Penting, Pengetahuan Masyarakat Tentang Susu

MU
Oleh Mia Umi Kartikawati
Kamis 17 September 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Ketua bidang advokasi Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Yuli Supriati mengungkapkan, saat melakukan edukasi gizi, tak jarang mendapati anak-anak yang masih mengkonsumsi kental manis.

"Awal September ini, saat kami bersama PP Aisyiyah melakukan penelitian mengenai persepsi masyarakat mengenai kental manis dan kaitannya dengan gizi buruk, di desa Parung, Kab Bogor, ada 5 anak dari 3 keluarga yang mengkonsumsi kental manis sehari-hari. Mereka mengatakan mereka minum susu. Orang tua mengaku tidak tahu cara penggunaan kental manis yang tepat, mereka pikir kental manis adalah susu untuk anak," jelas Yuli, seperti yang dikutip dari siaran pers, Jakarta, Kamis, (17/09/2020).

Peraturan BPOM No 31 Tahun 2018 tentang label pangan olahan, yang juga memuat aturan tentang produk kental manis sudah memasuki tahun keduanya. Artinya, tinggal 1 tahun lagi batas waktu penyesuaian yang diberikan BPOM terhadap produsen kental manis.

Diantara yang diatur terkait kental manis dalam peraturan tersebut adalah label bahwa kental manis bukan untuk usia dibawah 12 bulan, dilarang menampilkan visual anak-anak dan susu di dalam gelas pada label dan iklan serta kental manis bukan sebagai sumber gizi tunggal.

Sayangnya, hingga saat ini belum terlihat langkah konkrit pemerintah dalam mensosialisasikan kepada masyarakat bagaimana seharusnya penggunaan kental manis.

Hal itu terlihat dari masih banyaknya anak-anak, balita bahkan bayi berusia dibawah 12 bulan yang mengkonsumsi kental manis sebagai asupan nutrisi harian mereka.

Kepala UPT Puskesmas Parung, dr Dini Sri Agustin mengakui, pengetahuan tentang susu tidak termasuk dalam materi penyuluhan Posyandu di wilayah yang menjadi binaan Puskesmas Parung.

"Materi penyuluhan untuk posyandu baik untuk kader maupun masyarakat itu kan ada standarnya, disusun oleh Promkes. Memang tidak ada penjelasan tentang susu karena kita mendorong ASI ekslusif," jelas Dini.

Meski demikian, Dini menyadari pentingnya pengetahuan masyarakat mengenai susu agar tidak terjadi kesalahan persepsi, seperti yang terjadi pada kental manis. Sebab, susu bukan satu-satunya asupan yang wajib dikonsumsi balita dan anak-anak. Telur, tahu dan tempe misalnya, dapat menjadi asupan tinggi protein yang baik untuk tumbuh kembang anak.

"Ini adalah masukan yang baik, bahwa memang penting disampaikan kepada masyarakat informasi tentang susu, agar tidak ada lagi yang memberikan kental manis untuk anak," ujar Dini.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA