Konsumsi Buah, antara Selingan atau Kebutuhan?

DK
Oleh Dahlia Krisnamurti
Jumat 11 Mei 2012
share
IST

INILAH.COM, Jakarta - Bagi sebagian orang, konsumsi buah terkadang dijadikan selingan bukan suatu kebutuhan. Padahal tubuh kita amat membutuhkan semua vitamin, mineral, dan serat yang terkandung di dalam buah.

"Kita harus segera mengubah pola pikir yang menganggap bahwa buah menjadi pilihan. Jika tidak mengkonsumsi buah tidak ada efek sampingnya," kata pakar nutrisi Emilia E. Achmadi, di Jakarta.

Emilia menjelaskan, kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya mengkonsumsi buah sangat kurang. Padahal, dengan mengonsumsi buah-buahan dengan porsi cukup, dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian.

"Karenanya, diharuskan adanya perubahan pola pikir masyarakat akan seberapa penting mengkonsumsi buah bagi kesehatan manusia," jelas Emilia.

Konsumsi buah, sambung Emilia, sebaiknya tidak disajikan dengan cara dimasak. Pasalnya, komposisi vitamin B kompleks dan C pada buah sangat tidak kuat dengan panas dan paparan cahaya.

"Jadi, semakin lama buah dipanaskan maka semakin banyak kandungan nutrisi yang hilang," ungkapnya

Ideal konsumsi buah per hari

Kewajiban mengkonsumsi buah ini sifatnya mutlak, karena ada batas minimal buah yang harus disantap untuk memenuhi kebutuhan tubuh setiap hari.

"Menurut penelitian, sembilan dari 10 orang di Indonesia tidak mengonsumsi buah dalam jumlah yang tepat, sehingga masih kurang mencukupi kebutuhan tubuh akan buah," tambah Emilia.

Penelitian yang dilakukan oleh United States Departement of Agriculture (USDA) menyebutkan, kebutuhan buah dalam tubuh manusia ini terus meningkat.

Pada 1989-2000 lalu, USDA merekomendasikan untuk mengonsumsi sekitar 3-5 buah per hari agar kebutuhan serat tercukupi. Namun seiring perkembangan waktu, situasi, dan kondisi alam sekitar, kebutuhan buah dalam satu hari semakin meningkat.

Menurut Emilia, faktor gaya hidup dan kebiasaan seseorang juga memungkinkan adanya penambahan jumlah asupan buah sehari-hari.

"Gaya hidup yang kurang sehat, diet ketat yang tidak terpenuhi keseimbangan gizinya, polusi, sampai merokok, menyebabkan antioksidan yang dibutuhkan tubuh untuk menangkal radikal bebas semakin meningkat," urai Emilia. [mor]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA