Ini Sebab Angka Kematian DBD di NTT Meningkat

MU
Oleh Mia Umi Kartikawati
Rabu 11 Maret 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, angka kematian Demam Berdarah (DBD).

Kementerian Kesehatan secara resmi merilis data jumlah kasus demam berdarah (DBD) di Indonesia per 11 Maret 2020 dengan jumlah kasus DBD saat ini menyentuh angka 17.820 kasus.

Ada beberapa faktor yang memicu tingginya kasus DBD di NTT. Salah satunya berkaitan erat dengan letak geografis daerah tersebut.

"Akses air bersih memang agak sulit di NTT, karena memang letak geografianya. Jadi pada saat kami asistensi di sana, banyak tempat-tempat perindukan nyamuk yang berasal dari timbunan air warga. Mereka terpaksa menimbun air untuk masak dan keperluan rumah tangga lainnya," papar Siti Nadia Tarmizi, di Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Rabu, (11/03/2020).

Selain itu, di wilayah NTT juga terdapat banyak semak-semak dan iklim yang lembab. Masih menurut Siti Nadia hal ini, menjadi sarang nyamuk aedes aegypti untuk berkembang biak.

Kemudian, kebiasaan warga setempat yang terbiasa menimbun botol bekas di belakang rumah.

"Dibandingkan tahun lalu, tahun ini angka kematian di NTT relatif tinggi mencapai 32 orang dari total 104 kematian. Tahun lalu hanya ada 580 kasus dengan angka kematian 17 orang," tambahnya.

Perlu diketahui, provinsi Lampung menduduki peringkat pertama dengan jumlah kasus mencapai 3.431, kemudian disusul Nusa Tenggara Timur dengan jumlah 2.732 kasus.

Pemerintah Provinsi NTT menetapkan kasus demam berdarah ini sebagai Kasus Luar Biasa (KLB) sejak empat minggu lalu.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA