Jaga Etika dan Emosi Saat Berkendara di Jalan Raya

IN
Oleh inilahcom
Jumat 16 Juli 2021
share
 

SETIAP hari banyak orang yang berkutat di jalan raya dan seringkali terjadi salah paham yang berujung pada keributan antar pengguna kendaraan. Itu sebabnya ketika berkendara Anda harus memahami aturan yang berlaku dan juga etika berkendara itu sendiri.

Kesadaran untuk berkendara yang baik dan benar harus tumbuh dari diri sendiri. Ketika pengendara lain berlaku agresif di jalanan, tak perlu ikut terpancing. Tetap berkendara dengan aman demi keselamatan Anda. Ingat bahwa Anda bertanggung jawab atas keselamatan Anda sendiri.

Di jalan raya, segala kemungkinan bisa terjadi, karena kita sebagai pengguna jalan juga berbagi dengan orang lain. Pastinya dalam perjalanan Anda pernah bertemu dengan orang yang baru mendapat masalah di jalan raya sehingga emosinya labil. Atau kemungkinan terburuk bertemu dengan pengemudi mabuk. Untuk itu, ada baiknya Anda mengalah untuk menang.

Etika berkendara merupakan peraturan yang tidak tertulis dan seharusnya dipatuhi bersama pengguna jalan. Tapi pada kenyataannya, tidak semua bisa menerapkan etika berkendara dengan baik. Misalnya ada yang dengan mudahnya membunyikan klakson di jalan raya padahal sebenarnya hal itu tidak baik untuk dilakukan kecuali memang sifatnya darurat.

Jangan sampai hanya hal sepele karena membunyikan klakson yang mengganggu pengendara lain, malah jadi panjang urusannya.

Kemudian juga sesama pengguna jalan sudah sepatutnya menghormati satu sama lain. Menghormati di sini salah satunya dengan cara mempersilahkan pengemudi lain untuk mendahului kendaraan Anda jika kendaraan sedang dalam mode lambat, atau mendahului kendaraan lain jika memang kondisinya memungkinkan.

Adab atau etika pengemudi di jalan juga berkaitan erat dengan menjaga keselamatan orang lain, seperti misalnya tidak menggunakan ponsel selama berkendara dan selalu mematuhi peraturan lalu lintas. Seperti mematuhi batas kecepatan yang berlaku di jalan tol agar tak terjadi tabrakan.

Sebagai contoh, jika ada aturan kecepatan maksimal 100 km/jam, maka patuhilah peraturan itu. Ketika semua pengguna jalan tol mematuhi peraturan yang sama, kemungkinan terjadinya kecelakaan dapat diminimalisir.

Urusan mengemudi kendaraan di jalan raya itu bukan cuma urusan kemampuan teknis. Sebetulnya skill mengemudi itu hanya berperan 10 persen dalam soal keselamatan di jalan raya, sisanya yang 90 persen justru soal emosi.

Di sinilah peran dari defensive driving mengambil alih. Rifat Sungkar yang merupakan Brand Ambassador Mitsubishi Motors di Indonesia menjelaskan bahwa defensive driving merupakan teknik mengemudi yang mengutamakan pencegahan terhadap terjadinya berbagai kemungkinan buruk, ini artinya juga kesediaan berbagi di jalan raya.

Mulai dari pejalan kaki sampai pengemudi truk dan bus harus dihormati. Menurut Rifat, defensive driving juga mengajarkan pengemudi untuk mengelola emosinya dan tak mudah terpancing perilaku pengemudi lain.

"Perilaku mengemudi tanpa emosi berlebihan ini seharusnya mulai diterapkan sehari-hari oleh semua pengguna jalan. Contoh mudahnya adalah tidak membunyikan klakson mobil secara berlebihan karena suara klakson dapat menjadi polusi suara bagi para pengguna jalan lain," jelas Rifat.

"Selain itu akan lebih baik juga Anda mau berhenti sebentar memberikan kesempatan pada pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan," lanjut pria 42 tahun yang juga pembalap nasional ini.

Kemacetan juga sering memicu kelelahan dan jadi tak sabar. Meski begitu Anda bisa menjadi pengendara yang lebih sabar dengan tidak berpindah-pindah lajur atau menyerobot jalur kendaraan lain.

"Tetap akan sampai tujuan kok, bonusnya malah kita jadi lebih positif dan tak mengganggu pengguna jalan lain," ujar Rifat.

"Jalan raya juga bisa mendatangkan pahala loh, caranya mudah, cukup dengan menjaga lisan. Misalnya bila mobil Anda tersenggol kendaraan lain, yuk coba untuk tak mengumpat. Kadang kata-kata dapat berujung pada permasalahan yang lebih besar," imbuhnya.

Usahakan saat berkendara dengan mental dan pikiran yang positif, karena dengan begini tubuh lebih cenderung tidak mudah lelah.

"Jika badan tidak lelah maka emosi bisa diredam sehingga perjalanan Anda pun jadi menyenangkan dan tidak merugikan orang lain," tutup ayah dari dua putra ini.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA