Studi Terbaru Tim Ilmuwan Italia

'Mimpi Merupakan Kelanjutan Kehidupan Dunia Nyata'

TO
Oleh tim ototekno inilahcom
Selasa 08 September 2020
share
 

INILAHCOM, Roma - Peradaban kuno mengintepretasikan mimpi sebagai kekuatan supernatural atau spiritual. Sementara masyarakat modern cenderung menganalisis mimpi dengan kehidupan nyata dengan mencoba mencari koneksi bermakna yang menghubungkan isi mimpi dengan pengalaman sehari-hari.

Sementara itu, sejumlah ilmuwan telah mengungkapkan tentang 'hipotesis kesinambungan mimpi', yakni bahwa mimpi kebanyakan merupakan kelanjutan dari apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

"Ternyata kehidupan sehari-hari memengaruhi mimpi. Misalnya, kecemasan dalam hidup mengarah ke mimpi dengan pengaruh negatif. Sebaliknya, mimpi yang baik memengaruhi kemampuan kita dalam memecahkan masalah," kata Alessandro Fogli, ilmuwan komputer dari Roma Tre University, Italia, dalam studi terbaru, seperti yang dikutip dari Science Alert.

Teori-teori psikologis seperti ini sudah ada sejak penelitian Sigmund Freud dan yang lainnya pada abad ke-20. Mereka memelopori gagasan bahwa makna mimpi yang tersembunyi dapat terungkap jika melihat pengalaman dunia nyata orang tersebut.

Dalam analisis mimpi kontemporer, terapis berusaha membantu pasien menafsirkan mimpi mereka melalui penggunaan laporan mimpi, mencari petunjuk, simbol, dan struktur yang mungkin sesuai dengan bagian lain dari kehidupan nyata si pemimpi.

Salah satu sistem yang paling dihormati untuk menafsirkan laporan mimpi adalah sistem Hall & Van de Castle. Sistem itu menyusun mimpi berdasarkan karakter yang muncul di dalamnya, interaksi yang dimiliki karakter tersebut dan efek interaksi terhadap karakter.

Namun, masalahnya dengan sistem ini adalah proses yang lambat dan memakan waktu dalam menyaring laporan mimpi secara manual untuk mengidentifikasi elemen-elemen ini. Oleh sebab itu, para ilmuwan tidur terus mencari solusi algoritmie yang secara otomatis dapat mengenali dan membuat anotasi isi mimpi sesuai sistem Hall & Van de Castle.

Dalam studi terbarunya, Alessandro Fogli dan timnya hadir dengan cara baru untuk melacak mimpi orang dalam skala besar. Mereka menganalisis 24 ribu data dari 'bank mimpi' terbesar atau yang biasa dikenal dengan 'DreamBank'.

"Kami membuat alat yang secara otomatis dapat menilai laporan mimpi dengan mengoperasikan skala analisis mimpi dari Hall & Van de Castle," kata para peneliti.

"Kami memvalidasi keefektifan alat pada laporan mimpi yang dianotasi dengan tangan, kemudian menguji apa yang oleh para ilmuwan tidur disebut 'hipotesis kontinuitas' pada skala yang belum pernah dilakukan sebelumnya," imbuh mereka.

Alat pengolah mimpi yang baru dikembangkan ini menyederhanakan sistem Hall & Van de Castle: mengurai teks laporan mimpi dan berfokus pada karakter, interaksi sosial, dan kata-kata emosi.

"Ketiga dimensi tersebut dianggap paling penting dalam membantu interpretasi mimpi karena menentukan plot tentang siapa yang hadir, tindakan apa yang dilakukan dan emosi mana yang diungkapkan," papar tim peneliti.

Ketika membandingkan hasilnya dari alat pengolah bahasa dengan catatan laporan mimpi yang dianotasi tangan oleh para ahli mimpi, itu menunjukkan kesesuaian hingga tiga per empat. Bukan skor sempurna, tetapi perkembangan teknologi seperti ini dapat mengarah ke terobosan baru dalam penelitian mimpi.

Hasil studi ini juga mendukung hipotesis kontinuitas tadi, bahwa mimpi adalah kelanjutan dari apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut para peneliti, laporan mimpi mengandung beberapa 'penanda statistik' yang mencerminkan apa yang dialami pemimpi di dunia nyata.

Meski sulit untuk menafsirkan arti mimpi kita sebenarnya dan dari mana asalnya, para peneliti mengatakan bahwa pendekatan seperti ini akan mempermudah untuk mengukur aspek penting dari mimpi. Bahkan memungkinkan untuk 'membangun teknologi yang menjembatani kesenjangan antara kehidupan nyata dan mimpi'.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA