Siapa Paling Berisiko Kena Corona Varian Delta?

IN
Oleh inilahcom
Jumat 02 Juli 2021
share
 

VARIAN Delta adalah mutasi virus corona yang saat ini paling diawasi, dengan alasan lebih menular daripada varian sebelumnya, bahkan terbukti meningkatkan risiko rawat inap dan bisa mengelabui sistem kekebalan.

Virus corona varian Delta, pertama kali ditemukan di India akhir tahun lalu, di mana menjadi penyebab lonjakan infeksi COVID-19 gelombang kedua dan ribuan kematian di India, yang kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh dunia.

Pekan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa varian Delta adalah jenis virus corona tercepat dan terkuat yang pernah ada.

Varian ini akan dengan mudah 'menyerang' orang-orang yang paling rentan, terutama di tempat-tempat dengan tingkat vaksinasi COVID-19 yang rendah.

Selain di Indonesia, varian Delta juga menjadi varian virus corona yang dominan di berbagai negara lain, seperti Inggris dan AS.

Siapa yang paling berisiko?

Belum lama ini, Inggris merilis data yang menunjukkan seberapa jauh varian Delta telah menyebar dan kelompok mana yang paling rentan terhadap mutasi virus corona jenis ini.

Dari 95 persen kasus COVID-19 beruntun di inggris, menurut data terbaru dari Kesehatan Masyarakat Inggris, orang yang berusia lebih muda, yang tidak divaksinasi, dan sebagian divaksinasi (dengan banyak orang yang termasuk dalam satu atau lebih kategori tersebut) memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi, sementara orang tua masih paling berisiko meninggal akibat infeksi.

Berdasarkan data terbaru dari Inggris, 92.029 kasus dianalisis antara awal Februari hingga pertengahan Juni dan dikaitkan dengan varian delta.

Hampir 82.500 dari total kasus ini tercatat pada orang di bawah usia 50 tahun dan mayoritas (53.822 kasus) ditemukan pada individu yang tidak divaksinasi.

Di antara kasus-kasus dalam kelompok yang tidak divaksinasi, sebagian besar berada di kelompok usia di bawah 50 tahun (52.846 kasus) dan hanya 976 kasus di atas usia 50-an.

Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa telah terjadi 117 kematian di antara orang-orang di Inggris yang terinfeksi varian delta, dengan mayoritas berada di kelompok usia di atas 50 tahun.

Ada delapan kematian di antara usia di bawah 50-an dengan enam di antaranya pada individu yang tidak divaksinasi dan dua lainnya pada orang yang telah menerima satu dosis vaksinasi.

Sementara itu, analisis data yang dilakukan Associated Press menunjukkan, hampir semua kasus kematian akibat COVID-19 di AS sekarang ini, terjadi pada orang yang belum divaksinasi COVID-19.

"Hampir semua kematian COVID-19 di AS sekarang terjadi pada orang yang tidak divaksinasi, sebuah demonstrasi mengejutkan tentang seberapa efektif vaksin COVID-19," kata laporan Associated Press.

Bahkan, indikasi kematian per hari turun menjadi di bawah 300, dan kemungkinan bisa mencapai nol, jika semua orang telah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap.

Analisis Associated Press ini berdasarkan data pemerintah AS yang tersedia dari Mei menunjukkan 'terobosan', bahwa orang yang divaksinasi lengkap hanya menyumbang kurang dari 1.200 dari lebih dari 853.000 orang yang dirawat inap akibat COVID-19. Itu berarti hanya sekitar 0,1 persen.

Efektivitas vaksin COVID-19

Data dari Inggris menunjukkan, bahwa kasus varian Delta pada orang yang telah divaksinasi satu dosis dan bahkan yang telah divaksinasi dosis lengkap, berada pada tingkat yang lebih rendah.

Dari 92.029 total infeksi yang dikaitkan dengan varian Delta, hampir 20.000 tercatat pada orang yang telah menerima satu dosis vaksin COVID-19 (baik sebelum dan setelah 21 hari setelah dosis pertama) dan 7.235 infeksi dikonfirmasi pada orang yang telah menerima vaksin dua dosis.

Data tersebut berfungsi sebagai pengingat, bahwa tidak ada vaksin COVID-19 yang saat ini ditawarkan memberikan perlindungan 100 persen.

Meski demikian, vaksin resmi yang telah beredar saat ini terbukti efektif memberi perlindungan dari gejala parah dan risiko rawat inap. Itu sebabnya, sangat penting untuk mendapatkan vaksinasi dosis lengkap demi mendapatkan perlindungan terbaik.

Data terpisah dari Kesehatan Masyarakat Inggris menunjukkan bahwa dua dosis suntikan Pfizer-BioNTech atau AstraZeneca-Oxford sangat efektif terhadap rawat inap dari varian Delta.

Sejauh ini Inggris telah memvaksinasi penduduknya sesuai dengan usia dan kebutuhan kesehatan.

Saat ini, semua yang berusia di atas 18 tahun ditawarkan dosis pertama, sementara yang lain berusia 30-an dan 40-an rata-rata telah menerima dosis kedua; hampir 85 persen orang dewasa Inggris sekarang telah menerima satu dosis vaksin dan 61,9 persen telah menerima dua dosis.

Data ini menjadikan Inggris sebagai salah satu negara dengan program vaksinasi paling cepat di dunia.

Risiko kematian bisa dicegah dengan vaksin COVID-19

Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) Rochelle Walensky mengatakan, dengan adanya program vaksinasi yang terus dijalankan, sangat terlihat penurunan dramatis dalam kematian, rawat inap, dan gejala parah pada kasus infeksi COVID-19.

Lebih lanjut, Walensky menyebutkan, vaksin COVID-19 tersedia untuk semua orang dan hampir seratus persen efektif melawan COVID-19 gejala parah dan kematian. Artinya, hampir setiap kematian tragis akibat COVID-19, terutama di antara orang dewasa, pada titik ini sepenuhnya dapat dicegah.

"Virus corona varian Delta ini menyebabkan terlalu banyak orang kehilangan keluarga akibat COVID-19. Tapi sekarang dengan adanya vaksin COVID-19, seharusnya tidak demikian. Kecuali jika masih banyak orang yang tidak divaksin, COVID-19 tentu akan tetap menjadi ancaman," tegasnya.

Sehingga, menurut Jeffrey Zients, Koordinator Tanggap Virus Corona Gedung Putih, sangat penting untuk tidak menunda mendapatkan vaksinasi COVID-19, terutama orang-orang usia muda, sebelum Anda terpapar varian Delta.

Apalagi, penularan varian Delta lebih efektif dan risiko tingkat keparahan penyakit juga lebih tinggi, jka dibandingkan dengan virus corona varian Alpha.

Untuk membantu mengakhiri pandemi ini, para ahli menegaskan untuk segera mendapatkan vaksinasi COVID-19 di mana pun Anda tinggal, tetap kenakan masker berlapis ganda meski Anda telah mendapatkan vaksin dosis penuh, jangan bepergian, jaga jarak, mencuci tangan, dan hindari kerumunan. [CNBC]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA