Pengaduan Marak

Obat & Makanan 'Beracun' Mewabah di Indonesia

DK
Oleh Dahlia Krisnamurti
Selasa 30 Oktober 2012
share
Foto: Ilustrasi

INILAH.COM, Depok - Orang tua, khususnya kaum ibu diimbau terus mewaspadai konsumi makanan, minuman, dan obat-obatan yang mengandung zat beracun seperti boraq dan rhodamin.

Pasalnya, selain memicu timbulnya penyakit yang berbahaya mulai dari infeksi, diare hingga kanker, tingkat pengaduan akan maraknya makanan yang mengandung zat beracun tersebut kian hari terus meningkat.

Kepala Sub Layanan Pengaduan Konsumen Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dra Nining Restu Kurnianingsih, Apt.,Msi mengatakan, sepanjang 2011 saja ada 11.276 pengaduan terkait makanan, minuman, obat dan kosmetik yang dilayangkan kepada ULPK di masing-masing BPOM provinsi.

"Hal itu menandakan dua hal. Pertama masih banyaknya makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetik yang mengandung zat berbahaya serta semakin tingginya tingkat kesadaran masyarakat untuk mengadukan masalahnya ke ULPK," jelas Nining saat sosialisasi Sistem Pengawasan Obat dan Makanan (Sispom) dan Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) di SMPN 4 Depok, Jawa Barat, Selasa (30/10).

Menurut Nining, pengaduan paling banyak masih pada makanan. Jumlahnya mencapai 51 persen dari 11.276 pengaduan sepanjang 2011 lalu. "Khususnya jajanan sekolah. Survey dua tahun lalu menyatakan lebih dari 60 persen jajanan anak sekolah mengandung zat berbahaya seperti borak, rodhamin dan pewarna berbahaya lainnya. Sekarang sudah berkurang, tapi tidak signifikan," jelasnya.

Untuk itu pihaknya merasa perlu terus menerus melakukan sosialisasi kepada sekolah-sekolah, orang tua murid serta guru-guru agar lebih memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi anak-anak. "Kalau bisa orang tua membawakan bekal makanan dan minuman bagi anak-anaknya. Buatan orang tua pasti lebih higienis," ujar dia.

Selain di Jakarta dan sekitarnya, sosialisasi Sispom dan ULPK juga serentak dilakukan di seluruh badan POM daerah, mulai dari Aceh sampai Papua. "Kami juga akan menginstruksikan agar badan POM di daerah lebih aktif melakukan pengawasan terhadap produsen dan pasar. Jangan sampai masyarakat dirugikan hanye karena ingin meraup untung besar," tegas Nining.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA