Langgar Pelaporan Emisi, Toyota Didenda Rp2,5 T

IN
Oleh inilahcom
Selasa 19 Januari 2021
share
 

INILAHCOM, New York - Toyota Motor Corp diharuskan membayar denda sebesar US$180 juta atau sekitar Rp2,5 triliun untuk menyelesaikan penyelidikan sipil berkepanjangan oleh Departemen Kehakiman AS atas keterlembatan pengajuan laporan adanya cacat pada sistem emisi kendaraan.

Toyota pertama kali mengungkapkan kasus itu pada tahun 2016 bahwa mereka sedang diselidiki atas laporan tertunda ke Badan Perlindungan Lingkungan (EPA).

Departemen Kehakiman AS sebelumnya belum mengonfirmasi penyelidikan hingga pengumuman pada 14 Januari 2021 oleh Kantor Kejaksaan AS di Manhattan, New York, bahwa pemerintah telah mengajukan gugatan perdata terhadap produsen mobil Jepang tersebut.

Secara bersamaan, otoritas AS itu mengumumkan penyelesaian, yang mencakup keputusan persetujuan yang membutuhkan laporan kepatuhan setengah tahunan, demikian lansir Reuters.

Toyota akan mencatatkan US$180 juta dalam biaya setelah pajak terhadap pendapatan pada tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2021, untuk biaya yang berkaitan dengan perjanjian penyelesaian tersebut.

Pemerintah AS mengatakan penyelesaian tersebut menyelesaikan pelanggaran sistematis dan sudah berlangsung lama terhadap persyaratan pelaporan cacat terkait emisi yang diatur dalam Undang-Undang Udara Bersih, yang mengharuskan produsen melaporkan potensi kerusakan dan penarikan yang memengaruhi komponen kendaraan yang dirancang untuk mengontrol emisi.

"Toyota menutup mata terhadap ketidakpatuhan, gagal memberikan pelatihan, perhatian, dan pengawasan yang tepat terhadap kewajiban pelaporan Clean Air Act," kata pejabat pengacara AS, Audrey Strauss, di New York.

Dia menambahkan bahwa Tindakan Toyota merusak sistem pengungkapan diri EPA dan kemungkinan menyebabkan penarikan kembali (recall) terkait emisi yang tertunda atau dihindari, yang menghasilkan keuntungan finansial bagi Toyota dan emisi polutan udara yang berlebihan.

Raksasa otomotif Jepang itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa perusahaan hampir lima tahun lalu mengidentifikasi dan melaporkan sendiri kesenjangan proses yang mengakibatkan penundaan dalam pengajuan laporan EPA non-publik tertentu untuk cacat terkait emisi pada kendaraan.

"Meskipun penundaan pelaporan ini mengakibatkan dampak emisi yang dapat diabaikan, jika ada, kami menyadari bahwa beberapa protokol pelaporan kami tidak memenuhi standar tinggi kami, dan kami senang telah menyelesaikan masalah ini," kata Toyota dalam pernyataannya tersebut.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA