Tantangan Membangun Data Center Masa Depan

IN
Oleh inilahcom
Kamis 17 Juni 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Perkembangan fasilitas pusat data kian semarak seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital. Schneider Electric memperkirakan industri Teknologi Informasi (TI) akan mengkonsumsi 8,5% listrik global pada tahun 2035, dimana sebagian besar dari konsumsi ini berasal dari data center. Malah, diperkirakan jika pada tahun 2025, penggunaan energi oleh industri TIK akan membengkak menjadi 20,9 persen dari total global, menyumbang 5,5 persen dari emisi gas rumah kaca global.

Hal ini berarti upaya untuk memastikan kelestarian lingkungan semakin lebih besar. Saat ini telah banyak perusahaan yang sadar dan mulai memperhatikan konsumsi karbon mereka dengan cermat dan meminimalkan beban mereka terhadap lingkungan.

"Dunia menghadapi tantangan besar dalam memerangi perubahan iklim. Pelaku bisnis memiliki peran penting untuk mendukung pencapaian target global pada tahun 2030. Penggunaan energi yang berkelanjutan harus menjadi pondasi dalam semua aspek bisnis. Begitu pula komitmen perusahaan dalam mengadopsi solusi inovatif untuk mencapai tujuan keberlanjutan," kata Cluster President Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, Roberto Rossi, di Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Business Vice President Secure Power Schneider Electric Indonesia & Timor Leste Yana Achmad Haikal menambahkan, kesuksesan bisnis saat ini semakin bergantung pada data center yang andal dan berkelanjutan, serta mitra penyedia layanan yang bertanggung jawab.

"Pelaku bisnis mencari penyedia layanan data center yang dapat menerapkan pendekatan yang lebih beragam dan fleksibel untuk kebutuhan migrasi cloud dan edge mereka, membangun ekosistem digital yang lebih kuat, dan membutuhkan lebih banyak dukungan dalam upaya menggabungkan fitur produk sebagai bagian dari layanan yang mereka berikan kepada pelanggan," ucap Yana.

Schneider Electric pun memperkenalkan dua solusi terbarunya ke pasar Indonesia yang semakin memperkuat strategi digital customer dalam membangun data center yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Pertama EcoStruxure Micro Data Center 43U yang menawarkan kapasitas terbesar di lini micro data center komersial dan kantor perusahaan dan dapat dipantau dari jarak jauh dengan EcoStruxure IT Software and Digital Services. Menghemat hingga 48% biaya Capex, dan 40% biaya field engineering, serta mengurangi biaya perawatan sebesar 7%. Dirancang untuk segmen perbankan, financial services, retail, healthcare, pemerintahan, and lembaga pendidikan.

Kedua, Galaxy VL yang merupakan UPS compact yang sangat efisien menawarkan efisiensi hingga 99 persen dalam mode ECOnversion untuk ROI dalam kurun waktu dua tahun untuk data center skala menengah dan besar, fasilitas komersial dan industri. Dirancang untuk dapat diskalakan sesuai kebutuhan bisnis dengan meminimalkan biaya kepemilikan. Dilengkapi dengan Fitur Live Swap, fitur pertama yang menghadirkan desain sentuh yang aman selama proses penambahan atau penggantian modul daya saat UPS dalam keadaan online dan beroperasi penuh, meningkatkan kelangsungan bisnis tanpa adanya downtime.

Schneider Electric Perusahaan teknologi digital melihat saat ini data center jadi tumpuan perusahaan untuk mengubah menjadi digital. Data center juga harus dikelola secara lebih efisien, cerdas, adaptif, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Roberto Rossi mengatakan, pelaku bisnis di Asia termasuk Indonesia memiliki peluang untuk menjadi yang terdepan dalam aksi iklim. Salah satunya dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam rangka peningkatan efisiensi untuk pengembangan pasar secara berkelanjutan dan pengembalian imbal hasil yang tinggi dalam jangka panjang.

"Di Schneider, keberlanjutan adalah inti dari bisnis kami. Misi kami adalah menjadi mitra digital untuk keberlanjutan dan efisiensi. Kami menunjukkan kepemimpinan kami dengan menjadi contoh dalam operasional dan ekosistem kami sendiri, dan menjadi bagian dari solusi bagi customer kami," tutupnya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA