainkan merasa sudah cukup aman dikonsumsi sesuai dengan segmen usianya.

"Contoh pada sistem Android di Google Play Store sudah memiliki identifikasi usia masing-masing sehingga sudah cukup aman," ujarnya.

Lain soal di negara seperti China telah memberlakukan pembatasan waktu bermain game online bagi anak-anak dan remaja. Ini langkah terbaru dari tindakan tegas pemerintah China menangani masalah kecanduan game online yang menjerat anak-anak dan kaum muda di negaranya.

Sesuai peraturan itu, mereka yang berusia di bawah 18 tahun tidak dapat bermain game online dari pukul 22.00 hingga 08.00. Mereka hanya boleh bermain game online pada siang hari dan hanya bermain selama 90 menit atau 1,5 jam.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA