Tangkal Virus COVID-19

Lima Alasan Bilik Disinfektan Tak Boleh Digunakan

MU
Oleh Mia Umi Kartikawati
Rabu 01 April 2020
share
(Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Berbagai tempat di Indonesia mulai memasang bilik disinfeksi untuk mensterilkan tubuh guna mencegah penyebaran COVID-19.

Tetapi, WHO justru tidak merekomendasikan penggunaan bilik disinfeksi karena belum diketahui pasti efektivitasnya dalam mengendalikan penyebaran COVID-19.

Hal ini juga berlaku pada penyemprotan disinfektan ke jalan. Selain itu, alkohol atau klorin berbahaya jika terkena mata dan mulut.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga merujuk pernyataan WHO tersebut.

Seperti informasi yang didapatkan dari Kalbe, Jakarta, Rabu, (01/04/2020), bahan aktif dan produk rumah tangga yang digunakan untuk disinfeksi benda (misalnya sodium hipoklorit, hidrogen peroksida, dan turunan alkohol) tidak boleh mengenai mata dan kulit.

Sebagai contoh, mata akan perih jika terkena alkohol 60 persen dan pencampuran berbagai bahan aktif berpotensi menimbulkan efek karsinogenik bagi tubuh.

Dapat dikatakan bahwa maraknya pemasangan bilik disinfeksi hanya fenomena psikologis semata.

Hingga kini, belum ada penelitian yang membuktikan efektivitas dan keamanan bilik disinfeksi dalam mencegah COVID-19.

Pemerintah, institusi, dan masyarakat hendaknya kritis mengenai hal ini. Maka, langkah tepat untuk menjaga tubuh tetap bersih dan steril adalah sering cuci tangan dengan sabun, mandi, dan ganti pakaian yang bersih.

Kenapa Bilik Disinfeksi Tidak Direkomendasikan?

1. Penggunaan disinfektan seharusnya hanya untuk permukaan benda mati, bukan untuk diaplikasikan langsung pada manusia.

2. Dampak paparan uap/mist disinfektan akan semakin besar pada orang yang lebih rentan seperti memiliki kulit sensitif, mata sensitif (mudah berair), atau menderita asma. Orang dengan kondisi tersebut Dilarang dan Berhak Menolak untuk menggunakan Bilik Disinfeksi.

3. Efektifitas Disinfektan sangat dipengaruhi oleh konsentrasi & waktu kontak. Pada penggunaan Bilik Disinfeksi, konsentrasi dan waktu kontak disinfektan sangat dibatasi sehingga hasilnya menjadi tidak efektif.

4. Untuk operasional Bilik Disinfeksi, diperlukan konsumsi disinfektan dalam jumlah besar yang saat ini suplainya semakin terbatas dan harganya cenderung meningkat.

5. Untuk meminimalisir potensi penularan, WHO & Kemenkes hanya merekomendasikan untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat dan physical distancing.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA