Jakarta Gunakan 27 Sensor Pantau Kualitas Udara

IN
Oleh ibnu naufal
Kamis 24 September 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI bersama dengan Bloomberg Philanthropies dan Vital Strategies meluncurkan kerja sama berupa Aksi Menuju Udara Bersih Jakarta.

Menurut Gubernur DKI Anies Baswedan, para pakar memperkirakan bahwa polusi udara turut berkontribusi terhadap 5,5 juta kasus infeksi saluran pernapasan karena polusi di Jakarta setiap tahunnya, atau dengan kata lain, terdapat 11 kasus per menit.

Dalam event tersebut, Pemprov DKI dan Bloomberg Philanthropies turut mengumumkan beberapa inisiatif untuk mengatasi masalah polusi udara di Jakarta, termasuk website dan dokumen 'Menuju Udara Bersih Jakarta'.

Langkah pertama yang disampaikan dalam dokumen tersebut adalah Pemantauan Kualitas Udara Ambien, dimana salah satu inisiatif adalah memperbesar jaringan pemantauan kualitas udara di Jakarta.

Sebagai aplikasi kualitas udara lokal yang telah diluncurkan pekan ini, Nafas telah memasang 27 sensor kualitas udara di berbagai titik DKI Jakarta. Setiap sensor itu nantinya dapat memberikan data kualitas udara real-time bagi pengguna melalui aplikasi.

Aplikasi pemantauan kualitas udara ini memberikan data kualitas udara di DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, dan Depok.

"Data yang benar-benar lokal sangat penting untuk mengetahui kualitas udara di sekitar mereka. Hal inilah yang membuat kami merancang nafas untuk terhubung ke total 45 jaringan sensor PM2.5 kami sendiri di Jabodetabek," ungkap Nathan Roestandy, Co-founder & CEO Nafas.

"Sensor yang kami gunakan juga dipakai di lebih dari 400 pemerintah lokal di seluruh Eropa termasuk Inggris, Belanda, Norwegia, Polandia, Italia, Jerman, Belgia dan lain-lain," tambah Piotr Jakubowski, Co-founder & Chief Growth Officer Nafas.

Dengan jaringan 45 sensor yang sudah terpasang, Nafas berharap data kualitas udara ini bisa dipakai pemerintah dan juga publik dengan aplikasi yang mudah dipakai dan dibaca.

Isabella Suarez dari Southeast Asia Analyst di CREA (Center For Research on Energy and Clean Air) salah satu organisasi yang menjalankan riset tentang polusi udara mengungkapkan, "Jaringan pemantauan yang besar memungkinkan warga Jakarta tidak hanya memantau udara yang mereka hirup secara real time, tetapi juga memberi mereka alat yang ampuh untuk memastikan bahwa inisiatif penting ini berjalan seperti yang dijanjikan."

Salah satu contoh case study kesuksesan pemasangan jumlah sensor pemantauan kualitas udara adalah Breathe London, inisiatif pemerintah kota London di Inggris. Dengan menciptakan jaringan 100 sensor, proyek tersebut melengkapi kekurangan data area dengan tingkat polusi tinggi yang tadinya belum terpenuhi.

Dengan data jaringan pantauan kualitas udara yang luas, pemerintah Kota London, Inggris mengimplementasikan beberapa inisiatif, berefek pada penurunan konsentrasi polutan sebanyak 36 persen dalam kurun waktu 6 bulan, dan pemetaan data tersebut juga membantu menurunkan tingkat polusi dan kebijakan pengendalian polusi sesuai target.

"Proyek Breathe London adalah contoh menarik. Berkat kehadiran jumlah alat pemantauan kualitas udara yang tinggi, hal ini mampu membawa kesuksesan kepada kota untuk mengatasi masalah polusi udara. Kami harap akses kepada data kualitas udara dari aplikasi nafas mampu membantu Pemprov DKI mencapai inisiatif 'Menuju Udara Bersih Jakarta'," tutup Piotr.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA