Vaksin Virus (2019-nCOV) Belum Ada

MU
Oleh Mia Umi Kartikawati
Kamis 06 Februari 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, DR. Dr. Erlina Burhan, Msc, SP.P(K) menekankan, hingga saat ini vaksin virus (2019-nCOV) belum ada.

"Mengapa belum ada? Karena membuat vaksin itu tidak mudah. Butuh waktu yang lama dan rumit," kata Erlina saat ditemui di acara media edukasi Pentingnya kebersihan diri dan savuran pernapasan untuk cegeh dan putus rantai infeksi virus corona yang didukung oleh Mundipharma, Jakarta, Kamis, (06/02/2020).

Senada dengen hal tersebut, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR Jika pneumonia lain dapat dicegah dengan vaksinasi, seperti vaksin pneumokokus/PCV, vaksin penumokokus PPSV23 dan vaksin Hib, pneumonia yang disebabkan oleh Novel Coronavirus (2019-nCOV) belum ada vaksinnya karena merupakan coronavirus jenis baru.

"Sehingga upaya yang paling direkomendasikan saat ini adalah kebersihan diri dan mengikuti travel advice yang disarankan oleh PDPI," kata Agus.

DR. Dr. Erlina Burhan, Msc, SP.P(K) dalam paparannya menyampaikan, gejala yang ditimbulkan dari pneumonia yang disebabkan oleh Novel Coronavirus (2019-nCOV) hampir mirip dengan selesma/common cold dan influenza.

"Sakit kepala, batuk, dan bahkan menimbulkan sesak nafas yang dapat menyebabkan kematian. Virus ini disebarkan melalui kontak erat dan droplet atau cairan dari penderita. Daya jangkau cairan hanya 1 1,8 meter untuk bisa menularkan virus ini. Masa inkubasi (periode mulai individu terpapar virus hingga menunjukkan gejala klinis/keluhan) adalah 2 14 hari," tambah Erlina.

Virus ini terhirup melalui hidung, kemudian saluran pernafasan atas dan paru-paru.

"Sehingga penting untuk menjaga kebersihan diri dan saluran pernapasan untuk cegah dan putus rantai infeksi virus corona. Hingga saat ini belum ada vaksin dan pengobatan khusus untuk menangani virus baru ini. Novel Coronavirus (2019-nCOV) ini memiliki struktur DNA /genetik yang hampir serupa dengan MERS dan SARS," ujarnya. (tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA