Inilah Fugaku, Supercomputer Tercepat di Dunia

TO
Oleh tim ototekno inilahcom
Sabtu 27 Juni 2020
share
(Fujitsu)

INILAHCOM, Kobe - Setelah AS dan China bergantian memegang predikat sebagai pemilik supercomputer terkencang di dunia, kini gelar tersebut beralih ke Jepang melalui sebuah komputer super berjuluk Fugaku.

Nama 'Fugaku' memiliki arti 'Gunung Fuji', yakni gunung tertinggi di Jepang yang kerap menjadi simbol negara itu.

Berada di Kota Kobe, Prefektur Hyogo, supercomputer Fugaku dibangun oleh Fujitsu Ltd yang bekerja sama dengan institut riset Riken Center for Computational Science.

Fugaku berada di posisi teratas dalam daftar Top500, sebuah proyek yang mengukur dan membuat daftar supercomputer tercepat di dunia.

Fugaku juga memuncaki ranking HPCG yang menyusun daftar komputer super terkencang berdasarkan performa AI, serta peringkat pertama Graph 500 yang mengukur kinerja sistem berdasarkan kinerja dalam menangani pengolahan data.

"Ini merupakan kali pertama dalam sejarah di mana sebuah supercomputer duduk di urutan pertama Top500, HPCG, dan Graph 500 dalam waktu bersamaan," sebut pihak institut Riken Center for Computational Science, dalam sebuah postingan di laman web resminya.

Dalam peringkat Top500, Fugaku mencatat skor LINPACK sebesar 415,53 Petaflops, jauh lebih tinggi dibandingkan pesaing terdekatnya asal AS, Summit, yang mencatat 148,6 Petaflops.

Sedangkan untuk benchmark HLP-AI yang digunakan di HPCG, skornya mencapai 1,421 Exaflops.

Sementara, di Graph 500, nilainya 70.980 gigaTEPS, jauh di atas supercomputer TaihuLight asal China yang berada di urutan kedua dengan skor 23.756 gigaTEPS.

Sebagai supercomputer, tak mengherankan jika Fugaku memiliki ukuran yang besar dan membutuhkan tempat yang luas.

Dibutuhkan tempat seluas 1.920 meter persegi atau kira-kira sebesar empat lapangan basket untuk menampung keseluruhan rangkaian Fugaku.

Supercomputer ini memiliki hampir 7,3 juta core prosesor ARM yang berjalan dengan kecepatan 2,2GHz, berikut memori 4,85 petabyte.

Fugaku membutuhkan pengeluaran sangat tinggi. Anggaran enam tahun untuk sistem dan pengembangan teknologi terkait berjumlah sekitar US$1 miliar atau sekitar Rp14,3 triliun,

Sangat jauh berbeda dibandingkan dengan label harga US$600 juta atau sekitar Rp8,6 triliun pada sistem supercomputer terbesar besutan AS yang masih direncanakan.

Mengutip New York Times, Fugaku kini digunakan untuk membantu riset terkait wabah virus corona (COVID-19), termasuk dalam hal diagnosa, penanganan, serta simulasi penyebarannya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA