Rekayasa Genetik Ayam Kembali Berwujud Dinosaurus

IN
Oleh inilahcom
Senin 12 Juli 2021
share
(Live Science)

INILAHCOM, Bozeman - Para pakar biologi di AS pernah mengumumkan bahwa mereka telah memodifikasi paruh embrio ayam agar menyerupai moncong nenek moyang dinosaurusnya. Meski beberapa ahli memuji prestasi itu, paruh hanyalah salah satu dari banyak modifikasi yang diperlukan untuk mengembalikan seekor ayam untuk berwujud menjadi seperti dinosaurus lagi.

Dengan banyaknya tantangan yang ada, sudah seberapa dekat para ilmuwan untuk menciptakan seekor dino-ayam?

"Dari sudut pandang kuantitatif, kami sudah sampai 50 persen," kata Jack Horner, seorang profesor paleontologi di Montana State University dan kurator paleontologi di Museum of the Rockies.

Horner telah lama mendukung gagasan memodifikasi ayam agar terlihat seperti dinosaurus. Dia bahkan sebenarnya ingin memelihara ayam hidup.

Ada empat modifikasi besar yang diperlukan untuk membuat hewan yang disebut chickenosaurus, kata Horner. Untuk mengubah seekor ayam menjadi binatang seperti dinosaurus, para ilmuwan harus memberinya gigi dan ekor yang panjang, dan mengembalikan sayapnya menjadi lengan dan tangan.

Makhluk itu juga membutuhkan mulut yang dimodifikasi. Ini adalah suatu prestasi yang telah dicapai oleh para peneliti yang melakukan studi tersebut, katanya.

"Proyek dino-chicken ini kita bisa menyamakannya dengan proyek bulan. Kami tahu kami bisa melakukannya; hanya saja ada... beberapa rintangan besar," kata Horner seperti dikutip dari Live Science.

Salah satu dari 'rintangan besar' itu telah diselesaikan dalam studi yang pernah diterbitkan di jurnal Evolution pada 12 Mei 2015. Dalam studi tersebut, para peneliti mengubah paruh ayam menjadi moncong dinosaurus.

Langkah yang tampaknya kecil itu membutuhkan tujuh tahun kerja. Pertama, para peneliti mempelajari perkembangan paruh pada embrio ayam dan emu, dan perkembangan moncong pada embrio penyu, buaya, dan kadal.

Kemungkinan jutaan tahun yang lalu, burung dan reptil memiliki jalur perkembangan serupa yang memberi mereka moncong. Namun seiring waktu, perubahan molekuler menyebabkan perkembangan paruh pada burung, kata para peneliti.

Sulit bagi para ilmuwan untuk membandingkan embrio hewan-hewan masa kini, seperti buaya. Sebab, mereka harus menemukan peternakan yang membesarkan hewan-hewan tersebut.

Salah satu pekerjaan molekuler adalah menentukan dengan tepat jalur perkembangan mana yang berbeda, bagaimana mereka berbeda dan apa yang mengendalikannya.

"Pekerjaan molekuler dapat memakan waktu berjam-jam dan ratusan eksperimen untuk beberapa yang berhasil. Ini sama seperti penemuan fosil," kata Bhart-Anjan Bhullar, peneliti utama studi tersebut yang merupakan ahli paleontologi dan ahli biologi perkembangan di University of Chicago dan University of Yale.

Untuk 'penemuan fosil' mereka, para peneliti membutuhkan catatan fosil burung dan nenek moyang mereka yang ekstensif untuk melihat seperti apa burung pada berbagai tahap evolusi mereka.

"Anda harus memahami apa yang Anda lacak sebelum mencoba melacaknya," ucap Bhullar.

Bersama Arkhat Abzhanov, seorang ahli biologi perkembangan di Harvard University, dan rekan-rekan satu tim mereka, Bhular berfokus pada dua gen yang aktif dalam perkembangan wajah. Setiap gen mengkode protein, tetapi protein yang melakukan kerja gen menunjukkan aktivitas yang berbeda dalam perkembangan embrio ayam dan reptil modern.

Ketika para peneliti memblokir aktivitas kedua protein ini pada ayam, burung mengembangkan struktur yang menyerupai moncong, bukan paruh.

Dan kemudian ada temuan tak terduga yang mengungkap tugas kompleks yang dihadapi, yakni ketika tim peneliti itu mengubah paruh embrio ayam menjadi moncong, mereka juga secara tidak sengaja mengubah langit-langit mulut ayam tersebut.

Jadi, dengan mengubah paruh ayam, para peneliti juga mengubah langit-langit mulutnya. Ketika para peneliti kembali ke catatan fosil, mereka menemukan bahwa moncong dan tulang palatine atau langit-langit mulut unggas tampak berubah bersama sepanjang evolusi.

Misalnya, fosil makhluk mirip burung berusia 85 juta tahun yang memiliki gigi dan paruh primitif juga memiliki langit-langit mulut mirip burung, kata mereka.

Kini tim Horner saat sedang berusaha menciptakan ayam berekor panjang. Bisa dibilang, ini adalah bagian paling rumit dari membuat seekor dino-chicken.

Misalnya, mereka perlu menyaring gen-gen pada tikus untuk menentukan jenis jalur genetik apa yang menghalangi perkembangan ekor. Pengetahuan ini dapat membantu mereka mengetahui cara mengaktifkan pertumbuhan ekor, katanya.

Secara teoritis, upaya mengubah struktur tubuh ayam ini tampak mungkin. Meski demikian, Bhullar mengatakan bahwa ke depan tim peneliti masih harus merihat bagaimana seekor ayam akan bereaksi terhadap keberadaan ekor, lengan, jari, dan gigi pada tubuhnya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA