Pandemi Covid-19

Hidup Sehat Kurangi Sampah

MU
Oleh Mia Umi Kartikawati
Senin 05 Oktober 2020
share
Istimewa

INILAHCOM, Jakarta - Pandemi Covid-19 memaksa untuk beradaptasi dan mulai menerapkan pola-pola hidup yang baru.

Ada kebiasaan yang baik dan patut dipertahankan bahkan setelah nanti pandemi telah selesai, namun ada juga yang seringkali luput dari perhatian kita tapi ternyata kurang baik atau kurang tepat bagi tubuh maupun lingkungan.

Richard Anthony, CEO dan Presiden Direktur Re.juve menjelaskan, salah satu perubahan besar yang dirasa ketika masa pandemi adalah frekuensi kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan yang berkurang secara drastis.

Padahal, kebutuhan tubuh akan nutrisi yang seimbang yang salah satunya didapat dari sayur dan buah-buahan segar justru semakin meningkat demi menjaga daya tahan tubuh secara maksimal.

"Di masa pandemi ini, penting bagi kita untuk terus meningkatkan konsumsi sayur dan buah-buahan segar berkualitas baik secara langsung ataupun produkproduk pengganti dengan kandungan nutrisi dan vitamin yang setara yang dibuat hanya dari 100 persen buah dan sayur segar tanpa tambahan apapun. Ini menjadi intisari dari pilar pertama Re.juve Cares, #GoodforYou, di mana kita ingin masyarakat lebih jeli dan bijaksana dalam memilih produk-produk yang baik dan tepat bagi tubuh. Hal ini menjadi sangat krusial, karena kita sedang berperang melawan pandemi, di mana senjata utama kita adalah daya tahan tubuh, yang ditopang oleh asupan makanan berkualitas," kata Richard Anthony saat webinar, Jakarta, Senin, (05/10/2020).

Hal lainnya yang juga ingin diketengahkan oleh Re.juve melalui kampanye ini adalah kepedulian terhadap sampah. Gerakan menuju nol sampah (towards zero-waste) memang menjadi motor utama kampanye.

Hal ini berangkat dari kekhawatiran akan semakin mendesaknya persoalan sampah, khususnya di Jakarta. Ajakan-ajakan untuk diet plastik sudah sering kita dengar, namun kesadaran akan tingginya produksi sampah organik harian di Jakarta kadang masih terabaikan. Padahal produksi harian sampah organik di Jakarta bahkan bisa mencapai 60 persen atau lebih tinggi dari sampah nonorganik.

Sebagai produk yang menggunakan buah dan sayuran segar, Re.juve juga tidak menampik, bahwa dalam produksi hariannya ada volume sampah organik yang cukup besar yang dihasilkan. Untuk itulah sejak Februari 2020 yang lalu, Re.juve bekerja sama dengan KOMPIS, untuk mengolah sampah buah dan sayuran sisa produksi menjadi maggot pakan ternak bernilai tinggi.

Meski setelah diolah sampah organik ini menjadi bernilai ekonomi, Re.juve memberikan sisa produksi tersebut secara cuma-cuma sebagai bentuk kontribusi perusahaan kepada masyarakat.

"Kami menyambut baik tawaran dari Re.juve untuk terlibat dalam pengolahan sampah organik menjadi maggot. Dengan mengirimkan secara langsung sampah organik dari Central Production Facility (CPF) di Cikupa ke fasilitas pengolahan maggot di Ciater, Tangerang Selatan, Re.juve telah membantu meniadakan proses pemilahan sampah yang memakan biaya tinggi, serta turut memberdayakan hingga tujuh warga sekitar untuk mengolah materi organik menjadi 50 kilogram maggot per hari dan mampu memberikan keuntungan kepada warga hingga Rp10.500.000,00/bulan," kata Emil Kaburuan, pendiri KOMPIS.

Tidak berhenti di hulu saja, atau memastikan proses produksi menuju bebas sampah, Re.juve juga berkomitmen untuk tidak menambah sampah plastik baru. Sejak Januari 2020 lalu, Re.juve telah mengubah seluruh kemasan botol plastik minuman Re.juve dengan 100 persen plastik Recycled-PET yang aman untuk makanan dan minuman. Selain itu, per April 2019, Re.juve telah melibatkan partisipasi konsumen untuk mengoptimalkan program Bring Back Your Empty Bottle.(tka)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA