90% Bahan Baku Obat Indonesia Impor

DK
Oleh Dahlia Krisnamurti
Jumat 11 Mei 2012
share
inilah.com/Agus Priatna

INILAH.COM, Jakarta -Kondisi bahan baku obat di Indonesia amat memprihatinkan, karena 90% masih impor dari negara lain, yakni Cina dan India.


Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof Dr Ali Gufron Mukti mengatakan hal itu saat membuka Convention on Pharmaceutical Ingredients Southeast Asia (CPhI SEA), pameran bahan baku obat terbesar di ASEAN, di Jakarta International Expo.

"Kondisi ini jika tidak segera diatasi bisa membuat ketersediaan obat menjadi masalah," kata Ali Gufron.

Karenanya, sebelum ada Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 2014, Indonesia harus mampu membuat sendiri. Pada 2014 lebih dari 63% akan ditanggung asuransi yang nantinya mencakup universal 100 persen.

Pada pembukaan pameran yang berlangsung hingga 12 Mei, Ali Gufron menjelaskan, ajang pameran semacam CPhI itu penting bagi produsen obat dan produsen bahan baku obat untuk berkomunikasi dalam menjamin ketersediaan obat.

"Permintaan obat selalu meningkat. Kita harus jamin ketersediaan. Akses terhadap obat merupakan tanggung jawab pemerintah. Termasuk ketersediaan material sebagai bahan baku obat," jelas Ali Gufron.

Menurut Ali Gufron, beberapa upaya yang ditempuh pemerintah dalam rangka memastikan ketersediaan obat, di antaranya membangun jaringan dengan perusahaan bahan baku obat maupun menarik investasi untuk memproduksi bahan baku obat mandiri.

Penerapan BPJS bidang kesehatan akan meningkatkan konsumsi obat. Namun pemerintah menjamin akan dapat terpenuhi mengingat produksi obat dalam negeri saat ini telah mencapai 90 persen, meskipun 96% bahan bakunya masih diimpor.

Sulitnya memenuhi kebutuhan bahan baku dalam negeri disebabkan Indonesia belum mampu membuat bahan baku yang lebih murah dan bagus. Untuk berusaha mengembangkan industri farmasi dan melindungi konsumen, saat ini pemerintah berupaya mengatur harga peredaran obat dan mengembangkan persediaan bahan baku obat lokal.

"Indonesia sebagai pangsa pasar yang sangat bagus bagi pengembangan obat. Terutama karena target universal coverage pada 2014 nanti adalah seluruh masyarakat Indonesia harus bisa mengakses layanan kesehatan dengan mudah dan murah. Maka, ketersediaan obat yang murah dan efektif adalah salah satu keharusan," ujarnya.

Di sisi lain, Indonesia dinilai sudah mampu memenuhi kebutuhan obat generik dalam negeri, meski masih harus mengimpor bahan baku. Dengan menyediakan obat murah, pemerintah berharap bisa menghapus stigma 'orang miskin dilarang sakit'.

"Dulu, orang miskin dilarang sakit di Indonesia. Namun saat ini sudah boleh karena penduduk miskin dan pra miskin akan tercakup dalam jaminan kesehatan masyarakat," tegas Ali Gufron. [mor]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA