Astronom Rilis Peta 3D Terbesar Alam Semesta

TO
Oleh tim ototekno inilahcom
Rabu 22 Juli 2020
share
 

INILAHCOM, New Mexico - The Sloan Digital Sky Survey (SDSS) telah mempublikasikan analisis menakjubkan tentang alam semesta. Dipublikasikan dalam 23 makalah, proyek bernama Extended Baryon Oscillation Spectroscopic Survey (eBOSS) ini mengukur lebih dari 2 juta galaksi dan quasar. Dan hasil akhirnya berupa peta tiga dimensi (3D) terbesar dari alam semesta.

Meskipun pengamatan sebelumnya telah memetakan galaksi terdekat dari Bima Sakti dan menelitinya pada Cosmic Microwave Background (CMB), tapi ada celah dalam data tersebut.

"Kita tahu sejarah kuno pembentukan semesta dan ekspansi terakhirnya. Namun, ada kekosongan pada 11 miliar tahun tersebut," papar Kyle Dawson, pemimpin peneliti dari University of Utah, seperti dilansir dari Science Alert.

"Selama lima tahun, kami telah bekerja untuk mengisi kekosongan itu. Kami menggunakan informasi yang sudah ada untuk mengetahui kemajuan besar kosmologi dalam dekade terakhir," tambahnya.

Peta ini merupakan pemahaman terbaik kita tentang laju ekspansi alam semesta sejak Big Bang. Hasil studi menegaskan bahwa ekspansi alam semesta mulai berjalan sekitar enam miliar tahun lalu dan kemudian semakin cepat setelahnya. Diduga ekspansi disebabkan oleh zat yang dikenal sebagai energi gelap.

"Diambil bersamaan, analisis terperinci dari peta eBOSS dan eksperimen SDSS kini telah memberikan pengukuran sejarah ekspansi paling akurat dalam rentang waktu semesta," jelas Will Percival, eBOSS Survey Scientist dari University of Waterloo.

"Studi ini memungkinkan kita untuk terhubung dengan semua pengukuran dan menjadikannya satu kisah mengenai ekspansi semesta," imbuhnya.

Para ahli astrofisika telah mengetahui selama bertahun-tahun bahwa alam semesta mengembang, tetapi tidak mampu mengukur tingkat ekspansinya dengan tepat.

Perbandingan pengamatan eBOSS dengan studi sebelumnya tentang alam semesta pada masa awal telah mengungkapkan perbedaan dalam tingkat ekspansi.

Laju yang saat ini diterima --disebut 'konstanta Hubble'-- diketahui 10 persen lebih lambat dari nilai yang dihitung dari jarak antara galaksi terdekat dengan kita.


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA