Cegah COVID-19, Batasi Konsumsi Gula, Garam, Lemak

MU
Oleh Mia Umi Kartikawati
Rabu 22 April 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Dalam menghadapi pandemi COVID-19, masyarakat juga harus terus memperhatikan asupan konsums Gula, Garam, dan Lemak (GGL).

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Sedunia pada bulan April ini, Nutrifood kembali mendukung Kementerian Kesehatan RI dan Badan POM RI mengedukasi masyarakat Indonesia terkait pentingnya membatasi konsumsi GGL (Gula, Garam, Lemak) serta mencermati informasi nilai gizi pada kemasan makanan dan minuman, khususnya pada masa pandemi COVID-19 ini.

Kegiatan edukasi diadakan dalam bentuk media workshop online, dengan tujuan untuk menginspirasi masyarakat menjalani hidup sehat dan menghindari risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes, serta untuk mengedukasi penyandang diabetes mengenai risiko komplikasi serius di tengah pandemi virus corona (COVID-19).

Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular, Kesehatan Jiwa dan NAPZA, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Endang Sri Wahyuningsih, MKM menjelaskan, berdasarkan Riskesdas Tahun 2018, prevalensi penyandang Diabetes Melitus di DKI Jakarta sebesar 3,4 persen.

Jumlah ini meningkat dibandingkan data Riskesdas 2013, yaitu 2,5 persen. Angka ini berada di atas prevalensi nasional.

"Peningkatan jumlah penyandang diabetes ini sangat erat kaitannya dengan gaya hidup tidak sehat. Salah satunya adalah konsumsi GGL (Gula, Garam, Lemak) yang berlebih dan kurang mencermati informasi nilai gizi pada kemasan pangan olahan," kata Endang Sri Wahyuningsih, Jakarta, Rabu, (22/04/2020).

Masih menurut dr. Endang, sebagai bagian dari pola hidup sehat untuk mencegah prediabetes maupun diabetes, konsumsi GGL per individu harus dibatasi, yaitu 50 gram gula atau empat sendok makan gula per hari; lima gram garam atau satu sendok teh garam per hari; dan 67 gram lemak atau lima sendok makan lemak per hari.

"Selain membatasi konsumsi GGL, masyarakat juga harus mencermati informasi nilai gizi pada kemasan pangan olahan supaya asupan nutrisi harian tidak berlebih," tambahnya.

Direktur Standardisasi Pangan Olahan Badan POM, Dra. Sutanti Siti Namtini Apt, Ph.D memaparkan, produk pangan olahan yang sudah mendapatkan izin edar Badan POM wajib mencantumkan informasi nilai gizi, dengan tujuan agar masyarakat dapat memilih asupan yang sesuai dengan kebutuhan gizinya demi menjaga kesehatan tubuh.

"Informasi nilai gizi yang harus diperhatikan oleh masyarakat terdiri dari takaran sajian per kemasan, energi total per sajian, zat gizi yang terdiri dari lemak, protein, karbohidrat, zat gizi mikro dan persentase AKG (Angka Kecukupan Gizi). Masyarakat perlu memperhatikan kandungan zat gizi yang ada dalam produk, kemudian konsumsi sesuai kebutuhan (zat gizi apa yang harus dibatasi atau yang harus dipenuhi) untuk masing-masing individu," kata Sutanti.

Selain untuk individu yang sehat (belum terdiagnosa prediabetes maupun diabetes), anjuran batasi konsumsi GGL dan cermati informasi nilai gizi juga berlaku untuk penyandang diabetes, terutama di tengah pandemi COVID-19 yang saat ini sedang mewabah di Indonesia.

Lebih lanjut dr. Endang menuturkan, "Pada kondisi saat ini di mana COVID-19 sangat mudah menyebar dan menginfeksi, Kementerian Kesehatan RI menganjurkan penyandang diabetes untuk mengonsumsi nutrisi rendah GGL.

"Pasalnya, orang dengan diabetes memiliki kadar gula yang tidak terkontrol, sehingga amat rentan mengalami komplikasi serius jika positif terinfeksi COVID-19, bahkan dapat berakibat fatal," ujar Endang.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA