https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   04 September 2020 - 18:37 wib

Ada 83 Persen Nakes Indonesia Keletihan Mental

INILAHCOM, Jakarta - Selain keselamatan dan perlindungan dari infeksi, risiko lain sangat berpotensi mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas pelayanan tenaga kesehatan adalah mental termasuk risiko burnout syndrome.

Penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Program Studi Magister Kedokteran Kerja – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menunjukkan ternyata sebanyak 83 persen tenaga kesehatan di Indonesia telah mengalami burnout syndrome atau keletihan mental derajat sedang dan berat yang secara psikologis sudah berisiko mengganggu kualitas hidup dan produktivitas kerja dalam pelayanan kesehatan.

Menurut Ketua Tim Peneliti Dr. dr. Dewi Soemarko, MS, SpOK, penelitian ini juga menemukan fakta bahwa Dokter Umum di Indonesia yang menjalankan Tugas Pelayanan Medis di garda terdepan selama Masa Pandemi COVID-19 memiliki risiko 2 kali lebih besar untuk mengalami burnout syndrome.

“tingginya risiko menderita burnout syndrome akibat pajanan stres yang luar biasa berat di fasilitas kesehatan selama pandemik ini dapat mengakibatkan efek jangka panjang terhadap kualitas pelayanan medis karena para tenaga kesehatan ini bisa merasa depresi, kelelahan ekstrim bahkan merasa kurang kompeten dalam menjalankan tugas, dan ini tentu berdampak kurang baik bagi upaya kita memerangi COVID-19,” kata Dr Dewi, Jakarta, Jumat, (04/09/2020).
 
Menurut Tim Peneliti dari Prodi Magister Kedokteran Kerja yang terdiri dari Dr. dr. Ray W Basrowi, MKK; dr. Levina Chandra Khoe, MPH dan dr. Marsen Isbayuputra, SpOK temuan lain yang juga sangat mengkhawatirkan adalah:

Sekitar 83 persen tenaga kesehatan mengalami burnout syndrome derajat sedang dan berat.

Sekitar 41 persen tenaga kesehatan mengalami keletihan emosi derajat sedang dan berat, 22 persen mengalami kehilangan empati derajat sedang dan berat, serta 52 persen mengalami kurang percaya diri derajat sedang dan berat.

Dokter yang menangani pasien COVID-19, baik dokter umum maupun spesialis, berisiko 2 kali lebih besar mengalami keletihan emosi dan kehilangan empati dibandingkan mereka yang tidak menangani pasien COVID-19

Bidan yang menangani pasien COVID-19 berisiko 2 kali lebih besar mengalami keletihan emosi dibandingkan mereka yang tidak menangani pasien COVID-19

Masih ada tenaga kesehatan 2 persen yang tidak mendapatkan alat pelindung diri (APD) dari fasilitas kesehatannya.

Sekitar 75 persen fasilitas kesehatan tidak melakukan pemeriksaan swab rutin dan 59% tidak melakukan pemeriksaan rapid test rutin bagi tenaga kesehatannya.

Hasil penelitian ini merekomendasikan bahwa selain aspek proteksi keselamatan dan kesehatan fisik, manajemen rumah sakit, fasilitas kesehatan dan pemerintah harus mulai memprioritaskan aspek intervensi kesehatan mental seperti pendampingan dan konseling psikologis untuk tenaga kesehatan terutama yang bertugas selama masa pandemik ini.

Aspek lain yang juga harus di lakukan adalah menciptakan suasana aman dan nyaman bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan fungsi medis dengan menerapkan prinsip kedokteran okupasi yang komprehensif. 

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB menyatakan bahwa penelitian ini merupakan salah satu bentuk kontribusi dari FKUI untuk pemerintah dalam hal membantu mengidentifikasi potensi risiko masalah kesehatan pada tenaga medis di Indonesia di masa pandemi.

“Berbagai temuan dari penelitian ini bisa menjadi sumber rekomendasi untuk strategi intervensi proteksi dan peningkatan kualitas kesehatan tenaga medis Indonesia agar maksimal dalam menjalankan tugas pelayanan medis tetapi juga tetap sehat,” kata Ari. (tka)

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Belum Bayar Insentif Nakes, 10 Bupati-Walikota Kena Tegur

Sebanyak 10 bupati dan wali kota di Indonesia mendapat teguran langsung oleh Menteri Dalam Negeri (M
berita-headline

Kanal

Jangan Kendor Melawan COVID-19, Empati Swasta Bergerak Bantu Tenaga Kesehatan

Tak ada yang tahu kapan pandemi COVID-19 berakhir. Namun, ada kabar baik bahwa penyebaran Virus C
berita-headline

Empati

Cerita Nakes Usai Vaksin Booster

Tenaga kesehatan (Nakes) menjadi orang yang pertama berhadapan langsung dengan pasien terkonfirma
berita-headline

Inersia

Sedih Tak Dianggap Pahlawan, Nakes Malah Jadi Korban Serangan KKB

Ratusan tenaga kesehatan (nakes) menggelar aksi long march dan bakar seribu lilin di sepanjang Ja
berita-headline

Viral

Pembayaran Insentif Nakes Hingga Rp7,4 Triliun

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, sudah merealisasi pembayaran insentif Tenaga