Apakah E-Rokok Lebih Berbahaya dari Rokok Kretek?

SM
Oleh Sarah Meida
Jumat 23 Januari 2015
share
(Foto: Dailymail)

INILAHCOM. London -- Tes laboratorium menunjukan mengkonsumsi rokok elektronik tertentu, dan dalam suhu tinggi, lebih berbahaya dibanding menghisap rokok tradisional.

Rokok elektronik, demikian hasil penelitian yang dipublikasikan dailymail.co.uk, melepaskan formaldehida -- bahan kimia penyebab kanker.

Namun, penelitian ini tidak membuktikan adanya risiko kesehatan, dan pengujian hanya melibatkan pada merk rokok elektronik tertentu dan dilakukan dalam tabung uji, bukan orang.

Ini juga tidak berarti e-rokok lebih baik atau lebih buruk darirokok biasa. Asap tembakau mengandung puluhan hal-hal yang dapat menyebabkan kanker.

Penelitian hanya menyoroti sedikit yang diketahui tentang keamanan rokok elektronik, perangkat bertenaga bateri cair panas untuk mengirim nikotin uap.

Stephen Hecht, salah satu ahli independent dan ahli kimia peneliti tembakau Universitas Minnesota mengatakan; "Ini potensi bendera merah."

"Dalam beberapa kondisi, e-rokok mungkin menghasilkan formaldehida lebih, dan kita belum cukup tahu, " lanjutnya. "Ada berbagai hal dalam susunan rokok ini dan bagaimana mereka digunakan."

Studi ini dipublikasikan sebagai surat di New England Journal of Medicine.

Formaldehyde ditemukan dalam banyak hal; bahan bangunan tertentu, desinfektan, dan cairan pembalseman. Studi sebelumnya menemukan e-rokok yang menghasilkan sedikit formaldehida daripada rokok biasanya, tetapi studi itu hanya melihat bagian gas uap saja.

Beberapa sistem pembuangan e-rokok membiarkan pengguna memunculkan tegangan untuk meningkatkan panas dan jumlah cairan yang mengandung nikotin dan perasa dalam uap.

David Peyton, seorang ahli kimia di Universitas Portland State, dan rekan-rekannya menguji satu merek dengan dua pengaturan tegangan. Mereka menggunakan jarum suntik untuk mengumpulkan uap dari 10 sampel, masing-masing mewakili beberapa tiupan.

Mereka mengukur formaldehida hemiasetal, senyawa yang diciptakan selama proses vaping yang dalam kondisi tertentu dapat melepaskan formaldehida, di bagian uap cair.

Pada tegangan rendah kimia ini tidak terdeteksi. Tetapi pada pengaturan tegangan tinggi, tingkat senyawa yang lima sampai 15 kali lebih besar terdeteksi. Jumlah senyawa itu lebih tinggi dari rokok tradisional.

"Hampir semua e-rokok menggunakan bahan yang sama dalam cairan panas, sehingga temuan pada formaldehida 'bukanlah tergantung merek," kata Peyton, yang berencana meluaskan tesnya.

Namun, Gregory Conley -- seorang pengacara Amerika Vaping Association -- mengkritik metode penelitian. "Mereka menggunakan perangkat dengan cara yang tidak seorang pun melakukannya," katanya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA