The Orde Rilis Mini Album via Platform Digital

IN
Oleh inilahcom
Senin 09 Maret 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Industri musik Tanah Air kembali kedatangan band pendatang baru yaitu The Orde yang mencoba peruntungan lewat jalur indie.

Terbentuk di Jakarta pada 2014 silam, The Orde yang digawangi oleh Adri, Dodi, Abdi, dan Gani, resmi merilis mini album bertajuk 'Not Yeet' yang berisikan tiga lagu, yakni 'More and More', 'Rebellion Lover', dan 'Stuck on the War'.

Mini album ini sudah tersedia di berbagai macam platform musik digital seperti Spotify, iTunes, YouTube Music, dan Deezer.

Mengenai warna musik, Dodi, salah seorang personil The Orde, mengatakan bahwa mereka cenderung lebih menonjolkan kebebasan asiknya bermusik.

"Jadi kalau soal genre kami nggak terlalu concern ke arah situ. Intinya musik yang kami create kurang lebih juga ada pengaruh dari segala macam jenis musik/genre yang kita dengerin selama ini," ujarnya.

Dari tiga lagu di mini album milik The Orde, kebetulan semuanya memakai lirik Bahasa Inggris. Menanggapi hal ini, Adri, sang vokalis sekaligus sosok yang berperan dalam penulisan lirik menjelaskan bahwa tiga lagu dalam Bahasa Inggris ini justru hanya sebuah kebetulan.

"Kebetulan aja, bukan diniatkan liriknya harus Bahasa Inggris juga. Kita punya kok beberapa lagu yang liriknya Bahasa Indonesia, mungkin di next project akan kita keluarkan. Tapi untuk yang mini album ini, cukup dikejar waktu, makanya kita rilis yang materinya yang udah jadi," jelas Adri.

Munculnya The Orde di industri musik Indonesia tak lepas dari peran Dharma Nuckelar, personil band Lyla yang kini menyibukkan diri sebagai produser beberapa band indie. The Orde adalah salah satu band yang diproduseri oleh Dharma.

"Kalau untuk project baru gue, sekarang ini lagi coba memproduseri beberapa band baru juga. Sebenarnya yang gue bentuk sekarang masih publishing dan digital maintenance, bukan label. Jadi, lebih menjaga hak cipta teman-teman band atau artis yang gue bantu lah. Tapi gue sekalian mem-produce juga," kata Dharma.

Tak sendiri, dia dan personel Lyla lainnya juga membangun Magic no.7 untuk membantu para musisi atau band baru untuk berkarya.

"Proses produksi udah mulai berjalan dari Desember kemarin, beberapa di antaranya ada Rendi Herpy, The Orde, Revi, Staman, dan lain-lain," ujar Dharma.

Meski dirinya besar di major label bersama Lyla, namun Dharma memiliki perspektif sendiri terhadap band ataupun musisi indie secara umum.

"Kalau indie itu kan musik yang berkembang dengan sendirinya, bisa dibilang tumbuh dengan cara dan strategi promosi sendiri, bisa bermetamorfosis sendiri. Sedangkan kalau band major dipercaya oleh company, setelah itu mereka dipublikasikan oleh company dan dibiayai proses rekamannya sama company. Tapi gue pribadi sebenarnya nggak pernah mau membandingkan antara indie dan major," kata pria 35 tahun itu.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA